Friday, December 2, 2022

Antara Minyak Sawit, Zaitun, dan VCO

Rekomendasi

Melihat fakta itu para ahli tertarik menyingkap tabir rahasia di balik ke-3 jenis minyak itu. A. Keys, J. T. Anderson, dan F. Grande memfokuskan risetnya pada minyak sawit pada 1957. Mereka menemukan asam-asam lemak tak jenuh pada minyak sawit meningkatkan kolesterol HDL (High Density Lipoprotein) sekaligus menurunkan rasio kolesterol total dan LDL (Low Density Lipoprotein). Itu didapat jika seseorang rutin mengkonsumsi (baca: meminum) 23% minyak sawit dari total kebutuhan lemak harian yang mencapai 20 mg. Satu sendok minyak sawit mengandung minimal 4 mg lemak.

Beda asam lemak

Minyak sawit juga mengandung omega 9 mencapai 40.95%. Asam lemak itu berperan dalam pembentukan myelin, pembungkus urat saraf. Bila ketersediaan myelin tak memadai, dipastikan penghantar dan koordinasi otot saraf akan terganggu. Efeknya refleksitas menjadi lebih lama.
Riset Hasyim MA dari Malaysian Palm Oil Board mengungkapkan sawit tak hanya kaya akan minyak jenuh, tetapi juga karoten dan tokotrienol. Yang disebut terakhir merupakan komponen Vitamin E. Karoten mencapai 550 µg/g. Ia senyawa antiradikal bebas dan mampu meningkatkan kekebalan tubuh. Sekitar 68% karoten adalah betakaroten yang mempengaruhi kesehatan mata. Sedangkan tokotrienol (468 ng/liter) bersifat antikanker terutama kanker kulit dan kanker payudara.

Yang terkandung dalam minyak sawit adalah asam lemak berantai panjang, 12— 18 gugus karbon. Di dalam pencernaan rantai karbon itu dipotong menjadi ukuran lebih kecil melalui proses hidrolisis dan emulsi dengan bantuan cairan empedu. Selain itu proses enzimatis dengan enzim kelenjar pankreas juga berperan memotong rantai karbon minyak sawit. Setelah itu barulah diserap dinding usus dan ditampung di saluran getah bening.

Fase berikutnya asam lemak disusun kembali dan ditambah senyawa protein menjadi lipoprotein dan diangkut ke hati. Di sanalah minyak sawit menjadi energi, lemak, dan kolesterol. Nilai kalori yang dihasilkan sangat besar yaitu 884 kkal. Karena minyak sawit mengandung asam lemak tak jenuh tinggi menyebabkan mudah terpolimerisasi ketika dipanaskan pada suhu didih. Wajar minyak sawit mudah berubah menjadi minyak trans yang notabene bersifat karsinogenik alias memicu sel kanker.

Gabungan lemak trans yang radikal bebas, zat karsinogen, kolesterol, dan timbunan jaringan adiposa menjadi faktor utama risiko penyakit kronis, degeneratif, dan kanker. Dampak buruk ini baru terlihat setelah 5 hingga 20 tahun kemudian. Sebaliknya efek samping yang timbul pada-anak-anak relatif cepat. Oleh karena itu minyak sawit lebih baik jika dikonsumsi hanya sebagai minyak makan. Jika digunakan untuk menggoreng, minyak sawit bekas atau jelantah itu mengental mirip oli sebaiknya dibuang.

“Minyak sawit lebih lengkap zat gizinya daripada keduanya,” kata Dr Faisal Anwar. Minyak sawit mengandung vitamin dan mineral lengkap dan sempurna bagi kesehatan tubuh. Selain 6 jenis vitamin, mineral-mineralnya terdiri atas ribofl avin, fosfor, potassium, kalsium, magnesium, mangan, niasin, alfa dan beta karoten, retinal, dan lycopen. Kelengkapan itu tak dapat disaingi oleh seluruh minyak yang ada di dunia.

Antikanker

Jenis minyak lain yang banyak digunakan adalah zaitun hasil perasan buah zaitun Olea europea. Minyak kaya Vitamin E itu lazim digunakan sebagai penghalus kulit. Senyawa paling berpengaruh adalah alfatokoferol yang menghambat efek penuaan seperti kulit mengering dan keriput. Kadar tokoferol zaitun mencapai 2.500—9.250 mikrogram per gram atau 10 kali lipat ketimbang minyak lain.

Itulah sebabnya konsumsi minyak zaitun memberikan efek umur lebih panjang seperti disampaikan Prof Apostolos Kiritsakis dari Institut Th essaloniki, Yunani. Ia menyarankan untuk mengurangi laju penumpukan LDL dan konsumsi dua potong roti plus satu sendok minyak zaitun setiap pagi. Mengkonsumsi minyak zaitun berarti juga memerangi kanker. Itu dibuktikan melalui riset sahih yang ditempuh oleh Dr Javier Menendez, dari Fakultas Kedokteran Northwestern University di Chicago.

Asam oleat zaitun menghambat kerja gen HER-2/neu, biang kerok kanker. Itu ditemukannya pada 30% penderita kanker payudara. Temuan itu sejalan dengan riset Departemen Pangan dan Gizi Universitas Barcelona pada 2002. Minyak zaitun terbukti mengurangi jaringan sel kanker dalam tubuh tikus. Dalam riset itu minyak zaitun dibandingkan dengan minyak ikan dan minyak matahari. Minyak zaitun tergolong minyak tidak jenuh rantai panjang sehingga mudah terpolimerisasi ketika dipanaskan.

Minyak yang populer belakangan ini adalah virgin coconut oil (VCO) alias minyak kelapa murni. VCO termasuk medium chain fatty acid (MCFA) alias asam lemak berantai medium. Sekitar 57% terdiri atas asam kapriat dan asam laurat. Ia memiliki 50% asam laurat yang berfungsi membentuk monolaurin pada tubuh manusia. Menurut Jhon Kabara, monolaurin merupakan antivirus, antibakteri, dan antiprotozoa. Zat itu ampuh mengatasi virus berlapis lemak seperti HIV, herpes, cytomegalovirus, dan flu. Asam kapriat membentuk monocaprin pada tubuh manusia yang terbukti antivirus.

Karena berantai sedang, ketika VCO diserap tubuh tidak memerlukan energi yang tinggi. Menurut guru besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr Waluyo Soerjodibroto minyak kelapa mengandung asam lemak jenuh lebih tinggi, 92%. Hasil proses pencernaan dan metabolismenya berupa energi tinggi. Persis bensin berkadar oktan tinggi. Lalu minyak mana yang Anda pilih? “Pada dasarnya minyak itu sama-sama bagus,” kata Dr Faisal Anwar, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor. Tergantung keinginan konsumen mengasupnya. Yang penting minyak berkualitas, tidak tengik, dan gunakan seperlunya. (Vina Fitriani)

Previous articleUlar Palsu
Next articleBatu Luruh Karena Laurat?
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img