Thursday, January 29, 2026

Pasar Cari Bibit Vanili

Rekomendasi
- Advertisement -
Tanaman produktif berasal dari bibit berkualitas dan bebas penyakit. (Dok. Trubus)

Permintaan bibit vanili melonjak signifikan. Peluang pasar bagi para pembibit. Konsumen mesti berhati-hati karena beredar bibit vanili hutan, kelak polong tak laku di pasaran.

Trubus — “Total luas lahan 40 hektare, tapi baru 4 hektare yang tergarap,” kata Deden Sunandar, presiden direktur PT Hibar Buana Jaya (HBJ). Perusahaan itu merupakan pengembang kavling vanili di Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lahan itu terbagi menjadi 283 kavling yang luasnya 100 m2 per kavling. Direktur teknik PT HBJ, Dede Permana menyatakan, setiap kavling terdiri atas 250 tanaman vanili. Oleh karena itu, populasi 283 kavling mencapai 70.750 tanaman vanili.

Direktur utama developer kavling vanili PT Hibar Buana Jaya, Deden Sunandar. (Dok. Trubus)

Direktur keuangan PT HBJ, Lukman Hakim menyatakan, pada Oktober 2019 tahap pertama seluas 4 ha itu terjual 85%. Jika nantinya seluruh 40 ha lahan, minus 20% luasan untuk jalan akses, maka di 32 ha itu ada 8 juta tanaman vanili. Padahal, selain PT HBJ, di Kabupaten Bogor ada satu perusahaan lain yang juga mengembangkan kavling vanili. Itu belum menghitung kebutuhan pekebun perorangan maupun lembaga.

Banjir pesanan

Ketua Perkumpulan Forum Petani Vanili Indonesia (PFPVI), Abu Darin memperkirakan, sejak orang ramai menanam, kebutuhan bibit vanili di Indonesia mencapai lebih dari 500.000 bibit pada 2019. Padahal, kebutuhan bibit pada 2018 saja belum terpenuhi. Pembibit di Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Lukman Wijaya tidak mampu memenuhi permintaan 2.000 bibit per pekan dari seorang pembeli. “Kami hanya mampu mengirim 500 bibit, paling banyak 1.000 bibit per minggu,” katanya.

Ketua Perhimpunan Forum Petani Vanili Indonesia (PFPVI), Abu Darin. (Dok. Trubus)

Enam bulan terakhir, Lukman merasakan permintaan meningkat fantastis. “Dulu permintaan pembeli tidak banyak, paling 200 bibit sekali membeli. Bulan kemarin, ada pembeli meminta bibit untuk lahan 17 ha,” katanya.

Pembibit di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Fais Chaniffudin, merasakan hal sama. Bersama kelompok binaannya, tiap hari Fais menyiapkan 3.000—5.000 bibit yang selalu habis terjual. Sejak 2019, ia tidak pernah berhenti memperbanyak bibit lantaran permintaan juga mengalir tanpa henti. Gambarannya, sekarang setiap bulan ia melayani permintaan minimal 1.000 bibit. Pada 2018 permintaan yang masuk baru puluhan atau ratusan bibit per bulan.

Derasnya permintaan membuat warga Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Irman Hidayat menerjuni bisnis bibit vanili sejak Juli 2019. Ia mengandalkan pemasaran daring (online). Hingga kini ia mengirimkan lebih dari 50.000 bibit kepada pembeli di berbagai daerah. “Saya mengirim bibit kepada pembeli di Balikpapan, Medan, Bengkulu, Makassar, dan Aceh selain ke berbagai daerah di Jawa,” katanya.

Menurut Fais permintaan bibit selalu ada tapi tidak semua bisa dituruti. “Pembibitan juga memerlukan waktu,” ujarnya. Sejak batang setek datang dari kebun sampai menjadi bibit siap tanam di lahan memerlukan waktu 1,5—2 bulan. “Setekan yang dikerjakan hari ini baru bisa ditanam paling cepat 6 minggu lagi,” kata pria yang turun-temurun menanam vanili itu. Bahkan, ia pernah menjumpai setekan yang baru bertunas setelah 6 bulan.

Vanili hutan

Meski permintaan melonjak, bukan berarti harga bibit lantas menjulang tinggi. Fais menjual Rp8.000 untuk sulur 0,5—1 m yang belum diperlakukan. Harga bibit polibag setinggi minimal 20 cm hanya Rp10.000. Sementara itu Lukman membanderol Rp6.000—Rp7.000 untuk bibit berdaun dua, sementara harga bibit berdaun 3 mencapai Rp8.000—Rp10.000. Banderol harga Irman juga Rp7.000—Rp8.000 per polibag.

Setekan vanili memerlukan waktu 1,5—2 bulan sampai menjadi bibit siap tanam. (Dok. Trubus)

Periset di Badan Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Kota Bogor, Jawa Barat, Drs. Cheppy Syukur mengatakan, tingginya permintaan bibit vanili menjadi peluang bagi beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab. “Ada pembibit yang menjual vanili hutan sebagai vanili komersial atau bibit dari tanaman yang terinfeksi busuk batang,” katanya. Vanili hutan jenis Vanilla pompana maupun V. albida sangat mirip vanili komersial.

Syukur mengatakan, polong kedua jenis vanili itu—Vanilla pompana maupun V. albida—tidak wangi. Oleh karena itu, pasar menolaknya. Keruan saja buah vanili hutan tidak laku dijual. “Bayangkan celakanya pekebun yang menunggu dan merawat tanaman selama 2 tahun, hasilnya tidak bisa dijual atau tanamannya malah busuk lalu mati,” kata Cheppy.

Peneliti bidang pemuliaan tanaman itu menganjurkan pembibit vanili mendaftarkan diri ke Dinas Pertanian setempat untuk mendapatkan sertifikat. Pembibit yang mengantongi sertifikat berhak membuat bibit berlabel. Calon pekebun pun mendapatkan kepastian bahwa mereka menanam bibit yang bermutu dan bebas penyakit. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img