Perniagaan sarang walet kembali marak. Harga jual meningkat.

Syahrani bersikukuh untuk melepas sarang walet dengan harga Rp10,5-juta per kg. Empat calon pembeli itu menawar berulang-ulang agar harga bisa turun. “Nanti pasti ada lagi yang datang mencari sarang,” ujar Syahrani, peternak walet di Samuda Kota, Kabupaten Waringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Benar saja, ketika malam beranjak, beberapa pembeli datang mencari sarang walet.
Syahrani bertahan dengan harga semula karena sebenarnya sarang itu telah dipesan oleh koleganya dari Bandung. Bila harga penawaran lebih tinggi, Syahrani boleh menjual sarang waletnya. Bisnis walet memang sedang marak saat ini. Di berbagai wilayah khususnya sentra walet, para pengepul mencari liur emas itu hingga ke pelosok kampung akibat permintaan jauh lebih banyak daripada ketersediaan barang.
Bayar tunai
Akibat tingginya permintaan, para pedagang adu cepat dan adu kuat modal untuk mendapatkan liur burung Collocalia fuciphaga. Di sisi lain peternak leluasa memilih pedagang yang memberi harga tertinggi. Bila sepakat harga, pedagang boleh membawa pulang sarang itu dengan membayar tunai. Sistem pembayaran harus tunai. Bila tidak, peternak akan membatalkan transaksi.

Meski syarat itu cukup berat, para pedagang dan pengumpul tidak mempunyai pilihan lain. Bahkan, mereka rela pergi jauh untuk mendapatkan barang. “Pedagang dari Sampit yang berjarak 300 km dari Buntok bersedia datang bila tersedia sarang 30—50 kg,” ungkap Aheng peternak walet di Buntok. Mereka pun harus membawa uang kontan hingga ratusan juta rupiah agar bisa membeli sarang.
Naiknya permintaan sarang walet, tidak lepas dari dibukanya keran impor sarang walet oleh pemerintah Tiongkok. Alasannya sarang itu mengandung nitrat yang cukup tinggi sehingga berbahaya bagi kesehatan. Berkat lobi yang dilakukan Budi Mranata, Pemerintah Tiongkok mencabut larangan impor sarang walet. Pelarangan impor itu disinyalir karena konsumsi sarang walet mencapai 5-juta kg per tahun. Bila harga sarang termurah Rp5-juta per kg, berarti negerinya mengeluarkan minimal Rp25-triliun per tahun.
Menurut ahli walet di Tangerang, Provinsi Banten, A. Hendry Mulya, masyarakat Tiongkok memanfaatkan sarang walet untuk sumber nutrisi bagi ibu hamil dan bayi di bawah lima tahun. Saat ini pemerintah Tiongkok menghapus kebijakan satu anak. Sarang walet pun merupakan menu makanan kaum elite negeri itu sejak ratusan tahun silam dan jadi persembahan bagi raja.
Pasar besar
Pada zaman modern, sarang walet menjadi salah satu cenderamata eksklusif yang kerap diberikan kepada petinggi negara karena dilarang menerima uang. “Bila ada 3-juta petinggi di negeri berpenduduk lebih dari i-miliar jiwa itu, berarti lebih dari setengah volume impor diserap untuk pemberian hadiah. Padahal, sarang walet pun menjadi salah satu menu utama di restoran eksklusif.
Di lain pihak, saat pemerintah Tiongkok mengenakan embargo sarang walet, eksportir Indonesia tidak berpangku tangan. Menurut eksportir di Bandung, Jawa Barat, Andry Barlian, akibat pasar utama ditutup, pengusaha mencari pasar alternatif ke negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Australia. Ketika Tiongkok membuka kembali impor sarang walet, pasar di negara-negara baru tetap berjalan, menyebabkan permintaan melonjak drastis.

