
Siasat para pemilik rumah agar anakan walet betah menginap.
Trubus — Kini mengundang walet agar menginap relatif lebih sulit dibandingakan dengan 20 tahun lalu. Menurut praktikus walet di Cengkareng, Jakarta Barat, Philip Yamin, penyebbnya adalah walet makin selektif memilih hunian paling nyaman. Ibarat manusia masa kini yang biasa menginap di hotel bintang 5, jika menginap di penginapan melati tentu terasa kurang nyaman. Philip membandingkan pada awal 2000, walet cenderung tidak terlalu pipilh-pilih menginap.

cahaya dalam gelap bisa sebagai pemandu walet
dalam gedung. (Dok. Willy)
Para peternak cukup dengan penarik suara sederhana untuk menarik si liur emas itu menginap. Artinya kebiasan walet bisa berubah seiring dengan majunya teknologi. Kini burung bisa berpindah tempat ke gedung baru yang lebih nyaman. Namun, jika kualitas gedung sama bahkan lebih buruk burung tidak akan pindah ke rumah baru. Itulah sebabnya jika gedung walet baru berkualitas rendah tidak bisa bersaing dengan gedung lama berkualitas baik.
Lampu
Menurut Philip faktor kenyamanan gedung itu sekunder. Apalagi di daerah baru tanpa pesaing. Kondisi berbeda jika di suatu kawasan populasi rumah walet cukup padat. Faktor kenyamanan gedung wajib diutamakan. Faktor primer yakni lingkungan yang menunjang ketersediaan pakan. “Jika pakan kurang, kemungkinan walet pergi mencari tempat dengan ketersediaan pakan cukup,” kata praktikus walet sejak 1998 itu.

Philip mencontohkan, saat kemarau dan pakan sulit suara sebagus apa pun walet enggan menginap. Menurut praktikus walet, di Jakarta, Harry Wijaya, salah satu alat tambahan agar burung nyaman menggunakan lampu khusus dalam gedung walet. Harap mafhum kondisi rumah walet gelap, sehingga anakan atau walet muda yang baru bisa terbang terkadang kesulitan kembali ke gedung.
Fungsi lampu bisa memandu menuntun walet muda kembali ke ruang inap. Namun, pengaturan cahaya mesti diatur optimal. Teralalu terang bisa membuat liur emas tidak betah. Adapun pada jam tertentu, misalnya malam hari setelah walet pulang lampu padam. Menurut Harry faedah lain lampu bisa mengudang serangga. Serangga sebagai pakan akan mendekat atau masuk ke gedung walet.

Itu menyebabkan walet tidak perlu jauh-jauh mencari pakan. Musababnya pakan mendekat karena tertarik cahaya. Menurut Philip penambahan lampu pada gedung walet jika kondisi pencahayaan buruk. Jika tata ruang pada gedung walet baik kelembapan, udara, dan cahaya pun baik, maka tak perlu penamabahan lampu. Selain itu ada juga pemilik gedung walet yang menyalakan lampu di luar gedung.
Gedung menjadi terang sehingga walet lebih gampang masuk ke hunian. Faedah lain lampu mengundang serangga berdatangan. Itu berarti walet bisa memakan serangga di dalam gedung. Syaratnya ruang geraknya di dalam hunian itu cukup luas. Ruang gerak terbatas menyulitkan walet beraktivitas.
Penunjuk Jalan
Pemilik gedung walet juga dapat memilih sarana lain berupa twiter berwarna putih untuk memandu liur emas menginap. Menurut praktikus walet di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung, Willy, warna putih sebagai pemandu walet di dalam gedung yang gelap. Twiter putih memantulkan cahaya sehingga seperti menyala dalam gelap karena tambahan sedikit zat fosfor.
Willy kerap memasang twiter berwarna putih di deretan tengah ruang inap untuk memandu liur emas. Warna putih lainnya juga bisa diterapkan di nesting plank atau tempat hinggap walet. Nesting plank kerap dikombinasikan dengan twiter yang bisa dibongkar pasang. Menurut praktikus walet di Jakarta, Peter John, warna putih pada nesting plank sebagai penunjuk arah masuk bagi walet. Pemilik gedung sebaiknya memilih tweeter berwarna putih natural. Artinya yang mirip dengan warna sarang burung. Peternak mesti menghindari memilih tweeter yang berwarna putih terlalu pekat. Tujuannya agar walet nyaman.

Warna itu cocok dengan mata walet yang hanya mampu membedakan warna gelap dan terang. “Warna putih bersifat terang sehingga menuntun walet untuk bersarang,” ujarnya. Peranti itu merupakan garis-garis horizontal yang terpasang di tweeter dan berfungsi untuk memudahkan walet bersarang. Desain nesting plank yang tepat membuat burung menjadi betah, tidak berpindah-pindah sehingga proses adaptasi berlangsung lebih cepat.
Nesting plank mudah dipasang dan dibongkar kembali. Tujuannya untuk mempermudah pemasangan kembali pascapemanenan sarang walet. Peternak tinggal menempelkan nesting plank di lagur di samping tweeter agar anak bersarang di nesting plank sehingga terbentuk koloni. Hindari mencucui bekas sarang di nesting plank agar aroma liur mengundang walet kembali bersarang (baca Trubus edisi September 2017 “Setelah Nyaman, Panen Menjulang”).
Menurut Philip warna putih pada twiter dan nesting plank terinspirasi dari sarang imitasi. Sarang imitasi pun selalu berwarna putih, di tempat gelap pun jika sedikit terkena cahaya akan terang. Itu memandu walet di dalam gedung walet yang gelap. Philip menambahkan, secara keseluruhan teknik dasar budidaya walet masih tetap sama. Pemilik sebaiknya memperhatikan “Susu Kaca” yang berarti suhu, suara, kelembapan, aroma dan cahaya. Namun, seiring berkembangannya teknologi pendalaman tiap bagian makin canggih. (Muhamad Fajar Ramadhan)
