Batang D. anosmum yang gundul daunnya itu oleh Tampang dimasukkan ke dalam dus. Setiap sisi terbuka dus ditutup menggunakan isolasi hingga rapat. Tujuannya, supaya suasana di dalam dus menjadi panas. Karton lalu disimpan di tempat ternaungi di dalam rumah tanam.
Dendrobium beraroma harum itu dibiarkan ‘kepanasan’ di dalam karton selama seminggu. Setelah dikeluarkan dari karton, anggota famili Orchidaceae yang batangnya mulai mengeriput itu digantung terbalik di tempat ternaungi. Namun, kerabat vanili itu tetap dibiarkan tidak disiram selama sehari-semalam. Bila langsung disiram justru bisa berakibat fatal: tanaman mati.
Setelah sehari-semalam digantung, tanaman epifit itu lantas disemprot larutan fungisida sesuai dosis aturan. ‘Semprot sampai semua bagian tanaman basah,’ kata Tampang yang asli Rantepao, Tanatoraja. Seminggu setelah itu, giliran pupuk berkadar fosfat dan kalsium tinggi-untuk memacu pembungaan-disemprotkan. Pemupukan diulang sekali seminggu.
Sekitar 1-1,5 bulan pascaperlakuan, dari bekas dudukan daun muncul calon-calon bunga. Pada Bandung Orchids Festival 2007, kuncup-kuncup itu menjelma jadi bunga-bunga berwarna ungu yang mekar serempak. Kelimabelas batang yang menjuntai hingga 1 m nyaris tertutup 50-60 bunga. Kerja keras Tampang pun berbalas gelar best of spesies.
Kalah prima
Lukas BK Parnata, salah seorang juri, mengacungi jempol perlakuan ala Tumpang itu. ‘Ini sebetulnya meniru kejadian di alam,’ katanya. Memasuki kemarau, dendrobium tipe nobile-termasuk di dalamnya D. anosmum-punya kebiasaan menggugurkan daun. Daun-daun digugurkan supaya calon-calon bunga muncul dari bekas dudukan daun. Pada September-Oktober-musim bunga- kuntum-kuntum itu bermekaran.
Di tangan hobiis, bila tanpa perlakuan, bunga tidak bakalan muncul serempak, jumlahnya sedikit, atau hanya muncul di sisi tertentu. Berbeda dengan D. anosmum koleksi Tampang yang batang-batangnya dibanjiri 50-60-an kuntum bunga yang tahan hingga 1,5 bulan.
Pantas dendrobium yang cocok tumbuh di dataran rendah dan menengah itu pun sanggup bertarung sengit dengan Brassia rex-peraih best of hybrid-pada perebutan best of show. Sayang di babak puncak itu dendrobium asal dataran rendah tapi berhawa sejuk di Sulawesi Selatan itu harus mengakui keunggulan anggota subtribe Oncidiinae koleksi Reza.
Dalam penilaian para juri-Lukas BK Parnata, Ayub S Parnata, Bennectius Angkadireja, dan Yosi-penampilan Brassia rex lebih prima. ‘Susunan bunga lebih rapi dan penuh. Jumlah bunga banyak serta bentuk dan ukurannya seragam. Bunga pun mulus,’ kata Lukas. Keunggulan itu pula yang membuat anggrek berpola warna kuning-cokelat itu memenangkan persaingan sengit di section oncidium hibrida sebelum melenggang ke babak best of hybrid dan best of show.
HUT Bandung
Perhelatan ke-2 Bandung Orchids Festival di areal parkir pusat perbelanjaan Metro Trade Mal itu diikuti oleh 56 peserta dari Jakarta, Irian Jaya, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat yang diwakili tuan rumah: Bandung. Peserta terbanyak datang dari Jakarta. Pada kontes dalam rangka hari jadi kota Bandung itu-sebelum 2006 bernama Bandung Orchids Show-peserta dibagi ke dalam 11 section. Pada setiap section, juri melakukan penilaian dengan sistem show judging dan voting.
Kandidat juara mesti memenuhi kriteria: penampilan fisik tanaman prima, susunan bunga rapi dan penuh, bunga mekar mencapai 65% populasi, warna unik, dan sehat. ‘Memilihnya susah karena masing-masing tanaman tampil bagus,’ ujar Lukas. Akhirnya saat matahari mulai masuk ke ufuk barat, para juara kontes yang diselenggarakan Asosiasi Pekebun Anggrek Indonesia cabang Bandung, yayasan Bandung Sejuta Bunga, dan Metro Trade Mal pun terpilih. (Evy Syariefa)
