Banyak masalah dihadapi para petani dan nelayan. Hasil Sensus Pertanian 2003, menunjukkan jumlah keluarga petani dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,3 ha semakin banyak. Luasan itu tidak menguntungkan secara ekonomi. Menurut saya perlu dorongan dan sosialisasi konsep konsolidasi usaha di antara petani yang lahannya berdekatan. Tujuannya agar skala ekonomi usahatani dapat diperbaiki. Mestinya ada solusi supaya pengalihan kepemilikan lahan tidak menjadi kavling-kavling kecil yang tidak ekonomis.
Upaya perbaikan kesejahteraan petani sering dihadang oleh turunnya harga jual saat panen raya. Berbagai kebijakan diterapkan seperti penetapan harga dasar gabah dan jaminan pembelian saat harga merosot di bawah harga dasar serta kebijakan pengenaan tarif impor. Sayang, itu belum mengatasi masalah. Pengalokasian dana subsidi pupuk yang pada 2003 dan 2004 berjumlah Rp2,6-triliun dan penetapan harga eceran tertinggi pupuk, juga belum dapat meningkatkan pendapatan petani.
Di tengah keterbatasan kemampuan, kita tetap mencurahkan perhatian padapenyelenggaraan infrastruktur pertanianyang rata-rata berusia di atas 20 tahun. Dibutuhkan biaya besar untuk pemeliharaan dan perbaikan jaringan irigasi yang rusak, baik karena umur maupun bencana banjir. Dalam 2 tahun terakhir, Rp9,2-triliun disiapkan untuk perbaikan dan pembangunan kembali prasarana penting itu.
Konsep pengembangan agribisnis masih harus dilengkapi dengan banyak hal. Kita masih harus memantapkan jaringan kelembagaan, di samping mekanisme pasar untuk mendukungnya. Dukungan perbenihan, penyediaan infrastruktur, teknologi pendukung, dan tenaga-tenaga penyuluh berkualitas juga diperlukan.
Para nelayan tentunya memiliki persoalan yang tidak kalah rumitnya. Ketika masalah para petani relatif teratasi dengan pembangunan sarana irigasi, kredit, dan bantuan sarana produksi, tidak demikian dengan para nelayan kita.
Kegiatan dan kehidupan tradisional mereka tetap terpaku oleh hukum alam yang sulit terelakkan. Pada musim-musim tertentu mereka absen melaut. Penyediaan teknologi, peralatan, dan metode baru untuk melawan ganasnya alam, terbentur permodalan.
Produk pertanian seperti padi, jagung,kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubikayu, dan ubijalar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kecuali kedelai, kita mampu meningkatkan produksi jenis-jenis komoditas itu pada 2003. Untuk padi misalnya, kita mampu meningkatkan produksi dari 51,4 juta ton pada 2002 menjadi 52,1-juta ton pada 2003.
Salah satu kelemahan kita adalah belum tersedianya database pertanian yang memadai. Pemerintah pusat telah menginstruksikan kepada pemerintah daerah untuk terus menggali database di daerahnya. Kelompok-kelompok tani juga seharusnya mengumpulkan semua data sebagai bagian dari database yang formal.
Dengan data itu dapat diketahui masalah yang dihadapi dan solusinya. Adanya data-data potensi dan kelemahan masing-masing kelompok, memudahkan pemilihan komoditas yang bisa dikembangkan. Selama ini petani dan nelayan hanya bisa mereka-reka jenis produk yang bisa diterima pasar.
Program pemerintah yang berjalan baik, yaitu pasar lelang di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pasar lelang agribisnis dan pasar lelang ikan segar itu hasil kerjasama Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Pertanian, serta Departemen Kelautan dan Perikanan. Di sana petani dan nelayan bertemu langsung dengan pembeli. Komoditas yang tersedia dan yang banyak diperlukan, semuanya dapat terlihat di pasar lelang. Yang paling penting saat ini adalah tersedianya database.
Contoh ketika saya membuka pasar lelang Jawa Timur. Saya dan gubernur seperti main tebak-tebakan, komoditas apa yang akan menjadi primadona di pasar lelang. Saya menjawab kemungkinan cabai, gubernur mengatakan lain. Kami berdua salah. Karena yang banyak dicari di pasar lelang di Jawa Timur adalah ikan bandeng. Permintaan pasar pada waktu itu 200 ton/hari. Sedangkan Jawa Timur hanya bisa menyediakan 30 ton/hari. Jadi bayangkan, masih 170 ton yang diperlukan.
Kalau memiliki database yang memadai, saya yakin banyak kemajuan yang akan dicapai oleh nelayan maupun petani. Sebab produk pertanian kita mengisi pasar domestik dan ke pasar internasional.
