Tentu bukan sembarang nasi, tapi nasi asal padi tinggi zat besi. Maklum, tubuh manusia perlu asupan harian 10—20 mg zat besi, sedangkan perempuan hamil perlu 2 kali lipat. Celakanya, pola konsumsi harian masyarakat tanahair belum memenuhi kebutuhan zat besi. Akibatnya, anemia mengancam 50,9% perempuan hamil. Pasalnya, kaum hawa “rutin” kehilangan zat besi saat menstruasi.
Fakta itu mendorong Lembaga Penelitian Universitas Jenderal Soedirman bekerja sam dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengembangkan varietas padi tinggi zat besi. Targetnya, padi pulen berkadar zat besi di atas 20 ppm dengan produktivitas di atas 8 ton gabah/ha. Kebanyakan varietas padi hanya berkadar zat besi 6,5 ppm dengan produktivitas 5—6 ton gabah/ha.
Dari 6 varietas padi yang diteliti, peneliti mendapatkan 3 galur padi kaya zat besi. Masing-masing G37 (21,15 ppm, produktivitas 7,95 ton/ha), G27 (25,06 ppm, 8,2 ton/ha), dan G2 (23,01 ppm, 9,4 ton). Ketiga galur itu bakal menjadi andalan untuk meningkatkan asupan zat besi harian masyarakat melalui bahan pokok.***
