Thursday, August 11, 2022

Gang Hijau Tanpa Banjir

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Biopori dan sumur resapan juru selamat gang sempit dari bencana banjir.

Hujan deras yang mengguyur Jakarta pada 17 Januari tak membuat Syahril jeri. Meski bagai tumpah dari langit, air tidak sempat membuat pekarangan rumah tergenang air. Air dari atap langsung masuk ke dalam sumur resapan. “Dulu sebelum ada sumur resapan, saat hujan deras air menggenang di halaman setinggi 5-10 cm, bahkan hampir masuk ke dalam rumah,” kata ketua RT 09 RW 02 Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebonjeruk, Jakarta Barat, itu. Syahril tidak sendiri. Bersama warga ia juga membuat 80 titik biopori sedalam 50 di sepanjang selokan di RT 09 dan RT 01. “Air yang mengalir melalui selokan sebagian terserap biopori,” kata Syahril. Alhasil wilayah RT 09 dan RT 01 hanya sekali mengalami banjir pada 2007-ketika banjir paling besar melanda Jakarta.

Inisiatif warga

Di hari-hari tanpa hujan gang sempit yang hanya bisa dilalui motor itu pun asri dengan jejeran philodendron, palem, ficus, talas hitam, dan pucuk merah. Semua ditanam dalam pot plastik berwarna merah bata, berbaris rapi di sisi kanan jalan. Tanaman merambat pun ikut hadir menambah kesan hijau. Gang selebar 1 m tanpa nama itu juga jauh dari kesan kumuh. Dinding gang yang biasanya terkesan sangar menjadi lembut dengan lukisan bertema keindahan kota. Gang menuju Mushola Manarul Ula itu membelah pemukiman padat penduduk di wilayah RW 02. Total jenderal terdapat 90 rumah berjejal di wilayah yang hanya 1,3 ha itu. Toh, kesan yang muncul bukan perkampungan yang sempit. “Jika saya menyusuri kampung ini bagaikan menyusuri kampung dalam taman,” kata Effendi, jurnalis sebuah televisi swasta yang kerap melintasi wilayah RT 09. Suasana kian nyaman karena jalan dan pemukiman bebas sampah. Saluran air yang kotor dengan air menggenang pun tidak terlihat. “Sebagian besar saluran air berada di bawah aspal,” kata Syahril. Sementara bagian atas saluran air yang terbuka ditutup dengan deretan tanaman hias pot.

4 tahun

Suasana asri di pemukinan padat penduduk itu mulai terbangun sedikit demi sedikit sejak 2009.

“Saat itu kami ingin punya lingkungan nyaman dan sehat,” kata Syahril. Syahril lalu meletakkan 10 pot palem di salah satu ruas jalan. Satu per satu warga kemudian mengikuti jejak itu dengan meletakkan tanaman di halaman rumah masing-masing. Mereka saling berbagi tanaman dan menularkan kebiasaan hidup bersih. Semangat itu kian memuncak seiring komitmen perangkat RT membuat lingkungan asri. Papan atau stiker bertuliskan imbauan untuk menjaga kebersihan tersebar di sudut-sudut pemukiman. Alhasil, pada 2010 RT 09 berhasil menyabet gelar jawara lomba “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat” mengalahkan RT-RT di seluruh Jakarta Barat. Penghargaan itu membuat warga mencari terobosan baru agar tetap menjadi contoh di Jakarta. Mereka lalu mengadopsi teknik pengolahan sampah mandiri dan pembuatan

sumur resapan. Secara swadaya warga memisahkan sampah organik dan nonorganik. Sampah organik dari limbah rumah tangga lalu dikumpulkan dalam drum lalu diurai dengan bantuan mikroorganisme pengurai. Hasilnya, kompos yang digunakan sebagai sumber hara tanaman hias milik warga di sepanjang gang. Sementara sumur resapan dibuat untuk menjaga ketersediaan air tanah dan mencegah banjir. Syahril menggali tanah berukuran 1,5 m x 1,5 m dengan kedalaman 3 m. Tumpukan ijuk dan batu apung disusun berlapis setebal 30 cm di dasarnya. Bibir sumur lalu dilapisi semen agar tak runtuh. Lubang kemudian ditutup dengan semen dan diberi celah sebagai saluran air menuju lubang galian. “Lokasi sumur resapan di dataran paling rendah di halaman rumah agar air hujan dari atap terkumpul di sana,” ungkap Syahril. Pria kelahiran Jakarta Barat itu mengaku warga di sekitarnnya tak pernah kekeringan meskipun sebagian besar menggunakan sumur air tanah. Menurut Rusman E Sagala MT, kepala bidang Pelestarian dan Tata Lingkungan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta, sumur

resapan menjadi salah satu cara menanam air hujan agar air tanah tak berkurang sekaligus menangkis ancaman banjir. Dengan tambahan pengolahan sampah dan sumur resapan itu RT 09 kembali menyabet jawara lomba lingkungan bertema “Kinerja RT” dan “Local Wisdom atau Kearifan Lokal” se-Jakarta Barat pada 2011. Bahkan Januari 2013, warga kembali berpartisipasi dalam lomba “Mandiri Kotaku, Bersih Jakartaku (MKBJ)” tingkat Kota yang diselenggarakan oleh sebuah bank pemerintah dan surat kabar ibukota. Meski demikian, menurut Nurzalifah, warga RT 09 warga tetap menjaga lingkungan meski tidak ada ajang lomba.

Kesadaran

Uniknya meski lingkungan bersih, warga di sana tak mengenal jadwal rutin kerja bakti. “Seringkali ketika berencana kerja bakti, tak ada lokasi yang harus dibersihkan,” kata Nahiyah, salah satu warga RT 01. Musababnya setiap hari warga membersihkan rumah dan lingkungan masing-masing sehingga pemukiman selalu besih. Menurut, Rusman kesadaran warga menjadi kunci terpeliharanya lingkungan. Maka gang kecil itu pun nyaman, hijau, asri, dan bebas banjir. Penduduk di sana membuktikan hidup di gang sempit pun menjadi so sweet. (Nesia Artdiyasa, kontributor lepas Trubus di Jakarta/Peliput: Ridha YK)

Keterangan Foto :

  1. Tanaman subur dan terawat baik membuat gang sempit jadi asri
  2. “Setiap warga bertanggung jawab membersihkan lingkungan rumah masingmasing,” tutur Syahril, ketua RT 09, RW 2, Sukabumi Selatan, Kebonjeruk, Jakarta Barat
  3. Gang selebar 1 m dengan sumur resapan dan biopori sehingga bebas banjir
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img