Seringkali saya dengar kalau panen raya di suatu tempat, hasil panen banyak dibiarkan membusuk karena harga jatuh. Kol di Sumatera Utara membusuk. Cabai di Brebes dibiarkan membusuk. Padahal, kalau pasar domestik tidak bisa menerima lagi akibat melimpahnya panen, kita bisa melakukan diversifikasi produk menjadi cabai kering atau cabai bubuk yang laku di pasar ekspor.
Cina yang berpenduduk begitu besar, sekarang ini dengan bangga menyatakan—dalam setiap 1 keluarga beranggotakan 5 orang—mereka bisa surplus bahan makanan untuk 2 orang. Mengapa? Karena mereka selalu mengefisienkan bahan pangan yang ada.
Demikian juga mengapa dalam program Kabinet Gotong Royong saya memberlakukan program Ketahanan Pangan. Karena dengan pangan, maka Indonesia Raya, negara yang mempunyai potensi luar biasa di bidang pangan, terus berjaya.*** *) Megawati Soekarnoputri, Presiden RI. Disarikan dari sambutan pembukaan Pekan Nasional XI Kontak Tani dan Nelayan Andalan di Minahasa, Sulawesi Utara, 5 Juni 2004)
Kenangan dan Pilihan
Melihat anggrek, saya teringat Boediardjo, yang sejak awal 1950-an hingga akhir hayatnya pada 1999, ingin memajukan dunia anggrek di Indonesia. Ia tokoh angkatan udara, pernah menjadi duta besar di Inggris dan Kamboja, serta menteri penerangan yang legendaris. Namun, di kalangan penganggrek, ketua Lembaga Pemilihan Umum 1971 itu “bapaknya” petani anggrek Indonesia.
Seusai perang, ia menjual koleksi senjatanya untuk membeli bibit anggrek. Ia bagikan ilmu merawat anggrek, dan membentuk koperasi anggrek di manamana. Boediardjo yang lahir di Desa Tingal, di kaki Candi Borobudur, yakin, orang Indonesia bisa hidup dengan bunga. Sebagai contoh, ia mengelilingi rumah ibunya dengan kebun anggrek potong. Setiap hari ada saja yang berkembang dan selalu dibeli orang.
Bisnis jutaan dolar
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) mencatat, anggrek menduduki peringkat 2 dalam menyumbang perekonomian negara itu dengan nilai US$106-juta pada 2002. Peringkat pertama masih kembang poinsetia, dengan nilai perdagangan di atas US$247-juta. Krisan yang menduduki tempat ketiga meraup US$77-juta
Masyarakat Anggrek Amerika (AOS = American Orchid Society) telah lebih dari 82 tahun memimpin serba-serbi anggrek di tingkat global. Kini kita dapat berlangganan majalah Orchids yang sangat bergengsi dari AOS. Dengan 30.000 anggota tersebar di seluruh muka Bumi, AOS menyediakan informasi tentang anggrek. Misalnya, laporan utama Orchid Mei 2004 berkisar pada budidaya anggrek dengan sabut kelapa.
Selain majalah Orchids, ada juga The Orchid Digest terbitan San Marino, Kalifornia. Pada 26—27 Juni 2004 The Orchid Digest mengadakan kongres tahunan dengan lokakarya mengenai phalaenopsis. Untuk mengikuti pertemuan bergengsi ini, bagi yang bukan anggota harus bayar US$250, atau sekitar Rp2-juta. Jangan lupa, mencintai berarti juga ikut membiayai.
Cintailah anggrek
Di Indonesia ada Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), baik di tingkat nasional maupun provinsi. Namun, sentra-sentra produksi anggrek masih terbatas di Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Di atas semuanya, kita belum bisa bebas dari julukan sebagai salah satu pengimpor anggrek terbesar di dunia. Hotel-hotel, rumah ibadah, dan konsumen anggrek masih tergantung pada impor dari Singapura, Thailand, dan Taiwan.
Anggrek memang mengisyaratkan keragaman pribadi yang luar biasa. Ada yang bertahan segar tanpa menyebar aroma dan banyak juga yang beraroma. Ada yang layu dalam sehari, tapi ada juga yang bertahan sampai 10 minggu. Ia pun tampil dalam berbagai profil dan warna, yang tidak tertampung dalam seribu ensiklopedi. Makanya jangan heran kalau ada tuntutan agar berkembangnya otonomi daerah di Indonesia, hendaknya disertai dengan perlindungan varietas anggrek di masing-masing kabupaten.
Pada 2001, ketua Perhimpunan Anggrek Provinsi Papua, Regina Karma, di Jayapura menyerukan agar masyarakat lebih jeli membela anggrek. Pembabatan hutan untuk jalan dan perkebunan telah mengancam lenyapnya berbagai varietas anggrek papua. Memang sudah lebih dari 3.000 jenis teridentifikasi, tetapi yang belum dikenal masih banyak lagi. Di antara yang paling top dari Irian dan sudah melesat ke panggung anggrek nasional adalah anggrek kribo Dendrobium spectabile dari Biak, dan anggrek nanas merah dari Sorong. Terakhir Laciantera dendrobium dari Serui, juara umum lomba anggrek nasional di Jakarta, Oktober 2000.
