Wednesday, May 6, 2026

Hemat Pakan 20%

Rekomendasi
- Advertisement -

Pakan alami azola mengehemat biaya pakan 20%. Ikan bongsor.

Pemberian azola segar sebagai pakan ikan lebih praktis. (Dok. Trubus)

Trubus — Peternak nila di Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Baban Subandi semringah. Pasalnya, sejak 2018 Baban bisa menghemat biaya pakan hingga 20%. Itu karena ia menggunakan pakan alternatif kayu apu dadak atau azola Azolla pinnata. Dalam satu siklus budidaya selama 3 bulan, ia memerlukan 3 ton pakan untuk populasi tebar 2.000—2.500 ekor. Harga pakan Rp9.500 per kg.

Peternak nila sejak 1999 itu menghabiskan biaya pakan Rp28.500.000 per sekali budidaya. Sejak 2018 biaya produksi untuk pakan di kolam Baban hanya Rp22.800.000 atau turun 20% dari biaya semula. Sebanyak 20% kebutuhan pakan atau 600 kg pakan digantikan azola. Penurunan biaya produksi tentu menjadi nilai tambah peternak. Baban memperoleh bibit kiambang dari mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan Bogor pada 2017.

Protein kasar

Pada 2018 Baban memberikan pakan kombinasi antara pelet dan kiambang. Hasilnya memuaskan, potensi rasio konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) mencapai 1,4. Pemberian 1,4 kilogram pakan menjadi 1 kilogram daging. Sementara nilai FCR pelet tanpa kiambang 1,5—1,6. Peternak berusia 59 tahun itu menghabiskan 1,5—1,6 kg pakan untuk menghasilkan 1 kg daging. Artinya pemberian azola merangsang pertumbuhan nila lebih optimal dan efisien.

Fermentasi azola

Hanya 10% dari luasan kolam untuk budidaya azola. (Dok. Trubus)

Peneliti di Balai Riset Perikanan Air Tawar, Kota Bogor, Jawa Barat, Reza Samsudin, S.Pi., M.Si., menuturkan, konsep awal penambahan azola di kolam sebagai bioremediator atau untuk mengurangi penumpukan limbah budidaya. Namun, tanaman paku air itu bermanfaat juga sebagai pakan tambahan. Azola antara lain mengandung protein kasar cukup tinggi.

Pemanfaatan azola menjadikan konversi pakan makin efisien. Namun, penggunaan azola hanya dapat digunakan dalam batas tertentu. Faktor pembatasnya adalah serat kasar. “Dalam jumlah banyak sulit dicerna oleh ikan nila,” kata Reza. Oleh karena itu, peternak sebaiknya menggunakan kombinasi pakan komersial dan azola. Magister Sain Akuakultur alumnus Institut Pertanian Bogor itu menduga, azola berperan sebagai tumbuhan yang dapat merangsang sistem imun, sehingga ikan lebih sehat.

Baban menyediakan 10% luasan kolam sebagai tempat perkembangan azola. Itu cukup sebagai sumber pakan kombinasi 20% dari total kebutuhan pakan. Jika luas kolam 100 meter persegi, luasan 10 meter persegi cukup sebagai tempat perkembang biakan azola. Baban menggunakan jaring sebagai pembatas antara ikan dan azola.

Peternak nila di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Baban Subandi, menghemat pakan ikan hingga 20%. (Dok. Trubus)

Kebutuhan benih azola 1 kilogram per meter persegi. Baban biasa membenanmkan 30 kg kotoran hewan sebagai pupuk sebelum menebar azola. “Selang 2 pekan biasanya azola sudah memenuhi luasan jaring,” katanya. Ia memberik pupuk tambahan berupa campuran molase atau tetes tebu, pupuk hayati, dan Urea. Baban kerap menyiram 240 mili liter pupuk cair setiap pekan. “Sisa kotoran ikan pun bisa menjadi pupuk bagi azola,” katanya.

Menurut Luthfi Adhi Virnanto dari Program Studi Budidaya Perairan Universitas Diponegoro, fermentasi mengoptimalkan gizi azola sebagai pakan. Fermentasi menyebabkan kandungan protein meningkat dan serat kasar berkurang. Hasil penelitian Virnanto menunjukkan, pertumbuhan relatif ikan yang mendapat tambahan 20% pakan azola fermentasi mencapai 0,80—0,05% per hari. Adapun pertumbuhan relatif ikan tanpa penambahan fermentasi azola hanya 0,37—0,02% per hari.

Kadang-kadang Baban memfermentasi azola. Namun, menurut sulung 10 bersaudara itu memfermentasi azola lebih ribet di tingkat peternak. Ia kini hanya memberikan azola segar. Ia memanen paku air di jaring pada sore hari, lalu melemparkan ke permukaan kolam. Nila Oreochromis niloticus pun berpesta pora menyantapnya. (Muhamad Fajar Ramadhan)


Artikel Terbaru

Perbedaan Philodendron dan Monstera: Jangan Sampai Salah!

Philodendron dan monstera sering dianggap sama karena masih satu famili Araceae. Namun keduanya memiliki karakter yang berbeda secara visual...

More Articles Like This