Wednesday, January 28, 2026

Dari Bank ke Kebun Kakao

Rekomendasi
- Advertisement -

Berhenti menjadi bankir dan sukses mengolah kakao organik untuk pasar ekspor.

Kadek Surya Prasetya Wiguna, S.E. Membangun desa kelahiran dengan kakao.

Trubus — Karier Kadek Surya Prasetya Wiguna sejatinya cemerlang. Ia bergabung dengan bank pelat merah pada 2007 sebagai management trainee. Kariernya cemerlang. Ia menjadi Relationship Manager 6 tahun kemudian. Begitu juga kinerja Kadek Surya terbukti bagus. Ia dinobatkan menjadi karyawan terbaik se-Indonesia pada Desember 2016. Namun, setahun berselang pemuda itu menyudahi kariernya di dunia perbankan selama 9 tahun.

Kadek kembali ke Desa Caubelayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Ia lahir dan tumbuh besar di desa yang berjarak 28 km dari Kota Denpasar, ibu kota Provinsi Bali. Kembali ke desa, Kadek Surya melepas pakaian rapi. Hasrat memajukan desanya pun kembali berkobar-kobar. Ia memilih mengolah buah kakao yang melimpah. Masyarakat setempat berkebun kakao sejak 1970-an.

Kakao organik

Kadek Surya memanfaatkan uang pesangon untuk modal membangun pabrik di atas lahan 1 hektare. Menurut pria kelahiran 24 November 1987 itu hambatan berbisnis olahan kakao adalah teknologi industri. Mesin pengolah berkualitas baik masih terbatas. Ia mengimpor mesin dari Belanda dan Swiss pada 2017. Pabrik terdiri atas 30 mesin pengolah cokelat yang menghasilkan 15 ton biji kakao per bulan.

Pasokan buah kakao dari petani setempat membudidayakan tanaman secara organik. “Kakao hasil budidayanya bebas dari kontaminasi bahan kimia sintetis. Olahannya juga kami gunakan bahan yang sehat. Gulanya menggunakan gula kelapa yang juga organik,” kata Surya. Surya mengatakan, kandungan biji cokelat pada produkya beragam, mulai 55—73%. Itu jauh lebih besar daripada cokelat-cokelat yang beredar di pasaran.

Surya berharap masyarakat Indonesia meningkatkan ketertarikan terhadap cokelat sehat hasil budidaya organik. Ia memperoleh sertifikasi organik dari Indonesia, Eropa, dan Amerika Serikat. Cokelat organik rasanya lebih pahit dan harga lebih mahal, sehingga permintaan pasar lebih banyak dari mancanegara. Ia melabeli cau chocolate pada cokelat olahannya untuk mengabadikan nama desanya.

Pengusaha muda itu menyajikan beragam jenis olahan cokelat organik, dari olahan biji cokelat hingga cokelat batangan. Olahan cokelat batangan dengan campuran susu, kacang mete, hingga almon yang digemari konsumen. “Sekarang berkat bantuan koperasi, yang bekerja sama lebih banyak hampir 1.000 mitra,” kata Kadek Surya yang menyerap 80 karyawan.

Pasar mancanegara

Kini Surya bekerja sama dengan 150 mitra toko dari Bali dan Jakarta untuk memasarkan cokelat kreasinya. Dari perniagaan cokelat itu omzet Surya fantastis, Rp800 juta per bulan. Sejak 2018 Surya mengekspor cokelat olahan kelima negara, yakni Selandia Baru, Australia, Singapura, Malaysia, dan Hongkong. Volume ekspor mencapai 1—2 ton per tahun. Pasar mancanegara menghendaki cokelat dengan kandungan kakao organik 63%, 70%, dan paket vegan cokelat dengan kadar kakau organik 80%.

“Saat ini sedang dibicarakan untuk pengiriman ke Amerika Serikat,” kata Surya yang berpendapat cokelat membantu menurunkan stres dan menjaga kesehatan jantung. “Misi kami adalah menciptakan ekonomi hijau tanpa merusak alam. Ia memberikan wadah bagi masyarakat untuk termotivasi agar tidak malu jadi petani. Dengan syarat harus komitmen dan jujur,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar itu.

Produk cokelat organik karya Cau chocolate. (Dok. Kadek Surya Prasetya Wiguna, S.E.)

Selain fokus dalam budidaya dan olahan cokelat organik, Surya juga menerapkan perkebunan nirlimbah alias zero waste. Ia mengolah kembali limbah produksi kakao sehingga tidak terbuang sia-sia menjadi sampah. “Limbah kulit kakao kami jadikan pakan ternak, sedangkan kulit ari kakao kami kembalikan lagi ke lahan menjadi pupuk,” kata Surya yang berharap Cau Chocolate bisa menjadi pabrik cokelat terbesar di dunia dengan diawali terbesar di Bali.

Selain olahan cokelat, Cau Chocolate menawarkan beragam paket aktivitas berupa tur cokelat. Tur itu beragam kegiatan seperti menjelajah kebun hingga proses pembuatan cokelat. Kegiatan itu telah sepaket dengan pemandu yang akan menuntun pengunjung sambil menjelaskan setiap kegiatan. “Cau Chocolate konsep bisnisnya memang terbagi menjadi tiga. Produksi, edukasi, dan destinasi,” kata Surya. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img