
“Pandemi mengubah pola hidup masyarakat sedunia. Peluang bisnis baru terbuka,” kata Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Sc.

Trubus — Pernyataan Bungaran Saragih mengejutkan semua peserta seminar daring (webinar). “Pandemi Covid-19 memberikan peluang besar,” kata Menteri Pertanian periode 1999—2004 itu. Di balik rantai distribusi yang tersendat, pasokan yang tidak tersalur, pasar yang tidak mendapat pasokan, maupun daya beli yang anjlok, terbuka kesempatan baru. Bungaran merujuk kepada upaya mandiri untuk memenuhi kebutuhan.
Sementara itu Wakil Menteri Pertanian 2010—2011, Dr. Bayu Krisnamurti, M.Si menyatakan, penyediaan pangan Indonesia bermasalah bahkan sejak sebelum pandemi. Ia merujuk kepada fluktuasi harga dan kecenderungan mengatasi kelangkaan pasokan dengan impor alih-alih manajemen budidaya. Toh, senada dengan Bungaran, Bayu menyatakan permintaan produk pertanian di rumah meningkat seiring pembatasan sosial di banyak daerah. “Permintaan makanan sehat, suplemen, atau bahan herbal malah naik luar biasa,” ujarnya.
Perlu teknologi
Salah satu pengusaha yang membuktikan ucapan Bayu itu adalah produsen minyak kelapa murni (VCO) di Kabupaten Lebak, Banten, Mohamad Tohier. Pada April 2020, permintaan VCO yang biasanya hanya 200—250 liter per bulan melonjak dua kali lipat. Ia meminta pasokan dari kawan sesama produsen. Sayang, mantan karyawan bank pelat merah itu terlambat. Semua produsen VCO saat itu bernasib sama, kehabisan stok akibat permintaan meledak. Ia menghubungi lima kawan, semua menyatakan kehabisan stok.
Pengalaman Tohier membuktikan, ucapan Bungaran dan Bayu, peluang bisnis berbasis produk pertanian terbuka. Pelaku bisnis mesti menyambut peluang itu dengan mengupayakan produksi selagi kesempatan terbuka. Produksi makanan sehat sangat bisa dilakukan di rumah, contohnya pembuatan sayuran mikro (microgreen). Produsen sayuran mikro di Setiabudi, Bandung, Soeparwan Soeleman menyatakan saat ini produksi mandek lantaran pasarnya yang 100% restoran tutup akibat pembatasan sosial.
Namun, kondisi itu ia yakini akan segera berlalu. Untuk sementara, Soeparwan mengganti kegiatannya dengan mengadakan pelatihan pembuatan sayuran mikro secara daring melalui kanal media sosial atau aplikasi ponsel. Selain memperkenalkan manfaatnya, cara itu juga memperluas pasar. Dalam kondisi normal bisnis itu menggiurkan lantaran masa budidaya sangat singkat, hanya 2—3 pekan. Harganya pun lumayan karena mesti menggunakan benih khusus.

Menurut Soeparwan benih tanaman hortikultura di toko pertanian dilindungi lapisan dari bahan pestisida untuk mencegah serangan hama maupun penyakit. Lapisan itu yang dikhawatirkan ikut termakan kalau benih dibuat sayuran mikro. Periset di Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Prof. Sobir, Ph.D menyatakan saat ini sektor pertanian, khususnya komoditas hortikultura, terpukul akibat pandemi. Transisi menuju perilaku normal baru menyebabkan ketimpangan pasokan dan permintaan akibat gangguan disribusi.
Salah satu peluang mengatasi adalah dengan membudidaya di dekat pasar, seperti yang dilakukan program pertanian perkotaan. Agar hasilnya maksimal di lahan terbatas, pertanian perkotaan memerlukan sentuhan teknologi. Direktur utama produsen rumah tanam pintar PT Nudira Sumber Daya Indonesia, Nursyamsu Mahyuddin menyatakan, teknologi bisa mengoptimalkan pemakaian lahan sekaligus meningkatkan produktivitas.
Contohnya pemakaian kantong tanam untuk mengoptimalkan ruang, seperti dilakukan Winartania di Kota Bekasi, Jawa Barat (Baca “Berkebun di Rumah Kita” halaman 36—37). Tidak kalah penting, pengolahan pascapanen untuk mempertahankan kualitas. Meski dekat dengan pasar, produk hortikultura hasil pertanian perkotaan mesti tahan simpan selama beberapa lama, tidak langsung rusak. Hesti Haya Hakim di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mengeringkan hasil panen dengan sinar matahari antara 07.00—10.00 atau 15.00—17.00.
Selain itu ia juga mengolah beberapa jenis sayuran basah menjadi kimchi—acar sayuran khas Korea. Bertani di perkotaan menjadi pilihan menjanjikan. Itu karena masyarakat dapat memanfaatkan bagian rumah sebagai “lahan”, di mana pun bisa. Di teras, dak, pagar, dan dinding. (Argohartono Arie Raharjo)
