Wednesday, August 17, 2022

Ancaman Sepanjang Hayat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tumbuh di pulau penjara tak menjamin keamanan kayu pelahlar dari pembalakan liar.

Yang tersisa hanya tunggul setinggi 1 m. Pelahlar Dipterocarpus littoralis berdiameter 30 cm itu pasrah ketika gergaji memotong batang. Lima pelahlar lain-ukuran batang relatif sama-bernasib serupa. Jarak antartunggul bervariasi antara 0,5 m-2 km. Menurut Dr Ir Agus Hikmat MScF, peneliti dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor riap tumbuh pelahlar hanya 0,6 cm per tahun. Itu berarti umur pelahlar yang dibalak liar mencapai 50 tahun.

 

Tim inventarisasi dari Resort Konservasi Sumberdaya Alam Nusakambangan Barat menemukan tunggul pelahlar pada September 2012. Teguh Arifyanto, kepala Resort Nusakambangan Barat, menduga para pembalak menggunakan kapak dan gergaji tangan. Padahal, Nusakambangan sohor sebagai lokasi penjara dengan pengamanan superketat. Setiap orang yang akan berkunjung lewat jalur resmi mesti seizin Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia.

Pulau terisolir oleh laut sempit itu pun hanya bisa dijangkau dengan perahu. Ribuan titik akses ilegal sepanjang pantai tetap terbuka lebar setiap saat. Keruan saja keamanan Dipterocarpus littoralis itu tetap tidak terjamin. Padahal, keberadaan pelahlar di alam sangat kritis. Populasi di alam hanya puluhan pohon. Itu sebabnya kerabat damar mata kucing itu tergolong Critically Endangered dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red list.

Pelahlar Dipterocarpus littoralis merupakan jenis pohon endemik pulau penjara. Artinya jenis itu hanya ditemukan di Nusakambangan bagian barat yang merupakan habitat aslinya. Menurut Prof Tukirin Partomihardjo, botanis di Pusat Penelitian Biologi LIPI, penyebaran pelahlar ke arah timur keanekaragamannya semakin kecil. Keanekaragaman jenis dipterocarp secara lokal pada masing-masing marga tidak merata, bahkan terdapat marga yang tidak dijumpai di belahan Indonesia bagian timur.

Agus Hikmat, peneliti botani dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata menyatakan D. littoralis termasuk dalam kategori spesies prioritas A yang perlu perlindungan segera. “Ada 17 kriteria yang mendasari penentuan spesies prioritas konservasi,” kata Agus. Antara lain keunikan taksonomi, distribusi geografis, dan populasi.

Menurut Teguh, di Nusakambangan terdapat  36 pohon pelahlar berdiameter di atas 20 cm. Bandingkan dengan luasan Cagar Alam Nusakambangan Barat sekitar 600 ha, artinya kepadatan pelahlar di sana hanya 6 pohon per 100 ha.  Dengan kata lain, hanya ada sebatang pelahlar di lahan seluas 16,7 ha alias 167.000 m2. Jumlah yang sangat sedikit untuk habitat asli sebuah tanaman.

Prof Tukirin menduga pelahlar bersegregasi (memisahkan diri) dari pohon induk D. retusus yang tersebar luas di Pulau Sumatera dan Jawa Barat. Isolasi ekologis dan geografis sejak zaman pleistosen-sehingga berkembang menjadi jenis yang sama sekali berbeda. Daun pelahlar bergelombang di tepi dengan alur pertulangan sejajar menonjol di bawah permukaan daun. Itu berbeda dengan daun D. retusus yang lebih lebar dan tepi daun rata.

Seperti kerabatnya di Sumatera dan Kalimantan, pelahlar tergolong kayu kelas kuat II dan kelas awet III. Dibandingkan dengan meranti yang sama-sama kayu kuat, bobot jenis pelahlar dan keruing mencapai 0,71- 0,77 g/cm3. Sementara meranti merah Shorea parvifolia hanya 0,53 g/cm3. Artinya, sel penyusun kayu pelahlar lebih padat ketimbang meranti merah.

Pantas saja pelahlar menjadi incaran pembalak liar. Pemanfaatannya luas: kayu perkakas, bahan bangunan, mebel, sampai bahan baku perahu. Dalam lokakarya nasional di Yogyakarta, Heru Purnomo, anggota tim lapangan eksplorasi ilmiah Nusakambangan menyatakan, serat kayu pelahlar termasuk kelas serat panjang sehingga kekuatannya tinggi. Berbeda dengan kayu cepat tumbuh seperti sengon yang seratnya 637,7-1.150,3 ɥm. Selain kayu, getah yang dihasilkan oleh pohon keruing bisa digunakan untuk industri cat, kosmetik, kertas dan pewarna dalam industri keramik.

Sejatinya pelahlar tidak hanya bisa hidup di Nusakambangan. Di Kebun Raya Bogor ada 2 batang pelahlar dengan keliling batang dua pelukan orang dewasa. “Dengan riap tumbuh 0,6 cm per tahun, umurnya mungkin lebih dari 150 tahun,” ujar Agus Hikmat. Agar tumbuh baik, anggota famili Dipterocarpaceae itu menyukai suhu harian 27-290C, kelembapan rata-rata 76-83%, dan curah hujan tahunan 3.375 mm. Itu berarti pembibitan dan penanaman pun bisa dilakukan di luar Nusakambangan, asal mempunyai iklim yang sesuai. (Rona Mas’ud/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan Foto :

  1. Keberadaan pelahlar si endemik pulau penjara mulai terancam. Sosoknya termasuk dalam kategori kritis berdasarkan IUCN
  2. Tunggak pelahlar bekas penebangan ilegal
  3. Sosok pohon pelahlar tumbuh besar di kawasan eksitu Kebun Raya Bogor
  4. Pertulangan daun tampak jelas dan menonjol di belakang permukaan daun, tepi daun bergelombang ciri khas pelahlar
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img