Anthurium, keladi, dan syngonium jawara kontes tanaman hias di Kota Bogor, Jawa Barat. Para pehobi merawat tanaman amat intens.
Tanaman bersosok kerdil itu nyaris tak terlihat di antara jajaran anthurium lain yang lebih besar. Namun, bila diamati lebih dekat, Anthurium star buck milik Chandra Iskandar dan rekan-rekan itu memiliki karakter tak lazim. Daun berbentuk segitiga dengan tepi daun mengeriting. Uniknya daun terbawah justru berukuran kecil sedangkan daun atasnya makin besar.

Pehobi tanaman hias di Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, itu mengatakan, pertumbuhan star buck relatif lambat. Hasil silangan anthurium bintang kejora dan corong itu memiliki sembilan daun dewasa dan satu daun muda. Ia merawat jenis anthurium langka itu sejak pertengahan 2018. Meski ukurannya mini, star buck tampil menawan dan meraih juara pertama kontes tanaman hias piala Dedie A. Rachim di Kota Bogor pada Januari 2021 yang digelar oleh Minaqu Home Nature.
Penyinaran cukup
Setelah kontes, banyak pehobi yang menginginkan star buck koleksi Chandra. “Ada yang menawar Rp50 juta. Saya dan teman-teman sepakat itu tidak untuk dijual,” ujar pemilik Kya Flora itu mantap.
Menurut Chandra genus Anthurium cenderung perlu banyak sinar matahari. “Kecukupan sinar matahari berpengaruh pada karakter daun dan tangkai,” kata Chandra. Bila intensitas penyinaran kurang, tangkai bisa tumbuh memanjang. Terlebih nurserinya ada di kaki gunung dengan kelembapan cenderung tinggi. Sinar matahari dapat menurunkan kelembapan dan mencegah penyakit.

Hal senada juga diungkapkan Helpi Nopita. Keladi koleksi alumnus Budidaya Hutan Universitas Bengkulu itu memperoleh gelar juara harapan pada kontes yang sama. Pemilik Cintaflora Nursery itu merawat keladi baret sejak awal 2020. Keladi Helpi merumpun dengan baik dengan daun meroset. Rahasianya, Helpi memutar arah pot sekali seminggu.
Hasilnya, pertumbuhan pun merata. “Semua sisi pot terisi dan tidak ada ruang kosong,” kata pehobi di Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor itu. Ia

meletakkan keladi di teras yang menghadap timur. Tanaman tersinari matahari sekitar pukul 07.00—10.00.
Tak heran bila warna daunnya begitu tegas. Setiap daun genus Caladium itu memamerkan warna hijau dan merah yang khas dan mencolok. Keladi menginginkan intensitas penyinaran yang tinggi untuk mendapatkan warna terbaik. Namun media tanam tak boleh kering. “Untuk menjaga kelembapan, saya letakkan dalam pot tanah yang sifatnya cenderung dingin,” kata Helpi.
Media porous
Keladi tergolong cepat pertumbuhannya. “Dalam sebulan keladi bisa menghasilkan anakan kalau media tanamnya pas,” kata Helpi. Setahun sudah bisa merumpun. Helpi meracik sendiri media tanam. “Saya campurkan pupuk kandang dan sekam mentah dengan komposisi 1:1,” kata Helpi. Kotoran kambing sudah difermentasikan selama 6—12 bulan. Setelah teksturnya menjadi butiran halus seperti tanah barulah ia campur dengan bahan lain.
Sesekali ia menaburkan furadan pada kotoran kambing untuk menghindari munculnya nematoda. Sekam mentah juga ia diamkan sekitar dua bulan. Di bagian atas media tanam, ia menaburkan pasir malang. Fungsinya untuk menjaga porositas dan mempercantik tampilan.

Ali Nurahman Arly punya cara tersendiri untuk menjaga estetika. Pehobi di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, itu menambahkan lumut pada bagian atas media tanam. Warna hijau lumut itu senada dengan daun Syngonium yellow variegata miliknya. Lumut juga dapat menjaga kelembapan media tanam. Arly menggunakan campuran daun bambu 30%, andam 50%, dan sekam mentah 20%.
Sebelum mengikuti kontes, laki-laki yang menggemari tanaman hias sejak 2002 itu menyemprot daun dengan air dan mengelapnya dari kotoran yang menempel. Syngonium variegata kuning yang ia rawat sejak pertengahan 2020 itu berhasil meraih juara kedua.
Menurut salah satu juri kontes, Dr. Ir. Nurjaya, S.E., M.M., rata-rata tanaman memenuhi kriteria kesehatan yang baik. Tanaman kontes memang harus tampil prima. Apalagi cuaca saat kontes bisa sangat terik atau justru hujan seperti yang terjadi. Oleh karena itu, penting bagi pemilik untuk menyiapkan tanaman dari jauh hari.
Aspek penilaian meliputi tampilan, kesehatan, karakter, dan kelangkaan. Terdapat 114 tanaman kerabat Araceae yang ikut berkompetisi meliputi genus Anthurium, Caladium, dan Syngonium. (Sinta Herian Pawestri)
