Wednesday, January 28, 2026

Per Hektare 40.000 Vanili

Rekomendasi
- Advertisement -

Sistem penanaman kolom ganda meningkatkan produksi 60%.

Populasi meningkat 60% dengan kolom ganda. (Dok. Trubus)

Trubus — Tongkat setinggi 2 m mencuat dari guludan selebar 100 cm. Permukaan guludan selebar 50 cm itu ditancapi sepasang tongkat sehingga pada guludan sepanjang 20 m tertancap 40 tongkat. Jarak antarkolom dan jarak antarderet tongkat sama-sama 50 cm. Dasar guludan berimpit dengan guludan di sebelahnya. Tongkat itu setek batang gamal Gliricidia sepium. Tanaman anggota famili Fabaceae itu menjadi naungan bibit vanili Vanilla planifolia di bawahnya.

Penanaman gamal dan vanili hampir bersamaan. Itulah sebabnya pada saat liputan, gamal belum memunculkan daun sehingga naungan belum terbentuk. Para pekerja menyelubungi bibit-bibit vanili dengan jaring peneduh atau karung plastik untuk meredam intensitas sinar matahari. Sebanyak 2—3 ruas dari bibit setekan sepanjang 100 cm yang terdiri dari 6—7 ruas itu ditanam dalam tanah. Sisanya yang di atas tanah menumbuhkan 12—17 daun.

Pemupukan intensif

Selubung jaring peneduh mengurangi intensitas sinar sekaligus menjadi sungkup individual. (Dok. Trubus)

PT Hibar Buana Jaya (HBJ) menerapkan sistem tanam rapat atau high density planting di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 2019. Menurut deputi tenaga ahli penanaman vanili PT PT Hibar Buana Jaya, Eko Marianto, cara penanaman itu meningkatkan populasi menjadi 400 tanaman dari semula hanya 250 tanaman per 100 m². Di lahan 1 hektare populasi menjadi 40.000 tanaman. Pada penanaman konvensional, populasi hanya 25.000 tanaman per hektare.

“Tujuannya mengoptimalkan tempat,” kata Eko. Anggota Perkumpulan Forum Petani Vanili Indonesia (PFPVI), Andre Prasetyo menyatakan, penambahan populasi itu cocok dilakukan di lokasi PT HBJ lantaran elevasinya rendah, 170—180 m di atas permukaan laut. Sudah begitu, tempatnya cenderung rata sehingga sinar matahari memapar sejak terbit sampai tenggelam. “Tajuk pohon penaung lebih cepat menutup sehingga pertumbuhan vanili lebih baik,” kata Andre.

Konsekuensinya, perawatan menjadi prioritas utama. Selain untuk mencegah vanili mengalami stres akibat pengaruh agroklimat, penambahan populasi otomatis meningkatkan kebutuhan nutrisi. Eko mengandalkan kompos, pupuk NPK cair, mikroorganisme lokal (MOL), antibiotik (larutan pestisida hayati), dan pupuk guano sebagai sumber nutrisi utama. Kompos untuk memulihkan dari stres pratanam dan sebagai media di penanaman.

Deputi tenaga ahli penanaman PT Hibar Buana Jaya, Eko Marianto. (Dok. Trubus)

Ia membuat sendiri pupuk NPK cair dan mengocorkan 2 kali sepekan ke perakaran tanaman. Eko menyemprotkan antibiotik ke batang 3—4 kali sepekan. Selain itu ia mengocorkan MOL ke perakaran sebulan sekali. Pemberian pupuk guano ke perakaran 2 bulan sekali. Perlakuan terhadap vanili seperti merawat bayi. Perlakuan itu rutin sampai tanaman berumur 6—8 bulan atau panjang sulur di atas tanah lebih dari semeter.

Setelah itu ia mengurangi pemupukan NPK menjadi sepekan sekali sementara frekuensi MOL dan guano ajek. “Setiap 6 bulan tambahkan kompos di sekitar perakaran,” kata pria asal Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu. Agar lebih cepat berproduksi, Eko menanam bibit setekan panjang—julukan pekebun vanili untuk penanaman bibit dari setekan sepanjang 1 meter. Setekan panjang juga lebih cepat pulih dari stres sehingga lebih cepat tanam.

Bahan setekan harus vigor dan sehat, sementara yang tampak keriput tersingkir. “Lengkungkan lalu timbun sedalam 5—7 cm dalam kompos dan tutup dengan sabut kelapa. Siram tiap hari dengan antibiotik,” katanya. Perlakuan itu sekaligus mematikan spora cendawan fusarium yang mungkin terbawa dalam sulur. Menurut Andre Prasetyo jejak infeksi fusarium berupa titik-titik hitam di permukaan sulur.

Sabut kelapa

Titik-titik hitam itu justru menandakan sulur bebas dari cendawan busuk akar. Dalam 3—4 hari, muncul benjolan putih calon akar. Kemunculan calon akar itu menandakan setekan siap tanam. Satu atau dua pekan sebelumnya, Eko membuat bedengan berbentuk trapesium setinggi 25 cm selebar 1 m. Permukaan datarnya selebar 50 cm, sedangkan sisi miring di kanan dan kiri 25 cm. Panjang bedengan menyesuaikan lahan.

Penanaman batang gamal sepekan sebelum memperlakukan setekan vanili. Ia membuat lubang tanam sedalam 10—15 cm untuk menanam setekan vanili. Ia cukup menggali dengan tangan, memasukkan setekan, mengisikan kompos, lalu menutup dengan sabut kelapa. Sabut kelapa memberikan unsur kalium sekaligus mempertahankan kelembapan. Usai menancapkan setekan, ia menyelubungkan jaring tanam atau karung plastik.

Sabut kelapa di permukaan media tanam mempertahankan kelembapan. (Dok. Trubus)

Selubung itu sekaligus berfungsi sebagai sungkup individual. Dengan demikian ia tidak perlu membentangkan jaring penduh di atas penanaman yang luas totalnya 4 hektare itu. Setelah itu ia memulai perawatan intensif selama 6 bulan. Eko menganjurkan penanaman setekan pada sore hari untuk mengurangi stres pada bibit. Cara itu terbukti efektif. “Tingkat kematian bibit kurang dari 1%,” ujarnya.

Setekan keriput yang belum ditanam pun masih mungkin tumbuh kalau didiamkan karena sulur sejatinya menyimpan cadangan air. Menurut Eko paling lama sebulan kemudian muncul benjolan yang menandakan sulur siap tanam. Setelah tumbuh baik dan terlindung naungan, vanili masih memerlukan pemupukan teratur agar produksi optimal. Sistem kolom ganda itu menjanjikan hasil 60% lebih banyak. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img