Sunday, January 25, 2026

Pisang Awet 23 Hari

Rekomendasi
- Advertisement -

Inovasi mutakhir membuat masa simpan pisang lebih lama hingga 23 hari.

Pisang termasuk buah klimaterik yang cepat masak sehingga perlu penanganan khusus agar tidak cepat busuk. (Dok. Trubus)

Trubus — Setiyawan kapok mengekspor pisang mas kirana ke Singapura. Pekebun dan pemasok pisang mas kirana di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, itu mengirimkan satu kontainer pisang mas kirana setiap pekan selama tiga pekan berturut-turut ke negeri jiran itu. Hasilnya? Singapura menolak pisang mas kirana milik Setiyawan karena terlampau masak. Setiyawan tertarik mengekspor pisang karena harga jualnya 40% lebih tinggi daripada di dalam negeri pada 2015.

Serbuk nano zeolit-KMnO4 yang berwarna ungu berubah menjadi cokelat kehitaman ketika teroksidasi etilen.

Menurut Setiyawan pisang mas kirana cepat masak sehingga memiliki masa simpan pendek. “Tiga hari setelah panen, pisang mas kirana menjadi kuning dan hanya bertahan sepekan,” kata pria berumur 40 tahun itu. Oleh karena itu, importir asal Singapura menolak buah buah tanaman anggota famili Musaceae itu. Pengiriman produk Setiyawan hingga tiba di negara terkecil di Asia Tenggara itu memerlukan waktu lebih dari sepekan.

Penyerap etilen

Selain merugi karena ekspor, hasil penjualan pisang mas kirana milik Setiyawan pun kerap tidak maksimal di dalam negeri. Alasannya sama dengan kasus ekspor ke Singapura. Penjualan pisang ke Jakarta menghabiskan waktu 30 jam perjalanan. Ketika tiba di ibu kota sekitar 50% pisang menguning karena hawa panas selama perjalanan. Dampaknya harga jual menurun 10—20% dari harga normal.

Pedagang pengecer beralasan waktu memajang dan menjual pisang menguning itu memendek sehingga meminta diskon. Tentu saja pengurangan harga itu menggerus profit Setiyawan. Meski begitu kini hadir solusi permasalahan itu. Peneliti teknologi pertanian di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Kota Bogor, Jawa Barat, Dr. Siti Mariana Widayanti, menemukan inovasi memperpanjang masa simpan hingga 23 hari.

Penggunaan nano zeolit- KMnO4 memperlambat pematangan pisang sehingga penjual memiliki waktu lebih lama memajang buah itu. (Dok. Bondan Setyawan)

Mariana Widayanti menggunakan nano zeolit-KMnO4. Sebetulnya kalsium permanganat (KMnO4) yang dikenal sebagai oksidator etilen bukan barang baru. Kemutakhiran inovasi Widayanti pada penggunaan nano zeolit sebagai tempat tersimpannya kalsium permanganat. Ia memilih ukuran nano untuk memperluas permukaan zeolit sehingga lebih banyak KMnO4 yang tersimpan. Dengan begitu oksidasi etilen lebih maksimal.

Buah pisang ambon masak 6—8 hari pascapanen. Sekitar 48 jam setelah petik pisang ambon menuju puncak klimaterik meski masih hijau dan berangsur-angsur masak pada hari ke-8. Widayanti memasukkan nano zeolit-KMnO4 yang dikemas dalam kantong teh berbahan nilon itu 3 hari setelah panen. Satu kemasan berisi 3 gram nano zeolit-KMnO4. Produk nano zeolit-KMnO4 dapat digunakan pada hari ke-17.

Setelah itu peneliti meletakkan pisang di tempat terbuka sambil mempertahankan suhu 25°C dan kelembapan 85%. Dengan cara itu pisang ambon yang semula hijau pada hari ke-17 bakal menguning dan layak konsumsi pada hari ke-23. “Jumlah gas etilen yang membeludak di sekeliling pisang berkurang sehingga respirasi buah melambat. Alhasil kemasakan buah bertahan lebih lama,” kata Widayanti.

Kondusif Ekspor

Dr. Siti Mariana Widayanti, peneliti nano zeolit-KMnO4. (Dok. Trubus)

Menurut Widayanti satu kemasan nano zeolit-KMnO4 menyerap 114 ppm etilen setara 1 kg pisang ambon. Selain menyerap etilen dalam ikatan KMnO4, nano zeolit juga mampu menyerap kelembapan. Kemasan akan basah dan berubah warna menjadi cokelat kehitaman dari semula ungu. Sebaiknya ganti baru jika itu terjadi. Kalsium permanganat berbahaya karena tidak boleh dikonsumsi. Oleh sebab itulah, Widayanti menganjurkan agar menempatkan produk penyerap etilen itu pada jarak tertentu dari buah.

Doktor Teknologi Industri Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menuturkan produk zeolit-KMnO4 dapat digunakan ke semua jenis pisang dan buah klimaterik. Perpanjangan masa simpan setiap jenis pisang maupun buah mungkin berbeda.

Widayanti mengatakan, inovasinya itu cocok untuk ekspor pisang yang prosesnya panjang karena melewati beberapa tahap. Oleh karena itu, Setiyawan menyambut baik kehadiran nano zeolit-KMnO4. Pedagang buah eceran pun memerlukan inovasi kreasi Widayanti. Para pedagang itu bisa menjual pisang secara bertahap meski stok banyak tanpa khawatir buah segera busuk. Meski begitu perlu penelitian lanjutan untuk menghitung ekonomis tidaknya jika produk itu digunakan. “Prediksi kami jika sudah ada produsen yang membuat produk itu secara massal, harga jual tidak akan mahal. Karena semua bahan dasarnya murah,” kata Widayanti. (Tamara Yunike)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img