Trubus — Bing Urip Hartoyo masygul sekitar 150 induk ikan dewa berbobot lebih dari 1 kg terlihat lemah pada Februari—Maret 2019. Setelah diperiksa, kutu air yang menyerang ikan. Peneliti ikan dewa di Balai Riset Penelitian Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor, Jawa Barat, Drs. Jojo Subagja, M.Si, mengatakan, sejenis kutu air yang menyerang ikan dewa milik Bing kemungkinan ektoparasit Argulus sp.

“Hama itu menyerang karena suhu air lebih dingin dan penumpukan bahan organik. Argulus sp. memakan lendir ikan dan menyebabkan infeksi sekunder,” kata Jojo. Pekerja lalu mengisolasi ikan dan memberikan larvasida. Jika serangan parah, pekerja memberikan sabun detergen. Selang dua hari ikan kembali sehat. “Kutu air itu salah satu hama paling merugikan,” kata pembudidaya ikan dewa di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Musababnya jika ikan terserang saat musim memijah, maka makin sedikit induk yang dipijahkan. Tentu saja produksi telur pun berkurang. Apalagi produksi telur ikan dewa sedikit dibandingkan dengan ikan tawar lainnya. Jojo mengatakan satu induk ikan dewa menghasilkan 900—1.000 telur. Bandingkan dengan satu induk ikan mas yang memproduksi sekitar 100.000 telur per kg ikan.
Hambatan lainnya yakni tidak semua wilayah dataran tinggi cocok untuk pembenihan ikan dewa. Harap mafhum ikan anggota famili Cyprinidae itu menghendaki suhu air kurang dari 26°C dan jernih untuk memijah. Ikan dewa ukuran konsumi pun menyukai kolam berarus dan berkebutuhan oksigen tinggi. Artinya tidak semua lokasi budidaya bisa membudidayakan ikan pemakan segala itu. Meski begitu masyarakat bisa memelihara ikan dewa dengan memilih segmentasi usaha sesuai lingkungan masing-masing.
Menurut peneliti ikan dewa di Peneliti Pusat Penelitian Biologi, Bidang Zoologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Haryono M.Si, tantangan lain pengembangan ikan dewa yaitu kebijakan pemerintah. Pengembangan ikan-ikan asli Indonesia belum terlalu tinggi. “Yang selalu difokuskan produksi dan produksi, tetapi komoditasnya tidak diperhatikan,” kata Haryono. Sebetulnya ada riset ikan asli Indonesia, tapi jarang. Lebih banyak riset ikan budidaya lain seperti nila dan mas. Dengan kata lain promosi dan pengembangan ikan asli Indonesia masih kalah dibandingkan ikan pendatang. (Riefza Vebriansyah)
