Wednesday, January 28, 2026

Bisnis VCO Saat Pandemi Korona

Rekomendasi
- Advertisement -

Permintaan minyak kelapa murni melonjak saat pandemi korona. Produsen baru bermunculan.

Selama masa pandemi korona, permintaan virgin coconut oil cenderung melonjak. (Dok. Trubus)

Trubus — Mohamad Tohier menjadikan minyak kelapa kela murni (virgin coconut oil, VCO) sebagai jalan hidup sejak 2011. Pabrik miliknya di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, rutin memproduksi 500—1.000 liter VCO per bulan. Namun, pada Mei 2020 ia terhenyak. Permintaan datang bertubi-tubi sampai ia kehabisan stok. “Pembeli tidak mau menunggu kiriman dari pabrik di Lebak,” katanya.

Tohier menghubungi produsen VCO lain untuk membeli produk mereka. Untungnya jejaring itu membantu mengatasi kekurangan. Pada Mei—Juni 2020 penjualan merek Cocopala produksi Tohier melonjak dua kali lipat menjadi 2.000 liter. Salah satu pemicunya pemberitaan sembuhnya motivator ternama Tung Desem Waringin dari Covid-19. Selama perawatan ia mengonsumsi VCO selain obat dan suplemen dari dokter (baca “VCO versus Covid-19”, Trubus Mei 2020).

Perang harga

Produsen VCO di Kabupaten
Lebak, Banten, Mohamad Tohier.

Pada masa pandemi korona masyarakat berbondong-bondong mencari VCO. Pegiat di Jakarta Timur, Annas Ahmad juga merasakan hal serupa. “Permintaan naik tapi kami mendahulukan pelanggan,” kata alumnus Fakultas Teknik Universitas Brawijaya itu. Pada akhir Juni 2020, penjualan Tohier kembali ke tingkat normal. Salah satu pemicunya adalah kemunculan produsen-produsen kelas rumahan baru.

Ia mengamati, di salah satu grup media sosial yang semula untuk berbagi cara membuat minyak perawan kelas rumahan bermunculan penjual “dadakan”. “Kebanyakan memajang foto VCO dalam botol lengkap dengan label. Biasanya mereka coba-coba, kalau tidak habis untuk konsumsi sendiri,” kata alumnus Magister Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor itu.

Kemunculan produsen baru tentu memengaruhi permintaan produsen lama karena pemain baru itu berani mengobral harga. Padahal, produsen VCO yang mapan mempunyai kunci menghasilkan minyak perawan berkualitas. Mereka mengandalkan kejutan suhu dan sentrifugasi untuk memisahkan minyak dari santan. Alat sentrifugal itu tidak murah. “Kalau proses lain bisa menggunakan peralatan dapur seperti mixer. Tapi yang punya alat sentrifugal hanya mereka yang benar-benar berniat membuat VCO,” kata mantan karyawan bank pemerintah itu.

Penggerak produksi VCO di Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, Abdul Jabir Uksim Djambo, S.T., M.M., menyatakan, pasar VCO fluktuatif. “Yang tidak tahu lebih banyak daripada yang tahu,” katanya. Jabir menekankan bahwa kampanye penyadaran pasar menjadi kunci. Ia membandingkan dengan minyak sehat impor yang populer lantaran kampanye masif dan dikenal turun temurun, seperti minyak zaitun atau minyak jintan hitam.

Abdul Jabir Uksim Djambo getol mengkampanyekan VCO di Buton Utara. (Dok. Pribadi)

Harga VCO tidak jadi masalah karena tergolong masuk akal. “Harganya tinggi tapi permintaan juga besar. Padahal, khasiat VCO terbukti lebih baik,” kata Jabir. Itu sebabnya Jabir tidak sekadar berkutat di produksi. Ia rajin mengampanyekan minyak perawan asal Pulau Aspal itu. Menurut Tohier standar kualitas VCO Indonesia terbaik dibandingkan dengan produk serupa dari India atau Srilanka. Ia menyatakan kedua negara itu memproduksi VCO melalui proses tekan dingin.

“Mereka mengurangi kadar air secara mekanis dengan tekanan dan pemanasan hingga 60°C. Tapi itu hanya suhu di pinggir, kalau di tengah pasti lebih dari itu,” katanya. Annas Ahmad dan Mohamad Tohier memproduksi VCO dengan metode yang hampir serupa. Mereka mendinginkan santan sampai bagian padat dan cair terpisah. Bagian cair itu mereka putar di alat sentrifugal sampai air dan minyak terpisah.

Rasa dan aroma

Cara itu hanya dengan mendiamkan santan hingga delapan jam sampai bagian padat mengendap. Di atas endapan itu air dan minyak pun terpisah. Produsen tinggal mengambil minyak lalu menyaring. Kelemahannya, VCO yang dibuat dengan cara itu kadang berbau masam. “Santan kita biarkan di ruangan terbuka pasti masam. Hal itu memengaruhi kualitas minyaknya,” kata Tohier. Padahal minyak perawan itu dikonsumsi secara oral. Artinya, “Rasa dan aroma harus diutamakan,” kata produsen VCO di Jakarta Selatan, Sri Lestari Surardjo.

Produsen VCO dan Ketua Pepmikindo, Sri Lestari (duduk, tengah). (Dok. M. Tohier)

Kelemahan kebanyakan VCO hasil produksi rumahan adalah masam, tengik, atau memicu tenggorokan gatal setelah konsumsi. Menurut Sri Lestari aroma tengik muncul akibat kontaminasi mikrob perusak selama proses produksi. Cara fermentasi yang mendiamkan santan berjam-jam sampai terpisah berpeluang terkontaminasi mikrob penyebab tengik. ”Proses produksi sebaiknya secepat mungkin untuk menghindari kontaminasi,” kata ketua Perhimpunan Pengusaha Minyak Kelapa Indonesia (Pepmikindo) itu.

VCO hasil fermentasi tetap berkhasiat. Namun, Tohier menyarankan tidak untuk konsumsi oral. Ia menyatakan VCO hasil fermentasi lebih cocok untuk aplikasi topikal (kulit) atau produk kosmetik. Jika ingin membuat VCO untuk konsumsi oral, sentrifugasi cara terbaik. Ia yakin peluang VCO besar jika produsen mampu menghadirkan produk berkualitas konsisten. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img