Thursday, January 29, 2026

Panen Liberia Melonjak

Rekomendasi
- Advertisement -

Kiat meningkatkan produksi kopi liberika.

Dengan penyinaran cukup, buah kopi liberika optimal. (Dok. Paristo Liberika)

Trubus — “Tahun lalu liberika berumur 5 tahun hasil sambung pucuk menghasilkan 50 kg ceri,” kata petani kopi di Kebumen, Jawa Tengah, Yuri Dulloh. Menurut Yuri pohon yang disambung pucuk berbuah setahun pascapenyambungan—pada beberapa pohon bahkan hanya setengah tahun—dan stabil berproduksi umur 2 tahun. Itu jauh lebih cepat daripada pohon liberika dari biji yang berbuah paling cepat umur 3 tahun dan stabil berproduksi di umur 5 tahun. Upaya serupa juga dilakukan pegiat kopi di Desa Melatiharjo, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Pujo Widodo.

Pujo memanfaatkan pohon liberika setinggi lebih dari 10 m sebagai sumber entres (batang atas). Pohon berumur lebih dari 50 tahun itu terbukti unggul, menghasilkan 220 kg ceri pada 2018. Tunas-tunas yang tumbuh ia potong lalu disambung dengan bibit asal biji. Bibit hasil sambungan itulah yang ditanam pekebun anggota Kelompok Tani Kopi Melati Makmur. “Tamu atau pegiat kopi dari daerah lain yang datang kemari juga ada yang membawa untuk ditanam di tempat mereka,” kata Pujo.

Lepas ikatan

Baik Yuri maupun Pujo tidak mematok ukuran ideal batang yang mereka sambung. “Yang penting tidak terlalu kecil atau terlalu besar,” kata Yuri. Syarat utamanya, calon batang bawah sudah mempunyai kulit kayu agar keberhasilan persambungan meningkat. Ukuran entres pun tidak harus sama persis. Jika ukuran entres berbeda dengan bibit calon batang bawah, Yuri mewanti-wanti agar mengikat kuat sampai bagian kambium kedua batang tertutup oleh pengikat. Tujuannya agar air hujan tidak merembes ke persambungan.

Pertanaman kopi kebanyakan menerapkan sistem bujursangkar. (Dok. Trubus)

Tidak kalah penting adalah menyambung secepatnya sebelum entres mengering. Kalau prosesnya benar, ikatan penyambung bisa dibuka 2 bulan pascapenyambungan. Pengalaman Yuri mengajari pekebun kopi di sekitar Kebumen, banyak yang menyambung banyak tanaman sekaligus di tengah kebun. “Mereka malah lupa kalau pernah menyambung,” kata pria 42 tahun itu sambil tertawa. Meski persambungan berhasil, tali pengikat yang tidak dilepas justru menghambat pertumbuhan. Alih-alih genjah dan produktif, bisa-bisa pohon malah tidak berproduksi.

Anggota staf Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Riza Septian, S.P. menyatakan, penyambungan—kerap disebut top working—lazim dilakukan pada kopi robusta maupun arabika sebagai salah satu cara mendongkrak produksi pohon tua. Meski belum pernah melakukan, ia menduga teknik itu pun cocok diterapkan terhadap liberika. Menurut Riza penyambungan bisa memanfaatkan entres dari tunas samping (plagiotrof) maupun tunas air (ortotrof). Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Penyambungan dengan tunas plagiotrof yang tumbuh menyamping membuat pohon genjah, lebih cepat berproduksi. Pasalnya, tunas itu bisa langsung berbunga begitu persambungan terbentuk. Namun, kalau buah terlalu lebat sebelum persambungan benar-benar kuat, sambungan itu bisa kembali terbuka. Akibatnya batang atas bisa mati karena tidak mendapat air dari akar. Oleh karena itu, ia menganjurkan merompes sebagian buah kalau terlalu lebat sebelum umur persambungan mencapai setahun.
Sementara itu penyambungan dengan tunas ortotrof membuat pohon tidak langsung berproduksi sebelum menumbuhkan tunas plagiotrof. Toh, penundaan itu memberi waktu agar persambungan sempurna dan benar-benar kuat. Riza menyatakan, perbedaan waktunya bisa satu musim panen.

Segitiga

Menurut pengamat agribisnis di Kota Depok, Jawa Barat, Floribertus Rahardi, salah satu kelemahan liberika adalah populasi lebih rendah lantaran sosok pohon bongsor dan cenderung makan tempat. Untuk itu, periset di Division of Horticulture, Malaysian Agriculture Research and Development Institute (MARDI), Malaysia, Wan Rubiah Abdullah menyarankan penanaman secara segitiga berjarak 3 m alih-alih bujursangkar seperti biasa. Dengan cara itu, populasi per ha meningkat.

Ikatan harus dilepas setelah persambungan terbentuk sempurna.

Agronomis produsen pupuk Mahkota di Medan, Syaiful Bahri Panjaitan S.P., M.Agric.Sc menjelaskan, dengan metode tanam segitiga berjarak 3 m, populasi dalam sehektare lahan mencapai 1.283 pohon. Bandingkan dengan sistem bujursangkar 3 m yang hanya 1.111 per ha. Sistem pertanaman yang disebut pancang mata lima itu lazim diterapkan pada perkebunan sawit. “Dengan cara itu, tajuk tidak saling menutup sehingga produksi optimal,” kata pria berusia 42 tahun itu. Pancang mata lima cocok diterapkan pada pertanaman liberika yang tajuknya melebar.

Teknis lain yang idealnya dilakukan pekebun liberika adalah pemangkasan dan pemupukan. Sayang, sejauh ini tidak satu pun pekebun liberika yang menerapkan praktik budidaya yang baik (good agriculture practice, GAP) terhadap tanaman mereka. Padahal pemupukan efektif meningkatkan kepadatan biji kopi sehingga meningkatkan rendemen, yang ujung-ujungnya menambah pemasukan pekebun. Jika produksi kahwa—sebutan kopi di jazirah Arab—asal Liberia itu optimal, kopi liberika layak ditanam luas dan tidak lagi menjadi anak tiri (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img