Friday, August 19, 2022

Pandemi korona :Tubuh Kuat karena Daun Sungkai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Daun sungkai Peronema canescens dimanfaatkan masyarakat Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, untuk kesehatan.

Masyarakat memanfaatkan daun sungkai untuk mengendalikan virus korona. Daun sungkai banyak faedahnya sebagai antivirus.

Trubus — Kayu sungkai ringan dan kuat—termasuk kelas awet II—sehingga masyarakat kerap memanfaatkannya sebagai kerangka atap rumah. Konstruksi tiang dan jembatan juga kerap menggunakan kayu anggota famili Lamiaceae itu. Pada masa pandemi korona, masyarakat di Provinsi Jambi, mengonsumsi daun sungkai untuk mengontrol Corona virus disease-19 (Covid-19). “Saat ini penelitian daun sungkai sedang diarahkan ke sana (virus korona, red),” kata dosen dan peneliti di Universitas Jambi, Dr. rer. nat. Muhaimin, M.Si.

Doktor Teknologi Farmasi alumnus Freie Universität Berlin, Jerman, itu mengimbau masyarakat tetap dapat mengonsumsi daun sungkai sebagaimana bukti empiris. Menurut Muhaimin masyarakat Jambi banyak yang memanfaatkan daun sungkai untuk mengatasi demam dan flu. Selain itu masyarakat juga menggunakannya untuk mengatasi cacing pada anak-anak. Muhaimin menduga daun sungkai mengandung senyawa kimia yang bermanfaat obat.

Riset ilmiah

Menurut Muhaimin belum ada bukti ilmiah daun sungkai untuk mengatasi virus korona. Oleh karena itu, lebih tepat sebagai imunomodulator atau membangun sistem kekebalan tubuh. Jika sistem imunitas kuat, tubuh mampu melawan virus. Bahkan, masyarakat Jambi mengonsumsi langsung daun muda berwarna hijau muda sebagai lalap.

Pemanfaatan daun tanaman Peronema canescens itu terus berlanjut hingga kini. Tanaman sungkai banyak tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Barat. Di Jambi sungkai paling banyak tumbuh di Kabupaten Sarolangun. Riset ilmiah membuktikan daun sungkai berkhasiat meningkatkan kekebalan tubuh. Ariefa Primair Yani dan rekan dari Universitas Bengkulu membuktikannya.

Mereka mengujikan ekstrak daun sungkai pada mencit dengan leukosit yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh sebagai parameter. Sel darah putih bagian dari sistem kekebalan tubuh, yang bertugas melacak dan melawan mikroorganisme atau zat yang membahayakan tubuh. Para periset menguji ekstrak daun sungkai pada 25 mencit yang dibagi menjadi lima kelompok selama 24 jam.

Dr. rer. nat. Muhaimin, M.Si. dosen dan peneliti
di Universitas Jambi. (Dok. Pribadi)

Hasil penelitian menunjukkan, pemberian ekstrak daun sungkai pada kelompok dengan konsentrasi 0,5635 mg per kg bobot badan mencit meningkatkan jumlah sel darah putih hingga 36%. Sel darah putih rata-rata perlakuan kontrol hanya 5.400 sel per mikroliter, sedangkan pada pemberian ekstrak sungkai rata-rata mencapai 7.324 sel per mikroliter. Makin tinggi dosis konsumsi, kian besar pula peningkatan sel darah putih.

Uji ilmiah lain oleh R. Herni Kusriani dan rekan dari Sekolah Tinggi Farmasi Bandung membuktikan daun sungkai juga berfaedah sebagai antibakteri. Mereka menguji ekstrak metanol daun sungkai pada Escherichia coli, bakteri penyebab diare, Salmonella typhi (tifus), dan Streptococcus aureus (pneumonia). Hasil riset menunjukkan, ekstrak daun sungkai menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri.

Sekadar contoh, pada esktrak dengan pelarut etil asetat, Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) pada S. aureus 1024 μg/ml. Bandingkan dengan daya Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) 512 μg/ml. Berdasarkan hasil bioautografi atau uji antibakteri periset menyimpulkan, aktivitas antibakteri daun sungkai diduga berasal dari golongan senyawa alkaloid dan flavonoid.

Bumbu masak

Muhaimin juga menguji daun sungkai sebagai antibakteri. Ia mengatakan, hasil pengujiannya menunjukkan pada konsentrasi ekstrak terendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Menurut Muhaimin pada konsentrasi tertentu eksrak daun sungkai dapat membunuh bakteri uji. “Meskipun belum diujikan pada jamur, tapi ada potensi untuk antibiotik,” kata pria kelahiran 22 Maret 1973 itu.

Valentina Indrajati. Herbalis di Kota Bogor, Jawa Barat.

Uji fitokimia menunjukkan daun sungkai mengandung senyawa-senyawa golongan flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Senyawa aktif secara spesifik belum dapat dipastikan. Menurut Muhaimin senyawa golongan flavonoif dan alkaloid senyawa yang umum terkandung di dalam obat-obatan. Manfaatnya antara lain sebagai antimikrob, antioksidan, dan antiinflamasi.

Penganjur herbal di Kota Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati, sudah lama meresepkan daun sungkai kepada para pasiennya. Biasanya perempuan kelahiran 19 Februari 1965 itu memanfaatkan daun sungkai yang sudah dikeringkan sebagai antiparasitik. “Sejak dahulu (daun sungkai) sudah digunakan. Penduduk pedalaman memanfaatkannya untuk demam akibat malaria, sakit gigi, dan nyeri akibat haid,” kata Valentina.

Selain manfaat obat, daun sungkai juga kerap dimanfaatkan sebagai penyedap masakan. Harap mafhum, Valentina banyak mendapat laporan dari kosumen bahwa rebusan daun sungkai terasa gurih. Perempuan 55 tahun itu biasanya meresepkan 20 gram serbuk daun sungkai, 15 gram daun sambiloto, dan 15 gram daun keladi tikus. Semua serbuk direbus dalam 1 liter air dan diminum 3 kali sehari. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img