Pada saat yang sama, produk sarang di Indonesia turun drastis. Penolakan Tiongkok pada 2011, menyebabkan harga sarang walet anjlok. Bila sebelumnya mencapai Rp15-juta per kg, anjlok hanya Rp4,5-juta per kg untuk kualitas mangkuk dan Rp2-juta untuk sarang patahan. Penurunan itu menyebabkan peternak patah semangat merawat rumah walet. Akibatnya, walet menjadi tidak betah berdiam di rumah itu dan pindah ke tempat lain.
Pada 2014—2015, musim kemarau panjang melanda Indonesia yang menyebabkan populasi walet turun tajam. Apalagi bencana itu dibarengi dengan kebakaran hutan di berbagai tempat di Kalimantan dan Sumatera. Selain terganggu asap, burung itu pun harus terbang lebih jauh untuk mencari pakan.
Akibatnya beberapa waktu lalu di Sungai Mentaya—melewati Buntok—ditemukan ribuan bangkai walet hanyut. “Diduga burung itu mengalami kelelahan dan kelaparan,” ungkap Firdaus, peternak dan konsultan walet di Buntok. Bila daerah lain mengalami kebakaran hutan, tidak akan mempengaruhi produksi sarang walet. “Namun, bila Kalimantan mengalami kebakaran hutan akan mengganggu produksi sarang walet dunia,” kata Andry Barlian.
Kalimantan memang menjadi produsen sarang walet dunia. Selain volume paling besar, kualitas sarang walet dari Kalimantan dianggap paling baik karena pencemaran lingkungan masih rendah. Warna sarang masih lebih putih dibandingkan dengan sarang dari Jawa atau Sumatera. Dengan kualitas lebih baik, sehingga harga sarang di Kalimantan pun lebih tinggi hingga Rp10,5-juta—Rp11-juta per kg.
Beralih ke walet
Harga yang cukup tinggi itu membuat berbagai kalangan usaha melirik bisnis walet. Rumah walet pun kembali dibenahi untuk mengundang kerabat seriti itu mau masuk. Ada pula yang menambah rumah walet baru, meski telah memiliki 4—5 buah rumah. Investor baru pun ramai mendatangi sentra untuk menanam modal. Pada saat yang sama harga komoditas karet, batubara, dan kelapa sawit jatuh.
Para pengusaha itu pun beralih menggeluti usaha walet. Untuk membangun rumah walet kelas menengah berukuran 8 m x 20 m berlantai empat membutuhkan dana Rp300-juta—Rp500-juta bergantung pada teknologi. Ada pula yang menghabiskan dana hingga lebih Rp1-miliar untuk membangun rumah walet bintang 5, sebutan untuk rumah walet besar dengan fasilitas lengkap.

Sebenarnya, untuk membangun rumah walet tidak harus selalu bermodal besar. Firdaus, misalnya, memulainya dengan Rp20-juta karena hanya merenovasi kamar di lantai atas rumah. David Wawoh di Palangkaraya, menghemat dengan menggunakan kayu sebagai bahan utama karena biayanya lebih murah, hingga 50%. Pengusaha konstruksi bangunan itu banyak belajar pada ahlinya sebelum membangun sehingga kesalahan mendasar bisa dihindari.
Bergairahnya bisnis walet tidak hanya dialami peternak di Kalimantan. Josia Lazuardi di Bogor, Jawa Barat, Keng Effendi (Jakarta), Arief Budiman (Indramayu), dan Benny Tan (Jambi) mengatakan, permintaan dan harga sarang walet meningkat lagi. Saat anjlok, harga sarang mencapai Rp2-juta—Rp4,5-juta per kg. Kini harganya mencapai Rp6-juta—8-juta per kg. Untuk menjualnya pun, Josia mengaku sangat gampang. Tinggal mengirim ke penampung di Indramayu, dan ia pun menerima duit hasil penjualan.
Namun, para pemain walet itu menyadari lokasi peternakan menjadi kendala bila ingin membuka rumah walet baru. Pembukaan rumah walet di beberapa sentra walet di Pulau Jawa tidak mungkin karena populasi walet sudah stagnan. Bila membuka di daerah baru, risikonya cukup besar karena perlu waktu lama untuk “mengundang” burung itu. Harapan untuk membuka rumah walet kini tertuju pada daerah Kalimantan dan Sulawesi karena lingkungan masih memungkinkan bagi perkembangan walet.
Itu pun harus selektif memilih lokasi karena beberapa sentra pun mulai jenuh. Namun, dengan segala risiko itu, Andry Barlian tetap optimis bisnis walet tetap potensi untuk dikembangkan. Buktinya ia berani membangun dan membeli beberapa rumah walet bekas di Samuda yang notabene sangat padat. Strateginya ia memilih daerah di pinggir kota Samuda serta memperbaiki sistim budidaya walet sehingga walet tertarik masuk rumahnya. (Syah Angkasa)
