Wednesday, August 10, 2022

Atasi Hama Kurma

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Strategi mengendalikan perongrong kurma.

Kondisi kebun yang bersih dapat menekan serangan hama dan penyakit kurma.
Kondisi kebun yang bersih dapat menekan serangan hama dan penyakit kurma.

Pelepah daun kurma di lahan Syaiful Ichsan itu penuh bercak-bercak cokelat. Sebanyak 10 tanaman terjangkiti penyakit akibat cendawan Graphiola phoenicis. Keberadaan makhluk mini itu memang tidak memicu kematian. Namun, jika dibiarkan mengganggu pertumbuhan tanaman. Penampilan tanaman pun kurang sempurna. Praktikus kurma di Bekasi, Provinsi Jawa Barat, itu menuturkan serangan cendawan wajar pada tanaman kurma yang tumbuh di daerah beriklim tropis.

“Kelembapan tinggi menjadi pemicunya,” ujar Syaiful. Ia mengatasi serbuan makhluk mini itu dengan menyemprotkan larutan berisi sabun cair. Ia melarutkan 1 sendok makan sabun cair ke dalam 1 liter air. Larutan itu lantas disemprotkan ke seluruh permukaan daun. Cara itu cukup ampuh. Larutan melekat kuat lalu cendawan akan rontok bersama air hujan. Berkebun kurma itu susah-susah gampang karena peka kelembapan tinggi.

Sabun cair
Prof Monica L. Elliot dari Departemen Patologi, Pusat Pendidikan dan Penelitian Fort Lauderdale, Amerika Serikat, menuturkan Graphiola phoenicis musuh utama bagi tanaman palem-paleman, khususnya kurma Phoenix dactylifera. Cendawan anggota keluarga Graphiolaceae itu menyukai lingkungan kering, panas, dan curah hujan rendah. Itu sebabnya, presensi graphiola lebih banyak ditemukan pada kebun kurma yang ditanam di Kalifornia dibandingkan dengan Florida.

Monica melaporkan terdapat 3 varietas kurma yang rentan terserang graphiola di Amerika Serikat, yakni deglet noor, medjool, dan zahidi. Biasanya pekebun membuang daun yang sudah terinfeksi agar tidak menular ke daun sehat. Adapula pekebun yang menyemprotkan fungisida berbahan aktif metil thiophanat, tembaga hidroksida, atau tembaga oksiklorida.

Serangan cendawan Graphiola phoenicis di pelepah daun kurma.
Serangan cendawan Graphiola phoenicis di pelepah daun kurma.

Apilkasi fungisida tak lantas menyembuhkan daun yang sakit. Fungisida hanya berperan melindungi jaringan daun muda dari serangan cendawan. Gejala awal penyakit berupa bintik-bintik kuning atau cokelat. Lokasi bintik ada di kedua sisi helai daun. Penyakit yang timbul saat ini merupakan akibat dari infeksi tahun lalu. Pasalnya, siklus hidup cendawan graphiola cukup lama yakni 10—11 bulan.

Patogen lain hanya butuh waktu dalam hitungan pekan saja. Itu sebabnya jumlah bercak daun pada tanaman umur 3 tahun lebih banyak dibandingkan tanaman umur setahun. Selain cendawan, pekebun juga harus mewaspadai serangan kutu putih. Peneliti di kebun kurma Jonggol Farm, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Hamka Fauzan, mengatakan bahwa kutu putih kerap menyambangi pertanaman kurma.

Hamka mengandalkan sabun cair untuk menahan serangan. Ia melarutkan 2 sendok makan sabun cair ke dalam tangki berkapasitas 14 liter air. Biasanya total volume itu mencukupi untuk 10 tanaman. Frekuensi penyiraman rutin dilakukan setiap pekan. Sejatinya, pekebun bisa menanggulangi serangan cendawan lebih awal. Pencegahan langkah tepat dibandingkan dengan pengobatan.

Perawatan
Pekebun di Nakhonratchasima, Thailand, Pratin Aphichatsanee, menerapkan standar berkebun yang ketat untuk melindungi kebun kurma miliknya. Ia menerapkan penanaman longgar agar sinar matahari bebas masuk. Dengan begitu keberadaan cendawan dapat ditekan sehingga panen buah aman. Pratin juga mengawasi dan menjaga kebersihan kebun setiap hari. Itu sebabnya sampai kini belum ada serangan hama dan penyakit yang mematikan.

Buah rusak akibat serangan burung dan kelelawar
Buah rusak akibat serangan burung dan kelelawar

Mantan bankir itu memberikan perawatan terbaik antara lain pengaturan jarak tanam, pemupukan, penyiangan, dan pemangkasan berkala. Ia membersihkan gulma minimal dua kali dalam sepekan. Gulma yang tumbuh lebat dapat menimbulkan persaingan air dan hara. Keberadaan gulma juga menyebabkan kelembapan di sekitar tanaman tinggi. Dengan begitu gulma menjadi tempat nyaman bagi hama dan penyakit untuk berkembang biak.

Begitu pula pemangkasan pelepah daun. Pratin memangkas usai panen. “Yang jadi masalah justru serangan burung dan kelelawar,” ujar Pratin. Kedua hama itu menyukai buah kurma pada fase khalal atau buah segar. Ia pantas waspada sebab buah yang dimakan burung maupun kelelawar menjadi rusak. Dampaknya buah tak laku dijual. Jika dibiarkan produksi buah bisa anjlok hingga 50%.

Itu sebabnya Pratin membungkus sejak buah berumur 75 hari pascapolinasi. Ancaman lain yang harus diwaspadai adalah kehadiran kumbang badak Oryctes rhinoceros. Serangan parah hewan anggota Ordo Coleoptera bisa mengakibatkan kematian. Kumbang badak juga meninggalkan jejak berupa luka pada pelepah dan pangkal batang. Pengendalian paling mudah yakni dengan menangkapi setiap kumbang yang ditemukan.

Cara lain adalah penggunaan feromon sintetis (etil- 4 metil oktanoate). Pratin lebih memilih model itu sebab praktis. Ia hanya perlu melekatkan feromon pada ember plastik berkapasitas 12 liter. Selanjutnya, ia menggantungkan ember pada tiang bambu yang ditancapkan di antara barisan tanaman kurma. “Dengan penerapan teknik budidaya terbaik buah yang dipanen pun melimpah,” ujarnya. (Andari Titisari)

Previous articleDurian Daun Naik Daun
Next articleTin Mutu Top
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img