Menggunakan listrik tenaga surya untuk gedung walet. Suara pelantang tetap terjaga agar walet makin betah.

Trubus — Maksud hati ingin memanen sarang walet, Hartawan, yang bersangkutan ingin namanya disamarkan, malah mendapati gedung miliknya kosong. Burung-burung walet meninggalkan gedung. Pemilik rumah walet di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah itu mendapati meteran listrik di gedung walet miliknya mati. Imbasnya tweeter atau pelantang suara pemanggil walet pun mati, sehingga walet enggan menginap.
Menurut praktikus walet di Jakarta, Harry Wijaya, tidak berfungsinya tweeter di suatu gedung bisa menyebabkan walet berpindah tempat. Apalagi posisi gedung di sentra walet. Si liur emas itu akan berpindah ke tempat yang lebih nyaman. Menurut Harry walet berpindah jika populasinya masih sedikit. Jika populasi sudah besar, bisa menghasilkan 5.000 sarang per sekali panen tidak akan terlalu bermasalah bila tweeter mati.
Listrik surya

Menurut praktikus walet di Jakarta Barat, Philip Yamin, Hartawan bisa menerapkan listrik tenaga surya untuk mengatasi masalahnya. Energi tenaga surya potensial dikembangkan di Indonesia. “Dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga angin lebih potensial menggunakan tenaga matahari,” kata Philip.
Penggunaan listrik tenaga surya terutama di daerah yang tidak terjamah listrik. Pengalaman Philip membuat tarikan baru di daerah terpencil sangat mahal, mencapai Rp30 juta—Rp40 juta. Menggunakan tenaga surya alternatif sumber daya di daerah terpencil dengan biaya lebih ekonomis. Apalagi Philip mampu mendesain perangkat audio dengan kemampuan menghasilkan 100 tweeter, 2 kanal, dan 1 suara hanya dengan panel surya berdaya 60 watt.
Itu cukup untuk gedung walet di daerah baru atau pionir. Philip menyarankan, peternak di daerah yang teraliri listrik pun memungkinkan menggunakan tenaga surya. Fungsinya sebagai cadangan energi ketika listrik utama mati seperti kasus Hartawan. Namun, perlu diperhitungkan kebutuhan daya. Gedung di sentra walet rata-rata menggunakan daya lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah pionir.

Penyebabnya menggunakan perangkat lebih banyak dan berdaya tinggi. Itu berhubungan dengan jumlah panel surya dan perangkat penyimpanan daya misalnya aki. Penggunaan melebihi kapasitas menyebabkan alat cepat rusak. Menurut Sugeng Widiarso menggunakan listrik asal tenaga surya dikombinasikan dengan listrik konvensional menghemat biaya 10%. Warga Kota Depok, Jawa Barat, itu pengguna listrik tenaga surya sejak 2017.
Mutu aki
Sistem tenaga surya di kolam Sugeng terbagi menjadi dua. Pertama, sistem listrik asal tenaga surya terhubung langsung dengan sistem listrik asal perusahaan listrik negara (PLN) yang dikenal dengan on grid system. Koneksi itu mengurangi konsumsi listrik. Sistem kedua menyimpan daya ke baterai atau aki untuk dipergunakan atau off grid system. Sugeng menggunakan 4 panel surya berkapasitas 100 watt per panel.

Selain itu Sugeng juga menggunakan 4 panel surya berkapasitas 50 watt per panel. Total daya dari perangkat panel surya 600 watt. Sarjana Ekonomi alumnus Universitas Pamulang itu menggunakan empat panel surya kapasitas 50 watt untuk on grid system. Sisanya dipakai untuk off grid system. Daya asal off grid system disimpan pada 4 buah aki kapasitas 65 ampere hour (AH) (Lihat Trubus Edisi Khusus Agustus 2017, halaman 108—110 “Kolam Tenaga Surya: Hemat Listrik 10%”).
Menurut Philip kelebihan listrik asal tenaga surya lebih ramah bagi elektronik. Musababnya jarang terjadi lonjakan arus secara tiba-tiba. Konsumen perlu memperhatikan panel surya karena banyak grade atau tingkatan mutu panel surya. Makin kecil pecahan panel surya mutunya makin rendah. “Meskipun kapasitas sama 100 watt, panel surya dengan pecahan besar akan lebih optimal,” ujar ayah 1 anak itu.
Memasang panel surya pun ada aturannya. “Begitu kena sidik jari kualitas panel surya akan menurun,” kata Philip. Oleh karena itu, teknik konvensional menggunakan sarung tangan ketika memasang. Perusahaan besar memasang panel surya dengan mesin serbaotomatis agar panel bisa bekerja optimal. Hal lain yang mesti diperhatikan adalah pemilihan penyimpanan daya atau aki. Menurut Philip pilihannya adalah aki basah atau aki jel khusus untuk tenaga surya.
Harga aki khusus tenaga surya tentu lebih mahal. “Ukuran 100 ampere saja 2,5 lipat lebih mahal dibandingkan aki basah,” kata Philip. Bobotnya pun berbeda. Bobot aki basah 15 kg, aki khusus tenaga surya minimal 35 kg. “Padahal volumenya lebih kecil,” kata praktikus walet sejak 2000 itu. Menurut Philip aki khsusus sel surya bisa optimal sampai 5—10 tahun, tergantung cara pemakaian. Adapaun aki basah hanya sekitar 3 tahun. (Muhamad Fajar Ramadhan)
