
Pemerintah tengah menguji klinis jamur parasit ulat untuk mengatasi virus korona.

Trubus — Pemerintah Indonesia menapak selangkah lebih jauh dengan menguji klinis paduan herbal terhadap pasien virus korona sesuai kaidah baku dunia kedokteran. Pada Juni 2020, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan tim dokter Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, dan berbagai pihak lain menguji klinis di Wisma Atlet. Para periset menguji dua kandidat obat. Pertama racikan yang berisi jahe merah, meniran, sambiloto, dan daun sembung. Kandidat lainnya jamur kordiseps Cordyceps militaris.
Koordinator uji klinis dan peneliti bioteknologi dari LIPI, Masteria Yunovilsa Putra, S.Si., M.Si., Ph.D. menyatakan kedua kandidat itu memiliki khasiat memperbaiki kinerja sistem kekebalan tubuh atau imunomodulator. Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan spesialis penyakit dalam, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD. menyatakan bahan imunomodulator meningkatkan respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi patogen. Jika sistem imun ibarat tentara, imunomodulator berperan mengajari pasukan tentara itu untuk mengenali musuh.
Imunomodulator

Bagi pengobat tradisional, kordiseps bukan tanaman baru. Berasal dari dataran tinggi Tibet, jamur itu hidup parasit di tubuh ulat. Dong chong xia cao, sebutan kordiseps di sana, adalah salah satu bahan obat tradisional Tiongkok (traditional chinese medicine, TCM) paling populer. Wartawan Majalah Trubus Sardi Duryatmo sempat menikmati hidangan sup ayam plus kordiseps di Guangdong, Tiongkok Selatan. Semula jamur yang mirip rumput itu hanya menjadi konsumsi kalangan istana pada masa Dinasti Ming. Setelah khasiatnya terungkap, budidaya masal pun ramai dilakukan (baca “Sehat dengan Ulat Musim Dingin”, Trubus Agustus 2004).
Budidaya kordiseps di media buatan pun dilakukan di Indonesia. Salah satunya oleh pembudidaya jamur di Cugenang, Kabupaten Cianjur, Triono Untung Piryadi. Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu membiakkan dua spesies kordiseps, Cordyceps militaris dan C. sinensis di lokasi berketinggian 1.500 m di atas permukaan laut (dpl). Menurut Triono keduanya berkhasiat, tapi konsumen yang terbiasa makan militaris biasanya tidak suka sinensis demikian juga sebaliknya.
Media tumbuh jamur itu biji-bijian tinggi protein. Di habitat aslinya, jamur itu hanya muncul di ketinggian 4.000 m dpl dan memerlukan ulat hidup sebagai inang (baca “Dari Himalaya Turun Gunung,” Trubus Maret 2009). BUMN bidang medis PT Kalbe Farma mengembangkan produk berbasis kordiseps jenis militaris. Perusahaan pelat merah itu tertarik dengan kandungan polisakarida yang mampu memodulasi sistem imun. Dalam seminar daring (webinar) yang diadakan PT Kalbe Farma pada Juli 2020, pakar biomolekuler Universitas Brawijaya Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., menyatakan zat penting dalam kordiseps antara lain kordisepin, adenosin, dan polisakarida.

Periset di Universitas Toyama, Jepang, Yuko Ohta meriset kemampuan imunomodulasi C. militaris yang dibiakkan di kecambah kedelai. Ia melaporkan bahwa polisakarida asam (acidic polysaccharide, APS) dalam kordiseps itu tersusun atas galaktosa, arabinosa, xilosa, ramnosa, dan asam galakturonat. Yuko mengisolasi polisakarida itu lalu menjadikannya semprotan hidung dan mengujinya terhadap tikus. Dalam laporannya, Yuko menyatakan APS efektif meningkatkan nitrit oksida dan pembentukan protein makrofag. Hal itu membuktikan kemampuan APS meningkatkan daya makrofag sel kekebalan tubuh.
Limpa dan timus

Riset lain oleh peneliti di Universitas Shanxi, Tiongkok, Jing yu Liu memperkuat riset Yuko. Liu mengisolasi polisakarida dari C.militaris yang dalam laporannya ia sebut Cordyceps militaris polysaccharides (CMP). Ia membagi 48 tikus menjadi empat kelompok. Kelompok pertama, kontrol, tidak mendapat asupan CMP. Kelompok kedua sampai keempat berturut-turut mendapat asupan 50, 100, dan 200 mg CMP per kg bobot tubuh per hari. Setelah 30 hari, periset menganalisis indeks viscera, hitungan leukosit, dan level imunoglobulin (IgG).
Hasilnya, pemberian CMP meningkatkan fungsi limpa dan timus—dua organ penting yang mengatur sistem imun. Aktivitas limfosit organ limpa dan jumlah sel darah putih juga meningkat. Dalam pembahasan, Liu menyebutkan CMP meningkatkan kinerja sistem imun dengan cara menekan stres oksidatif. Polisakarida asal jamur itu mampu meredam molekul oksigen radikal dan mencegah kerusakan berantai sel.
Di Wisma Atlet, pengujian klinis terhadap pasien pengidap Covid-19 sedang berlangsung ketika artikel ini ditulis. Hasil penelitian belum diketahui. Menurut Yunovilsa, kedua kandidat—racikan herbal dan kordiseps—hasil budidaya Indonesia dan berizin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Artinya begitu terbukti efektif, kandidat itu bisa langsung diperbanyak dan cepat untuk mengatasi pandemi Covid-19.
Harap mafhum sejak menjadi pandemi di Indonesia pada Maret 2020, virus SARS-CoV-2 menjangkiti kian banyak orang. Tentu saja tubuh manusia tidak pasrah terhadap penyakit, termasuk Covid. Menurut Gugus tugas percepatan penanganan Covid-19, pada 19 Juli 2020 pasien sembuh 45.401 orang, lebih banyak ketimbang yang 36.977 yang dirawat. Sayang, 4.143 jiwa meninggal akibat Covid maupun komorbid atau penyakit penyerta. Kordiseps menawarkan alternatif. (Argohartono Arie Raharjo)
