Teknologi mengawetkan sayuran hingga 14-30 hari.

Trubus — Eka Tyas Anggraeni masygul mengetahui para petani sayuran membuang hasil panen. “Bapak saya petani cabai, jadi kasihan kalau pas harga hancur, cabainya dibiarkan tidak dipanen,” ujar mahasiswi Keteknikan Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya itu. Terkadang ayahnya menjemur cabai di bawah terik matahari. “Kadang bisa awet beberapa hari, tetapi pas dijual harganya jauh lebih murah, karena tidak segar lagi,” ujar Eka.

Kebetulan Eka sedang mengembangkan alat pengawet telur berteknologi gliding arc cold plasma system (GACPS). “Saya punya ide, alat itu juga diaplikasikan untuk mengawetkan sayuran. Semoga bisa membantu bapak saya dan para petani sayur lainnya,” ujar Eka. Pada akhir 2017, keinginan untuk mengaplikasikan teknologi itu ke sayuran semakin besar.
Zat reaktif
Eka berhasil menerapkan teknologi GACPS pada cabai. “Hasil uji coba kami, cabai bisa awet hingga sebulan. Padahal, umumnya hanya dua hari,” ujarnya. GACPS dibangkitkan dengan memanfaatkan tegangan tinggi yang dilewati oleh udara dan gas umpan. Hal itu menghasilkan campuran ion kompleks, elektron bebas, ion radikal, dan komponen reaktif lainnya. Menurut Eka zat reaktif itu dapat merusak membran dan Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) mikrob.
Selain itu zat itu juga merusak protein dan senyawa berbahaya pada pestisida sehingga dapat mewujudkan keamanan pangan. Menurut Eka GACPS efektif untuk membunuh bakteri, kapang, dan cendawang serta mikrob lainnya seperti spora dan biofilms yang secara umum sulit dimatikan. Eka dan anggota tim periset— Widya Nur Habibah, Dimastyaji Nurseta, dan Inggita Revira memberi nama alat itu smart veggies.

30 hari.
Ada dua perlakuan dalam alat itu. Pertama, Eka merendam sayuran dengan air yang di dalamnya mengandung komponen reaktif. Proses perendaman sekitar 2—3 menit, tergantung jumlahnya dan ditiriskan. Kedua, mereka menyimpan sayuran di dalam lemari pendingin yang juga menggunakan teknologi GACPS. Proses itu sejatinya telah selesai. Namun, kini Eka menambahkan teknologi pengemasan sayuran dengan vacum.
Penerapan teknologi vacum memungkinkan udara di dalam kemasan pun hampa. Hal itu bisa mengurangi proses pembusukan sayuran. “Perkembangan mikrob terhambat. Sayur pun bisa lebih awet hingga satu bulan, Kalau teknologi plasma saja atau tanpa pengemasan, bisa awet dua minggu lebih,” ujar Eka.
Prototipe
Semula Eka hanya membuat prototipe sweet veggies untuk mengikuti lomba. Prototipe berdimensi 40 cm x 40 cm x 33 cm dengan tegangann operasional 220 VAC 50 Hz. Daya yang dibutuhkan 528 watt dengan waktu optimal sterilisasi selama lima menit. Kapasitasnya jika diisi selada air mencapai 20—30 kg. Biaya pembuatan alat itu mencapai 2,8 juta rupiah, sementara biaya operasional hanya Rp5.000.

Cara pengoperasiannya cukup sederhana. Petani tinggal memasukkan sayuran ke alat yang terhubung dengan sumber tegangan 220 VAC. Kemudian tekan tombol on yang sebelumnya alat sudah disetel waktu sterilisasi yang diinginkan. Melihat prospek alat itu yang bagus. Eka kini membuat smart veggies versi komersial berkapasitas 100 kg sayuran. Peranti itu terdiai atas dua alat terpisah.
Peranti pertama berupa tempat pencucian, yang kedua berupa tempat penyimpanan sayuran. Bandingkan dengan versi prototipe, tempat perendaman dan penyimpanan menjadi satu, sementara versi komersial terpisah. Menurut pengajar di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya, Dr. Ir. Ary Mustofa Ahmad, MP, smart veggies merupakan ide yang menarik sebagai solusi mengatasi permasalahan petani sayuran.
“Salah satu kendala komoditas sayuran adalah produknya yang tidak awet. Ketika harga murah, kondisi itu menyulitkan petani. Jika ada alat yang bisa meningkatkan keawetan sayuran, maka kendala itu bisa ditekan,” ujar alumnus Universitas Brawijaya itu. Namun, ia berharap agar smart veggies juga terjangkau bagi petani. “Itulah yang dimaksud teknologi tepat guna. Teknologinya bagus dan bisa dijangkau konsumen alat itu,” ujar pengajar mekanisasi pertanian itu. (Bondan Setyawan)
