
Warga desa memanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas. Mereka mandiri energi.
Sudah 6 tahun belakangan Yusmin tidak menggunakan tabung elpiji untuk memasak. Warga Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, itu hanya mengandalkan kotoran hewan ternak sebagai bahan bakar. Gas mengalir ke kompor melalui selang setiap hari. Karena itu ia tak lagi mengeluarkan biaya untuk membeli tabung gas elpiji. Ia bisa menghemat belanja rumah tangga Rp60.000 setiap bulan.
“Saya sudah tidak membeli elpiji untuk keperluan memasak,” katanya. Piyem, Tetangga Yusmin, Piyem, mersakan hal serupa. Ia beralih ke biogas sejak 4 tahun silam. Biogas menjadi andalan wanita paruh baya itu untuk memasak sehari-hari. Sebab, itu ia tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli elpiji. “Saya bisa menghemat biaya pembelian bahan bakar setiap bulan,” katanya semringah.
Mengganti minyak tanah

Piyem sangat puas dengan faedah biogas yang didapat hanya dengan mengumpulkan kotoran sapi itu. Kotoran hewan ternak yang biasanya terbuang pun jadi bermanfaat. Yusmin menuturkan saat ini sudah ada 137 digester yang terpasang di dusun nan sejuk itu. Padahal, semula ia satu-satunya pengguna biogas di sana. Ketertarikan kakek berusia 71 tahun itu pada biogas berawal sejak 2008.
Saat itu ia melihat seorang rekan dari desa seberang bisa mencukupi kebutuhan gas hanya dengan kotoran sapi. “Saya langsung terkesima sebab kotoran sapi di rumah paling banter hanya untuk pupuk,” katanya. Namun, ketua Gabungan Kelompoik Tani Ngudi Mulyo itu harus mengurungkan niatnya. Pasalnya ia harus menyediakan 4 sapi untuk membangun instalasi biogas. Sementara itu ia hanya memiliki 2 sapi.

Barulah pada 2010 mimpi Yusmin terwujud. Ia mengikuti program Biogas Rumah (Biru) yang dilaksanakan oleh Yayasan Rumah Energi (YRE). “Saya tertarik memiliki instalasi biogas sebab selain bisa menjadi bahan bakar juga mencegah pencemaran lingkungan,” katanya. Menurut dosen Bioenergi Dan Biosurfaktan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Sri Wahyuni, S.E., M.P., biogas memiliki kandungan energi tinggi yang tidak kalah dari bahan bakar fosil.
Kehadiran biogas juga bisa menggantikan fungsi minyak tanah, liquified petroleum gas (LPG), dan bahan bakar fosil lain. Nilai kalori 1 m³ biogas setara dengan 0.6—0,8 liter minyak tanah. Untuk menghasilkan listrik 1 kwh dibutuhkan 0,62—1 m³ biogas. Biogas mengandung 75% metana. Yusmin lantas mengajak warga desa untuk turut serta memasang biogas. Sayangnya hanya 3 orang warga dusun yang tertarik dengan manfaat energi terbarukan itu.

Yusmin tak patah semangat dan melanjutkan keinginannya. Ia juga terus mengampanyekan manfaat biogas ke warga dusun di setiap kesempatan, misalnya rapat kelompok tani. “Saya ingin agar warga menyadari pentingnya energi terbarukan sebab bahan bakar dari alam semakin berkurang,” katanya. Yusmin menampung kotoran sapi setiap pagi dan sore. Ia lantas memasukkan kotoran yang terkumpul dari 3 sapi perah itu ke dalam bak pengumpul.
Proses mudah
Yusmin mengalirkan kotoran itu ke dalam reaktor berkapasitas 6 kubik. Di dalam reaktor kotoran sapi mengalami proses fermentasi. Proses fermentasi itu menghasilkan gas metan yang terkumpul di dalam ruang penampung gas. Kemudian gas akan mengalir menuju kompor melalui pipa. Sementara itu hasil akhir proses penguraian berbentuk pupuk kandang yang siap pakai dan tidak beraroma.

Ia menggunakan pupuk itu sebagai sumber nutrisi bagi kebun cabai miliknya. Kandungan unsur hara di dalam pupuk antara lain selulosa, lignin, dan protein. Ia juga memanfaatkan sisa air dari ampas biogas sebagai pestisida organik. Menurut Yusmin biogas memberikan banyak keuntungan bagi pengguna. “Selain sebagai bahan bakar dan sumber pupuk, praktek dan perawatan instalasi pun mudah,” katanya. Ancaman kebocoran juga tipis.
Keberhasilan Yusmin menggunakan biogas itu perlahan membuat warga dusun tertarik. Apalagi Yusmin juga bisa menghidupkan mesin pencacah rumput hanya dengan memakai biogas. “Rumah pun bebas dari aroma kurang sedap akibat tumpukan kotoran sapi,” katanya. Lambat laun warga dusun mengikuti jejak Yusmin. Kini sudah ada 150 rumah tangga yang memanfaatkan biogas untuk bahan bakar.
Yusmin menuturkan lingkungan dusun pun menjadi lebih bersih sebab persoalan limbah sudah teratasi. Maklum mayoritas warga dusun berprofesi sebagai peternak sapi perah. Sebelumnya keberadaan limbah kotoran kerap menjadi persoalan, tetapi kini sudah tidak lagi. Yang menarik, warga yang hanya memiliki 2 sapi sudah bisa memasang instalasi biogas. Berkat pemanfaatan biogas Yusmin berhasil mengharumkan nama desa Jetak di kancah provinsi. Ia sukses menyabet juara kedua pada Lomba Desa Mandiri Energi 2016 ketika ulang tahun ke-66 Provinsi Jawa Tengah.

Sebelumnya pun ia pernah meraih juara pada lomba serupa pada 2012. Meski sudah membawa dusun Jetak menjadi desa mandiri energi Yusmin masih gemar mengampanyekan penggunaan biogas. Impiannya adalah seluruh warga dusun menggunakan biogas. Dengan demikia mereka tak perlu bergantung pada gas alam. Dari kandang sapi kebutuhan itu tercukupi. (Andari Titisari)
