Sunday, June 14, 2026

Anggur Jumbo ala Tri Makno

Rekomendasi

Seleksi buah dan penggunaan hormon kunci sukses membesarkan buah anggur transfiguration.

Dompolan anggur transfiguration di kebun milik Tri Makno, S.P., memanjakan mata yang memandangnya. Ukuran buahnya lebih besar dibandingkan dengan varietas sejenis di tempat lain. Pekebun di Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, itu. Anggur trans—sebutan populer transfiguration—kepunyaan Tri berbobot 12—15 g per buah, panjang buah 4 cm, dan berdiameter sekitar 2 cm.

Tri Makno, S.P., menyeleksi buah 4—5 kali untuk memproduksi anggur transfiguration berukuran jumbo.

Trans yang berbentul oval pun agak memanjang di kebun Tri. Bandingkan dengan varietas sejenis di kebun lain yang hanya berbobot 6—8 g, panjang buah 2 cm, dan berdiameter sekitar 1 cm. Artinya ukuran buah trans bertambah 2 kali lipat. “Bobot satu tandan trans di tempat saya rata-rata 1 kg. Bahkan, pernah bobot satu tandan mencapai 2 kg. Bobot per tandan bisa lebih dari 1 kg jika tanaman lebih tua dan mendapatkan perawatan bagus,” kata Tri.

Empat seleksi

Setelah dicecap, anggur trans itu pun tidak berbiji. Orang yang mengonsumsi anggur itu tidak perlu mengeluarkan biji buah sehingga lebih bisa menikmati kelezatan trans. Business Development Manager PT Laris Manis Utama, Vendi Tri Suseno, mengatakan bahwa tanpa biji merupakan salah satu kriteria anggur idaman masyarakat Indonesia. Kriteria lainnya yakni bercita rasa manis yang juga dimiliki anggur trans.

Para pengunjung kebun Robban Grapes—nama kebun anggur milik Tri Makno—mengakui kualitas trans produksi Tri bersaing dengan anggur impor. Apa yang dilakukan Tri Makno sehingga anggur trans berukuran besar dan tanpa biji? Rahasianya penyuluh pertanian itu menyeleksi buah dan menggunakan hormon giberelin (GA3). “Tanpa seleksi ukuran buah kecil. Saya terkenal paling kejam ketika menyeleksi buah,” kata Tri.

Pekebun anggur secara intensif sejak 2017 itu menyeleksi buah 4—5 kali sebelum panen. Seleksi buah pertama ketika bunga anggur seukuran beras. Saat itu ia menyisakan bunga yang tidak mekar dan membuang bunga yang mekar. Alasannya bunga yang tidak mekar menghasilkan anggur tanpa biji. Sebelum diseleksi perdana, Tri mencelupkan dompolan anggur dengan larutan hormon giberelin (GA3) 10 ppm selama 20 detik.

“Tujuannya menstimulasi buah tanpa biji sesuai kesukaan konsumen,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Pekalongan, Jawa Tengah, itu. Meski begitu tidak 100% buah dalam dompolan tanpa biji. Musababnya kedewasaan bunga dalam satu tandan berbeda sehingga efektivitas hormon giberelin pun tidak sama untuk setiap buah. Tingkat keberhasilan buah tanpa biji dengan cara itu mencapai 70%.

Ir. Edhi Sandra, M.Si., ahli fisiologi tumbuhan di Institut Pertanian Bogor.

Pencelupan bunga ke dalam larutan hormon sekitar 3 hari menjelang bunga mekar. Sayangnya tidak ada ciri khusus kapan bunga mekar. Ia mengandalkan insting dan pengalaman. Perlu pengamatan intensif agar bisa memastikan 3 hari menjelang bunga mekar. Konsentrasi giberelin juga menentukan. Anggur gosong jika konsentrasi giberelin terlampu tinggi seperti yang dialami salah satu pekebun anggur di kawasan selatan Jawa.

Tri memperoleh informasi penggunaan hormon giberelin untuk anggur ketika magang di kebun anggur di Jepang. Seleksi buah di kebun Tri setiap 7—10 hari. Kriteria buah yang diseleksi awal antara lain berukuran terlampau besar dan kecil, terjepit, sejajar, serta asimetris. Ahli fisiologi di Institut Pertanian Bogor, Ir. Edhi Sandra, M.Si., mengatakan, belum banyak yang melakukan kedua perlakuan itu, tapi sangat dimungkinkan secara ilmiah. Seleksi buah bertujuan memberikan ruang agar bunga, pentil, dan buah bisa tumbuh optimal.

Varietas lain bisa

Konsentrasi giberelin mesti memadai agar buah tanpa biji bisa terwujud.

Pemberian giberelin pun salah satu cara menghasilkan buah tanpa biji. “Perendaman giberelin memicu pembelahan sel pendamping sehingga merangsang pembesaran buah tanpa harus diserbuki. Ketersediaan giberelin memadai maka buah bisa tumbuh dengan baik dan lebih besar daripada yang normal. Hal itu juga ditentukan adanya cadangan makanan yang memadai dalam tanaman anggur,” kata alumnus Program Magister Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, itu.

Edhi menuturkan, cara itu bisa diterapkan untuk varietas anggur lain. Bahkan, tidak hanya pada anggur. Sangat menarik untuk diujicobakan pada buah lain seperti lengkeng, mangga, dan avokad. Yang perlu diperhatikan yakni lama perendaman dan konsentrasi. Selain dengan giberelin, cara lain menghasilkan buah tanpa biji yaitu merendam pentil dalam larutan auksin berkonsentrasi tinggi. Penggunaan auksin mesti hati-hati karena bisa bikin buah rontok. Antisipasinya mungkin dengan mencampurkan giberelin.

Seleksi buah dan penggunaan giberelin pada trans memang menguntungkan. Konsekuensinya pekebun mesti bekerja ekstra untuk memangkas buah dan mencelupkan bunga ke dalam larutan giberelin. Bayangkan jika terdapat ratusan tanaman dalam satu kebun. Perlu banyak tenaga kerja terampil untuk melakukan kedua perlakuan itu. (Riefza Vebriansyah)

Previous article
Next article

Artikel Terbaru

Sorgum Naik Kelas! Dari Pangan Tahan Iklim ke Industri Bernilai Tinggi

Apakah benar sorgum adalah tanaman masa depan yang menjanjikan, atau justru hanya tren komoditas pertanian yang akan hilang dalam...

More Articles Like This