Monday, August 8, 2022

Akhir Manis Berkat si Pahit

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Emirza Rabain akhirnya menghentikan suntik insulin setelah rutin mengonsumsi pare.

 

Emirza tergeletak lemah di rumahsakit. Ia koma akibat kadar gula darahnya yang tinggi, 800 mg/dl. Selama 10 hari di rumahsakit di Jakarta kondisinya tak banyak berubah. Dokter menyarankan untuk mengangkat pankreas perempuan 67 tahun itu. Namun, kedua anak Emirza yang berprofesi dokter menolak saran itu karena pankreas salah satu organ penting dalam tubuh. Untuk menjaga gula darah tetap stabil, dokter akhirnya menyarankan agar Emirza disuntik insulin secara teratur  3 kali sehari sebelum makan.

Hormon insulin berperan dalam metabolisme glukosa bagi sel. Sel beta di pankreas sejatinya memproduksi hormon itu. Namun, pada pasien diabetes sel beta mengalami kelainan sehingga produksi insulin tak cukup mengurai glukosa. Akibatnya, kadar glukosa dalam darah terus meningkat. Pada pasien diabetes kadar gula darah puasa  lebih dari 126 mg/dl, atau lebih dari

200 mg/dl bila diukur 2 jam setelah makan. Sebelum makan, Emirza juga mesti mengukur kadar gula darah untuk menghitung jumlah kalori dalam makanan yang boleh dikonsumsi. Aktivitas itu berlangsung selama 3 tahun sebelum ia koma.

Gula tinggi

Derita Emirza itu bermula saat 2008. Ketika itu hampir setiap hari Emirza merasakan mual, lemas, dan berkeringat dingin yang mengalir deras. Nafsu makan pun berkurang. Khawatir kondisinya terus memburuk, perempuan asal Payakumbuh, Sumatera Barat, itu lantas memeriksakan diri. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah Emirza sangat tinggi. “Kadar gula darah mencapai 800 mg/dl,” ujar dr Fardinand Rabain, putra Emirza.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dokter lantas memberikan obat berupa insulin. Semakin lama kondisi Emirza kian melemah. Itu karena kadar gula darah yang  terus melambung membuat tubuh sulit menyerap gula dan menghambat metabolisme di dalam sel. Kondisi itu diperparah karena terdapat penyumbatan di ginjal kanan yang hanya tinggal satu. “Pada 1986 ginjal kiri diangkat karena penyakit batu ginjal yang parah,” ujar dr Fardinand.

Padahal, ginjal merupakan organ penting yang berfungsi menyaring cairan tubuh. Saking lemahnya Emirza tidak mampu lagi berdiri. Ia pun menggunakan kursi roda untuk membantunya berjalan. Puncaknya, Emirza mengalami koma karena diabetes mellitus. Diabetes merupakan  penyakit kelainan metabolisme karena kekurangan hormon insulin. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 2008, prevalensi penderita diabetes di tanah air mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12-juta jiwa. Badan Kesehatan Dunia memprediksi penderita diabetes terus bertambah hingga 366-juta orang pada 2030.

Melihat kondisi Emirza yang tak kunjung membaik, putrinya yang seorang dokter dan juga terapis, dr Elfida Zulkarnain, menyarankan sang ibu mengonsumsi buah pare Momordica charantia. Ia mengolah pare menjadi aneka olahan seperti pare kukus atau tumis agar memiliki citarasa enak. Maklum, bila dikonsumsi segar buah anggota famili Cucurbitaceae itu berasa pahit. Emirza mengonsumsi 100 gram pare 3 kali sehari. “Pare berperan memperbaiki kinerja sel-sel beta pankreas yang memproduksi insulin,” ujar Elfida.

