
Varietas jabotikaba genjah dan pemupukan rutin menghasilkan buah susul-menyusul. Sangat pas untuk tabulampot.
Trubus — Saat musim berbuah, waktu paling tepat mengundang kerabat untuk menyaksikan jabotikaca. Sekujur batang tanaman Plinia cauliflora itu penuh buah hampir seukuran bola bekel yang ungu pekat. Buah susul-menyusul tiada henti selama enam bulan. Itulah penampilan jabotikaba genjah milik Teddy Soelistyo. Genjah? Tanaman itu magori atau berbuah perdana pada umur 1,5—2 tahun.

Namanya jaboticaba precocious. Di kalangan pehobi, sebutannya singkat, preko—mengacu pada precocious. Bandingkan dengan varietas sabara yang lebih dahulu masuk ke Indonesia, magori pada umur 5—7 tahun. Pehobi pun harus bersabar menyaksikan keelokan tanaman anggur brasil—julukan jabotikaba—dan merasakan paduan manis-masam buah kerabat jamblang itu.
Perbanyak sendiri
Teddy Soelistyo menanam jabotikaba preko di dalam kantong tanam berkapasitas 50 liter. Keelokan tanaman anggota famili Myrtaceae itu menjadi-jadi. Sosok pendek, lebat berbuah, sehingga amat seronok. Pehobi tanaman buah di Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu memiliki 30 tabulampot preko yang sedang berbuah.
“Sebelum ada preko, pekebun menanam sabara dan mengeluhkan lama berbuah. Kalau ingin sabara segera berbuah, sebaiknya beli bibit berukuran besar dengan umur setidaknya 5 tahun,” kata pebisnis tanaman buah berusia 53 tahun itu. Ia memperoleh bibit preko dari penangkar bibit di Kabupaten Bogor, Ricky Hadimulya, pada 2017. Teddy lantas memperbanyaknya dengan setek. Sebanyak 30 pot itu hasil perbanyakannya.

daripada preko. (Dok. Trubus)
Membedakan sabara dan preko relatif mudah. Sabara berdaun kecil dan kaku sedangkan daun preco lebar dan lemas. Buah sabara berkulit tebal sehingga renyah saat digigit. Sementara itu kulit buah preko lebih tipis dan daging buah lebih berair. Menurut Teddy rasa keduanya cenderung sama, perpaduan manis-masam, sehingga amat menyegarkan.
Pemilik Pohon Buah Nursery itu mengatakan, jabotikaba preko sangat pas untuk tabulampot karena amat genjah. Selain itu jabotikaba itu juga sangat adaptif. Lokasi kebun Teddy berketinggian 90 meter di atas permukaan laut (dpl). Tanaman annggota keluarga jambu-jambuan itu adaptif hingga ketinggian lebih dari 1.000 meter dpl. Teddy menanam preco di tiga lokasi dengan ketinggian rendah, sedang, dan tinggi.
“Semuanya tumbuh baik dan berbuah,” kata Teddy yang juga menanam preko di Ciawi, Kabupaten Bogor (600 m dpl) dan Ciwidey, Kabupaten Bandung (1.100 m dpl). Sebaliknya jabotikaba varietas sabara tumbuh baik di dataran tinggi tetapi kurang adaptif di dataran rendah.
Kunci media
Menurut Teddy membuahkan jabotikaba preko relatif mudah. Pehobi yang gemar melancong itu menggunakan media tanam campuran tanah, sekam, dan pupuk kambing dengan perbandingan 1:1:1. Jabotikaba berumur setahun memerlukan kantong tanam berukuran 50 liter. Teddy menggunakan pupuk majemuk NPK dengan kandungan nitrogen (N) 15%, fosfor (P) 9%, dan kalium (K) 20%.

Ia melarutkan satu sendok teh pupuk NPK dalam 2—3 liter untuk 3 tanaman. Pemupukan sebulan sekali dengan pengocoran di dekat area perakaran. Kunci pembuahan lain berupa pemangkasan minimal setahun sekali agar sinar matahari dapat menembus celah tajuk. Bunga muncul pada awal musim kemarau dan terus berbuah hingga menjelang musim hujan. “Bunga rontok terkena air hujan sehingga saya belum menjumpai preko berbuah saat musim hujan,” kata Teddy.
Menurut penangkar buah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Syahril Said, perlu intensitas penyinaran tinggi dan sedikit penyiraman untuk merangsang pembuahan Plinia cauliflora. Pupuk tinggi fosfor menjaga bunga tidak rontok hingga menjadi bakal buah. Setelah itu, pekebun bisa meningkatkan pemupukan dengan unsur nitrogen agar pentil tidak rontok. Syahril meningkatkan pupuk kalium untuk meningkatkan rasa manis.
Asal Biji Tetap Genjah
Pehobi jabotikaba di Kota Depok, Jawa Barat, Sri Rianawati, menumbuhkan jabotikaba precocius dari biji. Ia memperolehnya dari Jepang pada 2016. Jabotikaba preko asal biji magori—berbuah perdana—pada umur 3—3,5 tahun. Hingga kini Rianawati 5 kali panen. Sayang, buahnya masih sedikit lantaran ukuran batang kecil. Ia juga menumbuhkan sabara dari biji dan perlu waktu 7—9 tahun agar berbuah.
Ririn—sapaan karib Sri Rianawati—memberikan pupuk tinggi fosfor dan kalium setelah tanaman memasuki usia produktif. Aplikasinya dengan penyemprotan sepekan sekali. “Sebaiknya aplikasi pupuk semprot langsung pada batang,” kata Ririn. Selain pupuk anorganik, Ririn juga menambahkan pupuk kandang yang sudah mengalami fermentasi pada bagian atas media tanam. Aplikasinya setiap 4 bulan ketika media tanam mulai turun permukaannya. (Sinta Herian Pawestri)
(Sinta Herian Pawesti)
