Hamparan stroberi di atas bedengan berplastik mulsa hitam perak terpampang begitu Kiki Rizkika, wartawan Trubus, menyusuri jalan di Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Kalisoro memang salah satu pusat penanaman buah cinta di kabupaten kaki Gunung Lawu itu. ‘Luasan total di Kabupaten Karanganyar 9 ha,’ ujar Ir Ruhanto, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar. Sisa penanaman tersebar di desa-desa lain di Kecamatan Tawanmgangu.
Bidang-bidang tanah berisi rumpun-rumpun Fragaria sp itu bersebelahan dengan lahan penanaman wortel dan sawi. Di sebuah kebun di dekat rumah sederhana sekaligus kantor kelompok tani stroberi ‘Sumber Agung’ Trubus pun singgah.
Manis
Di ruang depan seluas 6 m x 4 m, 3 pekerja terlihat sedang menyortir buah. Buah-buah yang sudah dibersihkan, ditimbang, lalu dipisahkan berdasarkan bobot dan ukuran. Buah grade A berdiameter 2,5- 3 cm dengan bobot minimal 50 g. Namun, beberapa buah bisa mencapai bobot 70- 100 g. Grade B, diameter 1- 2 cm, bobot minimal 15 g. Buah bersosok bongsor tapi cacat juga bisa masuk kelas B. Di luar itu, buah masuk grade C.
Suyatno, empunya rumah dan pengurus kelompok tani, menyodorkan sepiring stroberi matang berwarna merah. Bentuk buah ardbei itu berbeda-beda. Ada yang menyerupai kerucut yang meruncing, tapi ada juga yang melebar tidak berarturan. ‘Di sini ada 3 jenis stroberi yang ditanam,’ kata penanggung jawab bidang budidaya dan produksi kelompok tani itu.
Yang pertama, bentuk buah tidak beraturan dan biji di permukaan kulit buah melesak ke dalam. Penduduk setempat menyebutnya jenis nenes atau daun keriting karena daunnya memang bergelombang. Bibit awal nenes didapat dari Malang dan Bali pada 1999. Menurut Suyatno, di sentra penanaman stroberi di Bedugul, Bali, nenes paling banyak ditanam. Hanya saja, nenes di Bali berwarna merah muda, di Tawangmangu bisa merah hati dan segar.
Jenis kedua, silva yang didatangkan dari daerah Bogor. Bentuk buahnya pun tidak beraturan, tapi biji menonjol, teksturnya keras dan padat. Rasa silva mirip dengan nenes, tapi lebih masam sedikit. Jenis ketiga, kalifornia alias tristar. Bentuk buahnya paling bagus, membulat dan lonjong ke ujung. Sayang, rasanya paling masam. Nenes dan silva banyak kandungan airnya, kalifornia lebih kering. Kalifornia juga didatangkan dari Malang.
Sebetulnya ada jenis ke-4, namanya ana. Varietas itu asli Karanganyar. Namun, penanamannya lebih sedikit ketimbang stroberi-stroberi pendatang karena buah lebih kecil dan rasanya agak asam.
Dari Kalifornia
Penelusuran Trubus pada Paulus Hari Susilo, S Hut, supervisor kebun wisata Kusuma Agro, Batu, pekebun di Tawangmangu mendapat pasokan bibit dari wilayah pegunungan di timur Jawa itu. ‘Sejak 1999 kami rutin mengirim tristar,’ ujar Paulus. Tristar salah satu varietas asal Kalifornia, Amerika Serikat, yang adaptif di tanahair.
Jenis lain, chandler, zelva-bukan silva seperti yang disebut pekebun di Tawangmangu, dan sweet charlie. Semua ditanam di lahan terbuka Kusuma Agro. Pada minggu terakhir September 2007, Paulus baru saja mengirimkan perdana bibit sweet charlie. Sementara jenis nenes, Paulus belum pernah mendengar. ‘Mungkin itu sebutan lokal,’ katanya.
Perkara kualitas stroberi Tawangmangu istimewa, diakui pria ramah itu. Dari 4 sentra stroberi yang pernah dikunjungi: Bedugul (Bali), Ciwidey (Bandung), Tawangmangu (Karanganyar), dan Batu, buah cinta di Tawangmangu paling top. Rasa manis dan buah besar-besar. Selain sifat varietas, kondisi iklim dan tanah di Tawangmangu paling cocok untuk penanaman stroberi. Kalisoro berketinggian 1.200 m dpl dengan suhu rata-rata 18-25oC. Kondisi yang disukai stroberi.
‘Iklimnya cocok, tanahnya baru dibuka sehingga sumber hara secara alami tersedia melimpah,’ tutur Paulus. Itu pas dengan sifat stroberi yang rakus hara organik untuk menghasilkan buah berkualitas. Selain itu penanamannya semiorganik. Penggunaan pupuk kimia ditekan sesedikit mungkin. Pestisida sama sekali tidak dipakai.
Olahan
Bibit stroberi mulai ditanam pada Januari-Februari. Empat bulan kemudian, buah sudah mulai bisa dipetik, tapi jumlahnya masih sedikit. Puncak panen raya pada Juli-Agustus-September. Hasil panen dari kebun anggota kelompok tani dikumpulkan di kantor kelompok tani. Pada awal musim, ada 50-100 kg yang disetor per 2 hari. Jumlah itu melonjak jadi 200-300 kg pada panen raya.
Buah lalu disortir dan dikemas dalam kotak-kotan plastik berkapasitas 100 g dan 250 g. Buah kualitas A disetor ke pasar swalayan di Solo, Yogyakarta, Klaten, Semarang, Nganjuk, dan Kediri. Harganya di pasar swalayan minimal Rp40.000 per kg, ajek tinggi. Grade B masuk ke pedagang eceran yang biasa berjualan di kawasan wisata Tawangmangu. Buah biasanya dipetik setengah matang, 3 hari pascapetik baru bisa enak disantap.
Sementara grade C diolah menjadi selai dan sirup yang diolah oleh anggota koperasi. Olahan stroberi hanya dijual di kantin koperasi lantaran biasanya habis dibeli pelanggan yang rutin datang.
Waktu Kiki Rizkika melakukan wawancara, seorang wanita muda datang berkunjung. Sri Utari, namanya, sudah 3 tahun terakhir jadi penggemar tetap buah segar, selai, dan jus stroberi karanganyar. Ia rela menempuh perjalanan 1,5 jam dari Ponorogo sekadar membeli oleh-oleh untuk teman dan kerabat. ‘Saya sengaja membeli stroberi langsung ke sentra karena lebih segar,’ katanya. Setelah menimbang-nimbang, Sri membawa pulang 5 kg stroberi segar, 6 botol selai, dan 8 botol sirup.
Menurut Eko Purwanti, pengurus koperasi dan istri Suyatno, setiap bulan minimal 80-100 botol sirup dengan volume 800 ml terjual. Volume penjualan selai dalam kemasan 400 g lebih banyak lagi. Harga masing-masing Rp12.500 dan Rp7.500 per botol. Makanya buat penduduk Kalisoro, stroberi memang manis. (Evy Syariefa/Peliput: Kiki Rizkika)