Elfida juga memberikan jus jambu biji muda dan belimbing. Emirza mengonsumsi kedua jus itu  selang-seling agar tidak bosan sekali sehari. “Jambu biji dan belimbing membantu menstabilkan kadar gula darah,” ujar Elfida. Ibunya juga mengonsumsi rebusan kulit dan rambut jagung sebagai pengganti teh. Rebusan kulit dan rambut jagung juga berfaedah sama. Elfida juga selalu menambahkan rimpang laos, jahe, kunyit, salam, dan serai dalam setiap masakan. “Penambahan bumbu dapur sekaligus herbal itu untuk mempecepat penyembuhan karena bersifat antiradang,” jelas dokter yang berpraktek di Cempakaputih, Jakarta Pusat, itu.

Ampuh

Setelah 6 bulan mengonsumsi kombinasi herbal itu, kondisi Emirza mulai membaik. Tubuhnya kembali bugar dan nafsu makan meningkat. Pantas bila bobot tubuhnya pun naik dari 44 kg menjadi 57 kg. Hasil pemeriksaan darah terakhir pada 2011 kadar gula darah mendekati normal. Karena sudah mendekati normal, ia pun berhenti menyuntikkan insulin.

Keampuhan pare sebagai antidiabetes terbukti secara ilmiah. Endang Evacuasiany dan rekan dari Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha, menguji khasiat pare pada  mencit yang mengidap diabetes setelah diinduksi aloksan monohidrat 100 mg/kg bobot tubuh (BB). Endang membagi hewan uji dalam 6 kelompok. Kelompok I menjadi kontrol negatif dengan memberikan karboksi metil selulosa (CMC) 1%.

Sementara kelompok 2 menjadi kontrol positif. Ia memberikan glibenklamid, obat penurun gula darah yang beredar di pasaran. Pada kelompok 3 dan 4, ekstrak air pare dengan dosis masing-masing 0,5 g dan 1 g per kg BB, sedangkan kelompok 5 dan 6 diberi ekstrak etanol pare berdosis 0,5 g  dan 1 g/kg BB. Perlakuan itu diberikan setiap hari selama 21 hari.

Hasil  riset membuktikan pemberian ekstrak pare mampu memperbaiki pankreas mencit. Penurunan kadar glukosa darah terbesar pada ekstrak etanol pare dosis 0,5 g/kg  BB  (65,98%), ekstrak  air  pare dosis 1 g/kg BB (65,44%), dan ekstrak air pare dosis 0,5 g/kg BB (58,44%). Endang menduga kandungan polipeptida P dalam pare berefek menurunkan kadar gula darah. Zat aktif dalam ekstrak pare itu merangsang pembentukan sel-sel beta baru dan produksi insulin dari sel-sel beta yang masih aktif.

Di kalangan herbalis pare memang kerap digunakan untuk mengatasi diabetes. Contohnya herbalis di Jakarta Utara, Maria Margaretha Andjarwati. Ia memanfaatkan pare untuk mengobati kanker, radang, dan diabetes. Untuk mengatasi diabetes dia meresepkan pare berukuran sedang atau berbobot 150 g untuk sekali makan. Pare dapat diolah menjadi tumis, kukus, ataupun olahan sayur yang lain. “Pasien dapat mengonsumsinya sehari 2 kali,” katanya.

Untuk mengatasi kanker dan radang, Maria menganjurkan pasien untuk mengonsumsi jus 2 buah pare ukuran sedang, lalu diminum sarinya. Maria lebih menganjurkan untuk mengonsumsi pare berupa jus agar mudah dicerna. Untuk mengatasi diabetes, ia menganjurkan pasien untuk mengonsumsi pare dalam bentuk olahan makanan karena pasien diabetes cenderung mudah lapar. Jadi, cukuplah si pahit yang mengusir si manis. (Desi Sayyidati Rahimah)

Produsen Insulin

^       Konsumsi pare menurunkan kadar gula dalam darah

>       Jus belimbing menyeimbangkan kadar gula darah

Pankreas penghasil insulin yang berperan dalam metabolisme glukosa bagi sel. Pada penderita diabetes sel beta mengalami kelainan sehingga produksi insulin tak cukup mengurai glukosa

^       Bumbu dapur salam, kunyit, jahe bersifat antiradang

v       Emirza Rabain (tengah) beserta kedua anaknya, dr Fardinand dan dr Elfida

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img