Selain itu, kita masih boleh tercengang-cengang bila melihat kuntum dendrobium yang panjangnya di atas 2 meter, lebih tinggi dari langit-langit rumah. Dengan maraknya penggundulan hutan, kita bisa kehilangan berbagai anggrek kenangan. Sungguh sedih kalau kita hanya melihat anggrek gunung Telemitra javanica dalam lukisan aktivis agribisnis, Floribertus Rahardi.
Akurasi data
Sekarang, apa artinya anggrek bagi Anda? Berapa anggaran membeli anggrek dalam sepekan, sebulan, atau setahun? Di Jakarta Selatan dan Bogor hampir setiap hari kita bisa memanggil penjaja anggrek.
Ada sekitar 25.000 jenis anggrek di muka Bumi. Tumbuh di kawasan tropis sampai kutub utara. Pantaslah kalau setiap pencinta anggrek perlu pintar melihat kekayaan variasi. Meningkatkan konsumsi anggrek berarti memperkuat ketulusan hati, menerima bermacam perbedaan. Itulah hakikat dari menyumbangkan perdamaian. Setiap negara punya anggrek unggulan dan organisasinya. Di antaranya La Fédération Canadienne des Sociétés Orchidophiles, federasi masyarakat anggrek di Kanada.
Sekarang, berapakah sumbangan anggrek terhadap perekonomian Indonesia? Tidak mudah menghitungnya. Aktivis Perhimpunan Anggrek Indonesia, Endah Malahayati, yakin, industri anggrek punya spektrum luas. Bukan hanya untuk pemodal besar, tapi juga banyak yang kecil-kecil, sebagai kerajinan rumah tangga.
Di balik kabar anggrek langka yang laku jutaan rupiah, ada juga ibu-ibu produsen anggrek dengan omzet kurang dari Rp30.000 seminggu. Itulah yang membuat sulitnya mendapat data perdagangan anggrek yang akurat dari waktu ke waktu. Hanya dari industriawan besar anggrek seperti Ir Sutikno Linuhung (Royal Orchids) di Tretes, Jawa Timur, kita mendapat angka-angkanya.
Misalnya pada April 2003 ia mampu melepas 500 anggrek dalam pot dan 10.000 botol bibit dalam sepekan. Harganya pun bervariasi, dari Rp25.000 hingga ratusan ribu rupiah. Tentu menghasilkan uang yang cukup besar.
Pertanyaannya tentu, berapa banyak penganggrek yang sukses seperti Sutikno? Di Jawa Timur cukup banyak yang besar, termasuk Sien Orchids, milik ketua Perhimpunan Anggrek Indonesia, Moling Simardjo. Konon, yang paling luas dan besar produksinya adalah perkebunan anggrek di Pulau Bulan, milik Anthony Salim. Apa pun yang ada, kita berharap Indonesia masih mampu bicara dalam kongres anggrek sedunia ke-18 di Paris, dan Ekshibisi Anggrek Internasional ke- 24 di New York tahun ini.
Penghargaan untuk anggrek
Setiap tahun diberikan hampir 500 penghargaan yang berkaitan dengan anggrek di tingkat global. Mulai dari teknologi pembibitan sampai upaya dokumentasinya melalui film dan fotografi.
Anggrek memang mampu merebut hati dunia. Jawa Timur saja mendaftarkan lebih dari 2.000 varietas dan mendatangkan keuntungan kultural yang besar. Sebelum reformasi, konsumsi dan produksi anggrek Indonesia sangat tinggi. Cukup banyak tamu negara yang namanya diabadikan sebagai nama varietas anggrek.
Pada masa reformasi, anggrek mendapat banyak tugas tambahan. Ia bukan hanya diharapkan dapat menghapus kemiskinan, seperti dikampanyekan Boediardjo, tapi juga diminta menjaga keutuhan Indonesia. Jangan heran kalau mendengar nama Den (dendrobium) Indonesia Bersatu, hasil persilangan Den Cinta Aceh dengan Den Cinta Papua. Sayangnya, pengelola Argobromo Anggrek—kereta api penumpang paling eksklusif di negeri ini—belum mampu mengikuti jejak maskapai penerbangan Thai Air yang memberikan sekuntum anggrek kepada setiap penumpang wanitanya.
Pada saat musim pemilihan umum begini, kita disadarkan bahwa bangsa pencinta anggrek pasti dapat melihat dan menghargai keberagaman pilihan. Semoga anggrek bisa membantu menjernihkan pikiran, menyehatkan dan memberi inspirasi pada kita dalam menyambut hari depan yang lebih cerah. ***
*)Eka Budianta, sastrawan, kolumnis Trubus, Sekretaris Umum Badan Pekerja Kongres Kebudayaan)
