Wednesday, January 28, 2026

Bermula dari Rosela di Garasi

Rekomendasi
- Advertisement -
Bunga Rosela (Dok. Trubus)

Produksi minuman kesehatan dari sebuah garasi kecil dan terus berkembang. Omzet kini ratusan juta rupiah per bulan.

Agus Salim S.T.P., Direktur CV Grennlife TIrta Sentosa. (Dok. Agus Salim STP)

Trubus — Lima tahun bekerja mapan dan bergaji memadai, tak membuat Agus Salim, S.T.P. betah. Sarjana Teknologi Pertanian alumnus Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya itu mengundurkan diri dari pekerjaan pada 2010. Pria kelahiran 4 Juni 1974 itu bergeming meski keluarganya keberatan pada keputusannya berhenti bekerja. Agus bukannya menganggur, tetapi beralih ke garasi rumahnya di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.

Di garasi seluas 16 m2 itu Agus mengolah bunga rosela menjadi minuman siap seduh, mirip teh celup. “Bahan-bahan herbal di Indonesia banyak sekali, sayang kalau tidak kita manfaatkan,” ujar Agus. Pria kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur, itu membeli 20 kg bunga rosela Hibiscus sabdariffa kering dari petani di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Agus menggiling dan membuat formulasi minuman tanpa penambahan gula.

Dalam negeri

Di tangan Agus rosela menjadi minuman yang menyegarkan dan berkhasiat. Agus mengemas minuman itu dalam wadah berbobot 40 gram dan menjualnya di toko-toko herbal. Pada bulan pertama ia memproduksi 500 kotak minuman rosela. Agus berpengalaman sebagai pemasar produk herbal, sehingga memudahkan beradaptasi dengan pasar. Ia menelusuri potensi pasar dari toko-toko obat, spa, hingga membuat jalur beragam produk.

Agus Salim, S.T.P. mengolah rosela menjadi bahan minuman siap seduh. (Dok. Trubus)

“Biaya pemasaran itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya produksi, bisa 3—4 kalinya,” ujar Agus. Pada awal berbisnis, Agus meraup laba Rp2 juta— Rp5 juta per bulan. Ia pun mulai meningkatkan produksi menjadi 10.000 kotak minuman sejak 2012—2016 dan mendirikan CV Greenlife Tirta Sentosa. Jenis produknya pun beragam yakni minuman pelangsing, daun sirsak, kulit manggis, minuman bernutrisi untuk spa, dan pelancar air susu ibu.

Dari total produksi itu sebetulnya milik Agus hanya 1.000 kotak per bulan, sisanya yang 9.000 kotak produk pesanan kliennya. “Karena memasarkan produk dengan nama sendiri masih berat, di awal-awal. Jadi, saya membuka kerja sama dengan klien yang produksinya di kita, merk milik klien,” ujar sulung dari 4 bersaudara itu. Menurut Agus kendala berbisnis minuman segar adalah harga bahan baku yang fluktuatif.

Agus berinovasi menciptakan varian baru berupa minuman serai wangi. Semula produk itu belum ada di pasaran. Ia mengombinasikan serai wangi dengan daun sidaguri, daun kumis kucing, daun songgolangit, daun seledri, dan daun lempuyang. Komposisinya 25% daun sidaguri, 25% daun kumis kucing, 20% daun serai wangi, sisanya masing-masing 10%. Agus mengatakan serai wangi meningkatkan detoksifikasi racun-racun dalam tubuh melalui urine.

Agus Salim S.T.P. (bertopi) memperkenalkan produknya kepada Dr Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Koperasi dan UMKM Indonesia periode Oktober 2014—Oktober 2019. (Dok. Agus Salim STP) 

Permintaan meningkat

Pada masa pandemi korona, Agus Salim menghadapi dua kondisi. Penjualan sebagian produk herbal meningkat, tetapi ada juga yang tiarap. Produk untuk kelas menengah ke bawah permintaannya meningkat hingga 30%. Harga produk itu Rp15.000—Rp25.000 per kotak. Namun, produk kelas mengenah ke atas seperti minuman serbuk plum dan minuman serbuk almond dengan harga per kemasan di atas Rp100.000 turun hingga 80%.

Atas dasar itu ia fokus pada konsumen menegah ke bawah seperti minuman berbahan rosela, daun moringa, dan jati cina. Menurut Agus produk-produk berbahan empon-empon laris manis karena masyarakat ingin sehat dengan konsumsi herbal. Harap mafhum beragam produk itu meningkatkan sistem imunitas tubuh. “Kami harus optimis dengan terus berinovasi. Dulu produk jamu kesannya pahit atau tidak enak. Sekarang kita ubah menjadi produk yang enak di lidah dan tetap berkhasiat untuk tubuh,” ujar Agus.

Inovasi itu sesuai kebutuhan konsumen. Pantas produksi beragam minuman kesehatan itu terus meningkat. Setelah 10 tahun merintis bisnis, kini Agus memproduksi meinuman kesehatan itu tidak lagi di garasi rumahnya, melainkan di bangunan permanen seluas 200 m² di sementara lahan budidaya serai dan tanaman lain 1.600 m2. Sebanyak 11 orang membantu produksi. Omzet Agus pun melambung mencapai Rp100 juta—Rp150 juta per bulan. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img