Friday, August 12, 2022

Banjir Tak Mampir di Gambiran

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Taman Pendidikan Gajahwong sebagai ruang terbuka hijau dan sarana pendidikan lingkunganSemula Gambiran rawan banjir dan bersanitasi buruk. Kini wilayah itu tidak pernah banjir dan nyaman bagi warganya.

Setiap musim hujan tiba, Suratman B waswas. Harap mafhum tempat tinggalnya hanya berjarak 40 m dari bantaran Sungai Gajahwong, Gambiran, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Jika hujan deras air sungai itu meluap. Musababnya sungai sepanjang 20 km itu mengalami pendangkalan dan penuhi sampah. Akibatnya badan sungai tak sanggup menampung debit air sehingga jalan di depan rumah warga pun banjir.

Pada 2009, misalnya, air menerobos rumah warga hingga ketinggian lebih dari 0,5 m. Bukan hanya air yang memenuhi pemukiman, sampah pun berserakan di mana-mana. Belum lagi lumpur yang membuat lingkungan semakin kotor.

Taman pendidikan

Keadaan seperti itu beberapa kali terulang. Warga yang bosan menghadapi persoalan serupa itu akhirnya mencari solusi. Drs M Jamroh Latief MSi, ketua rukun warga (RW) 08 Gambiran dan beberapa warga akhirnya sepakat membenahi lingkungan. Sebagai langkah awal mereka menyosialisasikan pentingnya hidup selaras dengan alam. Selanjutnya tepat pada peringatan hari bumi pada 22 April 2004 masyarakat Gambiran dan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menanam 50 mahoni di wilayah RW 08.

Lokasi penanaman di area yang kini menjadi taman dengan jarak antarbibit 3 meter. Warga Gambiran terus menanam beragam jenis pohon seperti mangga, rambutan, dan palem-paleman selama 3 tahun. “Masyarakat mulai menyadari betapa pentingnya lingkungan nyaman dan bersih,” tutur Jamroh. Akhirnya pada 1 April 2007 seluruh masyarakat sepakat membentuk Kampung Hijau Gambiran.

Itu wujud kesadaran lingkungan masyarakat. Agar pembenahan kampung efektif dan efisien, masyarakat membentuk 7 kelompok kerja (pokja). Ketujuh kelompok kerja itu meliputi tamanisasi dan penghijauan, sanitasi dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, perpustakaan, ruang terbuka hijau (RTH), penataan sungai bersih, penerangan dengan tenaga surya, dan pengelolaan sampah.

Kebutuhan masyarakat terkait ruang terbuka hijau dan taman terwujud dengan kehadiran Taman Pendidikan Gajahwong. Padahal, semula semak belukar tumbuh di lokasi yang berubah menjadi taman itu. Berkat kerja sama masyarakat RW 8 dan dukungan pemerintah setempat lahirlah taman yang kini banyak dikunjungi warganya itu. Di kawasan taman, warga dapat melakukan beragam aktivitas seperti jogging, bermain, atau sekadar santai menikmati kenyamanan. Beberapa jenis tanaman seperti mangga, jambu, dan lengkeng tumbuh subur di lahan seluas 3.000 m2 itu.

Sesuai ekologi

Penempatan pohon disesuikan dengan ekologinya. Sebut saja gayam Inocarpus fagifer yang ditanam di bantaran sungai. Sebab, “Gayam dikenal sebagai tanaman yang dapat menyimpan air,” ujar Jamroh. Menurut Anas Badrunasar dari Balai Penelitian Teknologi Agroforestri Ciamis, Jawa Barat, gayam memang sering ditemui tumbuh di sepanjang tepi sungai. Hasil riset Pirka Setiawati dari Departemen Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebutkan pohon berpengaruh

sangat besar terkait kenyamanan di ruang terbuka hijau.

Daya tarik taman itu juga pada lampu penerangannya. Tidak seperti lampu taman lazimnya yang menggunakan listrik sebagai sumber tenaga, lampu taman itu mengandalkan sinar matahari. “Itu bentuk efisiensi penggunaan energi ramah lingkungan,” kata Jamroh. Di sana terdapat 1 panel surya yang mampu menampung listrik berkuatan 1.000 watt. Itu cukup sebagai sumber energi bagi 18 lampu taman. Ketika malam tiba, taman tetap benderang hingga pagi.

Untuk mengelola limbah rumah tangga Gambiran menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal. Proses itu menjaga eksosistem Sungai Gajah Wong tetap lestari. Sebab air yang dibuang bebas dari bahan-bahan berbahaya bagi lingkungan.

Untuk mencegah banjir masyarakat menempatkan beronjong di bantaran sungai. Pekerjaan itu dilakukan secara bertahap sejak 2004—2010. Selain itu masyarakat juga menurap tepi sungai. Aksi masyarakat yang menata sungai bersih itu mendapat ganjaran setimpal. Pada 2008 Pemerintah Kota Yogyakarta mendaulat Sungai Gajahwong yang melintasi Gambiran sebagai kali terbersih.

Prestasi lainnya Gambiran menjadi Kampung Hijau tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2007. Terakhir pada 2011 Gambiran memperoleh juara pertama Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau se-Kota Yogyakarta. Menurut Jamroh banyak perubahan positif setelah Gambiran mendeklarasikan diri sebagai kampung hijau. Sebut saja lingkungan pemukiman yang tertata rapi dan bersih.

Penghijauan hampir terdapat di setiap rumah. Warga pun kini memiliki fasilitas olahraga seperti   lapangan bulutangkis dan outdoor fitness. Pengelolaan sampah pun mulai teratur berkat kehadiran bank sampah. Gambiran membuktikan tak selamanya pemukiman di tepi sungai selalu berdampak buruk bagi lingkungan. Kuncinya hiduplah selaras dan serasi dengan alam. Salam hijau. (Riefza Vebriansyah)

  1. Taman Pendidikan Gajahwong sebagai ruang terbuka hijau dan sarana pendidikan lingkungan
  2. Penerangan taman ramah lingkungan karena bertenaga sinar matahari
  3. Gerbang menuju Kampung Hijau Gambiran
  4. Lingkungan pemukiman kini sejuk, asri, dan tertata rapi
  5. Drs M Jamroh Latief Msi bersama warga Gambiran mewujudkan Kampung Hijau Gambiran

Foto-foto: Riefza Vebriansyah

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img