Friday, June 19, 2026

Domba Unggul Pilihan Peternak

Rekomendasi

Domba hasil persilangan lebih cepat besar sehingga cocok untuk penggemukan.

Domba compass agrinak cocok sebagai pedaging karena berbobot 12 kg saat berumur 3 bulan Bobot menjadi 70 kg per ekor saat berumur 1,5 tahun.

Trubus — Setelah menempuh jarak lebih dari 3.000 kilometer 12 domba dorper tiba di kandang CV Asia Global pada Maret 2019. Peternakan di Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara, itu mendatangkan 7 dorper jantan dan 5 betina untuk meningkatkan mutu genetik domba lokal. Nur Ridhuan Baharu—pemilik CV Asia Global—mengawinkan domba asal Australia itu dengan domba lokal. “Kami tengah membangun pembibitan dan penggemukan domba skala besar di lahan 1.000 hektare. Domba muda hasil pembibitan digemukkan dan diekspor,” kata Nur.

Muhammad Huda Khairon S.T. lebih menyukai suffas untuk digemukkan ketimbang domba lokal.

Harap mafhum Nur Ridhuan mendapatkan kuota 25.000 domba untuk ekspor ke Malaysia. Oleh karena itu, ia tengah membangun kemitraan dengan para peternak. Ia menuturkan domba hasil persilangan dorper lepas sapih (berumur 3—4 bulan) berbobot minimal 20 kg. Sementara bobot domba lokal lepas sapih 13—15 kg. Masa penggemukan domba hasil persilangan dorper lebih singkat menjadi 1—2 bulan daripada domba lokal (3 bulan). Peternak pun lebih untung karena perputaran uang lebih cepat.

Lebih cepat

Peneliti domba di Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran,  Prof. Dr. Ir. Sri Bandiati Komar Prajoga, menyatakan dorper domba pedaging asal Afrika Selatan. Dorper hasil persilangan antara dorset dan black persia. Salah satu ciri dorper yaitu kepala hingga leher berwarna hitam. Upaya persilangan dorper dan domba lokal oleh Nur Ridhuan sudah tepat. Peternak asal Desa Tanjungsari, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Didik Eko Santoso, mengamati domba hasil persilangan lebih cepat besar ketimbang domba lokal.

Dorper domba pedaging unggul asli Afrika Selatan. (Dok. Criadero Ovino EL REDIL Reproductores/Flickr)

Bahkan, salah satu konsumen Didik di Garut, Jawa Barat, menghendaki bibit domba hasil persilangan, bukan domba lokal. “Pengaruh ras domba untuk pertumbuhan sekitar 30%,” kata Didik. Selain lebih cepat besar, domba hasil persilangan pun cocok untuk ekspor karena sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ketua Umum Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), Ir. Yudi Guntara Noor, S.Pt., IPU., menuturkan domba potong yang dapat diekspor yaitu jenis persilangan. Bukan domba murni dari suatu rumpun yang masih layak dibudidayakan dan dilindungi.

Selain hasil persilangan dorper, pun peternak layak menggemukkan suffas. Menurut Kepala Seksi Produksi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (PT dan HMT) Jember, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Bustomi, suffas hasil persilangan suffolk jantan dan gibas. Adanya bintik hitam atau cokelat pada tubuh salah satu ciri khas suffas. Tentu saja keunggulan suffas lebih cepat besar.

Bobot suffas ketika lepas sapih sekitar 10 kg, sedangkan domba lokal 7—8 kg. Selain lebih berat, daging suffas berwarna merah mirip daging sapi. Sementara daging domba lokal merah muda. Meski begitu suffas siap kawin pada umur 12—18 bulan. Domba lokal lebih cepat lantaran siap kawin pada umur 10—12 bulan. Pengembangan suffas di Jawa Timur sejak 1980-an hingga sekarang. UPT PT HMT Jember menyediakan bakalan suffas.

Suffas yang memiliki gen merino sehingga tidak memiliki bercak hitam atau cokelat. (Dok. Trubus)

Bustomi mengatakan pembeli hewan kurban menyukai suffas karena penampilannya gagah. Muhammad Huda Khairon S.T., salah satu penggemar suffas. Peternak penggemukan di Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, gembira ketika mendapatkan bakalan suffas di pasar meski berharga Rp5.000 per kg lebih mahal daripada domba lokal.

Itu berarti masa penggemukan lebih singkat. “Bobot suffas berumur 4 bulan 20—25 kg, sedangkan domba lokal berumur sama hanya 15 kg,” kata peternak pembibitan sejak 2011 itu. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Dr. drh. I Ketut Diarmita, M.P., mengatakan, pemuliaan domba dengan seleksi dan persilangan salah satu inovasi di sektor hilir. Harapannya meningkatkan produktivitas domba.

Upaya itu di Kementerian Pertanian dilaksanakan melalui Badan Litbang Pertanian, dalam hal ini Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Balai Penelitian Ternak, dan loka penelitian. Beberapa riset pemuliaan domba diarahkan kepada marka-marka (marker assisted selection) tertentu seperti sifat prolifik dan tahan terhadap penyakit.  Compass agrinak salah satu hasil inovasi Kementerian Pertanian yang cocok sebagai domba pedaging karena berbobot 12 kg pada umur 3 bulan. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Tamara Yunike)


Artikel Terbaru

Benih Unggul Jadi Fondasi Hilirisasi Perkebunan Nasional

Trubus.id-Pemerintah terus mendorong hilirisasi komoditas perkebunan sebagai strategi meningkatkan nilai tambah, daya saing produk, dan kesejahteraan pekebun. Namun, keberhasilan...

More Articles Like This