Sunday, November 27, 2022

Antikanker Asal Kumbung

Rekomendasi

Salah satu contoh neoplasma adalah tumor. Bila pertumbuhan sel-sel baru tidak terkontrol, bentuk dan fungsi organ tubuh rusak. Akibatnya, tumor mengganas menyebabkan kanker.

Pada beberapa pasien, kanker biasanya diawali dengan munculnya tumor. Tumor berupa benjolan dari sel-sel jaringan tubuh yang mengalami metastasis. Seringkali kehadiran tumor diabaikan pasien karena tidak menimbulkan keluhan berarti, seperti dialami dr Evi Budiarto, asal Slipi, Jakarta Barat.

Evi mengetahui adanya benjolan ketika memeriksakan kehamilan anak pertamanya di rumahsakit pada 1987. Benjolan seukuran telur ayam tumbuh berdampingan dengan janin. ‘Dokter mengira saya hamil anak kembar. Memang ada anggota keluarga saya yang melahirkan anak kembar,’ kata ibu berusia 54 tahuan itu. Itulah sebabnya ia tak curiga.

Myoma

Setiap bulan Evi memeriksakan diri ke dokter kandungan. Keanehan terjadi ketika hasil USG, salah satu janin yang belakangan diketahui tumor tidak berkembang. ‘Janin’ itu ternyata myoma. Myoma salah satu tumor karena pertumbuhan sel otot rahim tidak terkontrol. Kelainan pertumbuhan sel itu disebabkan rusaknya DNA. Mestinya enzim endonukleus memperbaiki kerusakan DNA. Radikal bebas menonaktifkan aktivitas enzim itu sehingga memicu tumor.

Karena merasa aman-aman saja, ia pun menolak saran dokter untuk operasi pengangkatan tumor. Toh lima tahun berselang, saat hamil anak kedua, myoma juga tidak menghambat pertumbuhan janin. Anak kedua pun lahir dengan bobot normal.

Enam belas tahun sudah Evi berdamai dengan myoma. Setelah itu, ia merasakan rasa sakit di bagian perut. ‘Kalau membalikkan badan atau tidur dengan posisi menyamping terasa sakit,’ katanya. Kedua telapak hingga mata kaki membengkak, perut membesar. Sebagai dokter ia tahu betul, keluhan itu akibat myoma di rahimnya. ‘Peredaran darah dan cairan tubuh saya terhambat sehingga menimbulkan bengkak di perut dan kaki,’ tuturnya.

Menurut dr Henry Naland SpB (K) Onk, dokter spesialis bedah onkologi RS Mitra Internasional, tumor dan kanker dapat ditangani dengan berbagai cara: bedah, radiasi atau penyinaran, kemoterapi, serta hormonterapi atau immunoterapi. Belakangan diketahui penyembuhan kanker dapat juga dilakukan dengan terapi alternatif komplementer seperti terapi herbal, akupuntur, yoga, chikung, dan terapi kejiwaan.

Terapi herbal

Terapi herbal menjadi pilihan Evi untuk kesembuhan. Ia rutin mengkonsumsi ekstrak ling zhi (dalam bahasa Tiongkok berarti jamur abadi). Ekstrak reishi-sebutannya dalam bahasa Jepang-berbentuk tablet dikonsumsi 3 kali sehari masing-masing 3 tablet. Beberapa bulan mengkonsumsi, rasa sakit di bagian perut mereda. Kedua telapak kaki pun kembali ke bentuk normal. Hasil pemeriksaan rutin setiap 6 bulan, ukuran myoma tetap dan tidak ada tanda-tanda menjadi ganas alias kanker. Hingga kini Evi terus mengkonsumsi lingzhi. ‘Saya mengkonsumsi lingzhi sudah 3 tahun,’ ujarnya.

Keampuhan reishi Ganoderma lucidum menghambat pertumbuhan sel kanker dibuktikan Departemen Biokimia Kyoto Prefectural University of Medicine. Uji melibatkan tikus-tikus yang disuntik sel kanker S-180 sarcoma. Mereka kemudian dibagi 3 kelompok. Kelompok pertama diberi cyclophosphamide-senyawa aktif yang biasa digunakan pada kemoterapi tumor solid-berdosis 30 mg/ml. Kelompok II diberi 500 mg/ml ekstrak reishi secara oral. Sedangkan kelompok III diberi ekstrak agaricus,-salah satu genus jamur, berdosis sama.

Setelah 14 hari perlakuan, bobot kanker ditimbang. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak reishi mampu menghambat 37,2% pertumbuhan sel kanker; agaricus, hanya 28%. Namun, jumlah itu lebih rendah daripada cyclophosphamide yang mampu menghambat hingga 55,3%. Keampuhan itulah yang mendorong Nissan Chemical Industries, produsen bahan kimia terbesar di Jepang, memproduksi ekstrak reishi.

Henry mengatakan, ada lebih dari 40 jenis herbal yang dapat digunakan untuk terapi kanker dan tumor seperti kunir putih, temu putih, rumput mutiara, sambiloto, keladi tikus, dan mahkotadewa. Yang disebut terakhir teruji klinis melalui uji klinis pragmatis.

Makanan

Menurut dr Paulus W Halim, dokter dan herbalis di Tangerang, penderita kanker juga mesti menjaga konsumsi makanan. Susu sapi dan hasil olahannya, misalnya, harus dihindari. Hasil penelitian rumahsakit John Hopkins, Amerika Serikat, susu merangsang tubuh memproduksi mucous alias lendir di saluran gastrointestinal. Mocous ‘makanan’ sel kanker.

‘Sel kanker juga senang lingkungan asam,’ kata dr Paulus. Ia menyarankan agar pasien kanker menghindari mengkonsumsi daging. Selain mengandung residu antibiotik dan hormon pertumbuhan parasit, daging bersifat asam. Pada tubuh sehat reaksi kimiawi pada darah sedikit basa yakni ber-pH 7,35-7,45. Dengan begitu, terapi herbal semakin efektif.

Makan harus dijaga lantaran menurut dr Henry 40% penyebab tumor dan kanker adalah makanan. Pendapat senada dilontarkan dr Paulus. ‘Terutama makanan yang berpengawet yang biasanya bersifat karsinogenik (merangsang pertumbuhan kanker, red),’ kata dokter spesialis bedah alumnus Universita’ Degli Studi di Padova, Italia, itu. Contoh lainnya pemanis buatan golongan aspartam.

Menurut dr Edwin Perdana, dokter dan konsultan kesehatan di perusahaan farmasi di Jakarta, penyebab kanker ada di mana-mana. Ketika menghirup udara pun risiko kanker mengancam. Polusi udara sarat radikal bebas, penyebab melonjaknya jumlah penderita kanker. Akibatnya, perkembangan sel tidak terkendali dan merusak sel. Riset membuktikan ling zhi ampuh untuk mengatasinya. (Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img