Para pekebun mulai mengembangkan pepaya merah delima.
Nasri Joni memanen rata-rata 18 ton pepaya merah delima per pekan atau rata-rata 2,5 ton pepaya per hari. Merah delima adalah pepaya varietas unggul yang dirilis peneliti Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) di Solok, Sumatera Barat, Tri Budiyanti. Jumlah panen itu berasal dari lahan 18 hektare. Dari total areal tanam itu 4 hektare di antaranya kebun milik sendiri, selebihnya milik pekebun mitra.
Pekebun di Pekanbaru, Provinsi Riau, itu menjual hasil panen ke pasar lokal di Pekanbaru dan Batam Rp3.500 per kg. Selain itu Joni juga menjual sebagian hasil panen ke perusahaan pemasok untuk memenuhi pasar Singapura dan Thailand. Namun, belakangan ia terpaksa menolak permintaan dari Batam dan luar negeri. “Pasar lokal saja masih kurang. Permintaan yang masuk ke saya mencapai 7 ton per hari,” tutur Nasri.
Lebih untung

Nasri tidak dapat memenuhi permintaan karena produktivitas tanaman mulai berkurang. Harap mafhum, saat ini umur tanaman 3,5 tahun. Padahal, umur produktif merah delima sebaiknya tidak boleh lebih dari 3 tahun. Ia mulai mengebunkan pepaya merah delima pada 2015 karena menjanjikan keuntungan tinggi.
Menurut Nasri biaya produksi untuk menghasilkan sekilogram pepaya merah delima hanya Rp1.500. Artinya jika harga jual Rp3.500 per kg, maka Nasri meraup laba lebih dari 100%. Dengan laba sebesar itu, ia dengan laba pepaya dengan kelapa sawit yang banyak dikembangkan di Riau. “Keuntungan dari sehektare pepaya merah delima sama dengan keuntungan dari 5 hektare kebun kelapa sawit,” ujarnya.
Semula Nasri mengebunkan merah delima di lahan 1 hektare milik Universitas Islam Riau (UIR). Namun, ia kesulitan menjual hasil panen karena konsumen belum mengenal varietas pepaya teranyar itu. Sebelumnya masyarakat lebih mengenal pepaya kalifornia dan penang asal Malaysia. Namun, begitu konsumen mulai mencicip rasa merah delima, perlahan permintaan konsumen terus menanjak.
Menurut Nasri konsumen menggemari varietas unggul pepaya yang dirilis Kementerian Pertanian pada 2011 itu karena rasanya yang manis dan warna daging buah jingga kemerahan. Daging buah juga lebih kenyal sehingga lebih tahan simpan. “Jika buah dipanen saat bersemburat kuning, buah tahan simpan hingga 6 hari pada suhu ruang. Kalau di pasar swalayan yang berpendingin bisa tahan 2 pekan,” tutur Nasri.
Permintaan yang terus meningkat mendorong Nasri memperluas areal tanam menjadi 4 hektare. Ia juga menjalin mitra dengan beberapa rekan dengan total areal tanam mencapai 14 hektare. Para pekebun di Riau juga makin banyak yang mengikuti jejak Nasri mengembangkan merah delima. Akibatnya permintaan benih terus menanjak. Oleh sebab itu, Balitbu berupaya memenuhi kebutuhan benih merah delima di Riau.

Lembaga itu bekerja sama dengan BPTP Riau, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Riau, serta Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Riau membina petani penangkar benih. Hingga saat ini Nasri menjual sekitar 50.000 benih untuk permintaan lokal dan 40.000 benih untuk permintaan dari luar Riau. “Benih merah delima produksi saya sudah beredar dari Sabang sampai Merauke,” ujarnya.
Terus meluas

Menurut peneliti pepaya merah delima, Tri Budiyanti, kini merah delima mulai banyak dikembangkan di berbagai daerah. Di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ada Muslahuddin Daud yang mengebunkan 6.000 tanaman pepaya merah delima di daerah Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar, NAD.
Masa panen berlangsung selama 4 bulan. Dari masa panen itu ia memanen rata-rata 80 buah per tanaman. Ia menjual pepaya dengan harga Rp3.000 per buah. Artinya setiap tanaman menghasilkan omzet rata-rata Rp240.000. Ahmad Arfiza juga mengebunkan pepaya merah delima di kawasan Lamteuba. Ia menanam 1.000 tanaman di lahan 1 hektare pada awal 2017. Sayangnya dari seluruh populasi itu hanya separuhnya yang berproduksi.
“Tanaman banyak yang mati karena kekurangan air,” tuturnya. Dari 500 tanaman yang tersisa, Ahmad memanen 7.000 buah atau sekitar 10 ton pepaya merah delima. Ia menjual hasil panen ke pasar lokal dengan harga Rp5.500 per buah. Pada awal 2018 Ahmad kembali menanam 1.500 tanaman pepaya merah delima. “Saat ini sudah mulai berbuah,” ujarnya. Pada Oktober 2018 ia juga tengah menyemai 7.000 benih untuk penanaman pada Desember 2018.
Menurut Tri PT New View Glen Faloch yang mengebunkan merah delima hingga 24 hektare di Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pepaya menjadi salah satu komoditas yang dikembangkan selain kakao, kopi, kelapa, dan tebu. Jarak tanam merah delima lebih renggang, yakni 4 m x 2 m. Di antara tanaman pepaya tumbuh cabai rawit dan kelapa hibrida yang masih muda.
Saat Tri berkunjung pada Juli 2018, beberapa tanaman anggota famili Caricaceae itu mulai berbunga dan panen. Tri berharap dengan pengembangan dalam skala luas, PT New View Glen Falloch dapat menjadi sentra baru komoditas hortikultura di Jawa Timur. (Imam Wiguna)
