Monday, November 28, 2022

Pembibitan Keluarga

Rekomendasi

 Bahkan budidaya padi pun memungkinkan di potKetika terjadi krisis multidimensi pada 1998, harga cabai melonjak, menjadi lebih mahal daripada daging. mendiang Presiden Soeharto membawa pohon cabai dalam pot ke rapat kabinet.  Katanya, kalau setiap keluarga punya tanaman sendiri, tak perlu ada gejolak. Setiap rumah bisa menyediakan cabai, tomat, seledri, tebu, kelapa, jeruk nipis, bahkan pohon keras untuk bahan bangunan sendiri. Bersama pendekar lingkungan, Suryo W. Prawiroatmodjo, saya mencoba membuat pembibitan kayu dan pohon buah. Saya membawa beberapa kilogram biji jati putih Gmelina arborea yang ternyata mudah sekali tumbuh.

Suryo menyewa sebidang tanah, saya membantu menggaji karyawannya. Setelah satu tahun, kami punya ribuan pohon yang siap dibagi. Seorang karyawan, Markum, sepekan sekali dibekali karung untuk mengumpulkan biji-bijian yang tebuang di pasar buah. Dari biji-biji itu kami mendapat bertruk-truk bibit, siap ditanam di lahan-lahan yang memungkinkan.

Bikin hutan

Lima belas tahun berlalu. Suryo wafat, 8 Mei 2013.  Beberapa hari sebelum menutup mata, ia berkata, “Pohon yang kita tanam dulu ada yang sudah ditebang untuk memperbaiki rumah keluarga Markum.”  Pohon yang mana ya?  Tentu Gmelina yang kami deretkan sebagai percontohan di depan rumah. Dalam waktu 15 tahun  batangnya cukup kuat untuk dijadikan kusen jendela. Saya berharap dia menutup mata dengan bahagia.  Kerja kerasnya menanamkan cinta lingkungan tidak sia-sia. Setiap orang bisa melakukan perubahan besar dengan memelihara biji-biji yang kecil.

Kalau punya satu kantung biji saja, kita bisa membuat hutan. Begitu pesan Suryo. Di pelataran gereja Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, ditanam 23 batang jati Tectona grandis. Awalnya ada yang protes karena dianggap mengundang sampah,  tidak rindang, dan seterusnya.  Namun, insya allah 50 tahun lagi kayunya sudah cukup bagus untuk menambah bangku baru bila diperlukan.

Selain kayu, pohon keluarga yang sangat berguna adalah bambu.  Pada awal musim hujan, barong atau rumpun bambu di rumah anak saya menghadiahkan 18 rebung.  Cukup untuk dimasak dan dibagi-bagikan kepada yang suka membuat dan makan lumpia. Sepetak taman kecil saja sudah bisa ditanami lada, kunyit, selasih, kencur, jahe, sambungnyawa, dan ubi. Pembibitan keluarga lebih sederhana dari kebun keluarga. Biji-bijian dapat ditabur dalam pot dan polibag.

Kita bisa menumbuhkan manggis, belimbing, kedondong, leci bahkan kurma dalam pot-pot kecil. Kalau sudah agak besar dipindahkan dalam kantung lebih besar.  Setelah siap ditanam, bisa dicarikan alamat, atau orangtua asuh yang punya lahan.

Penghasilan taman

Teman dekat saya Karen Tambayong dikenal sebagai ketua Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) terpilih menjadi ketua kelompok kerja Green City pada asosiasi hortikultura sedunia. Kerjanya keras dan cepat, mencakup di banyak taman dan budidaya bunga di banyak negara. Ia suka pergi ke tempat yang jauh-jauh, termasuk masuk keluar hutan mencari bibit. Setiap kali berjalan bersamanya, selalu menemukan tanaman baru. Kalau melihat rumput berdaun lain dari yang lain, ia selalu berhenti dan mencoba membuat penangkaran. Karen adalah sahabat yang paling suka membuat rumahnya menjadi demplot percobaan.

Ia menanam bermacam anggrek sampai ke atas genting. Dindingnya menjadi areal percobaan vertikultur.  Pohon-pohon araucaria yang tinggi besar, dilatih hidup bersama ekor naga dan simbar menjangan. Intinya tetap menunjukkan: betapa pentingnya pembibitan keluarga. Di Bandung ada Ingkan yang mengubah atap rumahnya menjadi beton agar bisa menanam padi.  Jadinya, ia tak perlu genting. Justru perlu jaring untuk mencegah ribuan burung yang datang ketika padinya mulai menguning.

Sungguh gembira mengunjungi teman-teman yang punya kebun tabulampot. Tanaman buah dalam pot adalah hasil dari taman kecil yang dicintai. Di Blitar, Jawa Timur, sepupu saya Kurniadi selalu menyediakan buah dan sayuran di atas rumahnya.  “Semua ini gara-gara Majalah Trubus,” katanya. Tugas majalah ini memang menyebarkan inspirasi agar kita mengenal, terampil memelihara dan mencintai tanaman. Setiap cinta selalu ada hasilnya.

Gara-gara satu orang suka pohon ara alias tin, sekarang Gresik menjadi sentra penghasil buah tin atau ara. Kita catat Bandung–yang berasal dari cekung laut dan tak punya tanaman asli—kini ditumbuhi pohon paling kaya jenisnya.  Dari merbau patai sampai kina.  Dari stroberi sampai terong belanda. Itu terjadi karena semua yang datang membawa tanaman favoritnya.

Adapun di Mampangprapatan, Jakarta Selatan, malah ada penangkar pohon zaitun.  Mula-mula memang impor, tetapi pada akhirnya  berhasil membudidayakan varietas yang cocok untuk iklim di sini.  Para pehobii itulah yang pada akhirnya berjasa membuat taman-taman kota dan mewujudkan kota hijau. Bila semua kota menanam dan merawat tumbuhan, maka akan tercapai Indonesia Hijau. Beberapa kota seperti Surabaya dengan walikota Tri Rismaharini dan Gubernur DKI Jakarta, Djoko Widodo, termasuk penggila tanaman.

Dalam waktu singkat, ruang-ruang pembatas jalan pun sudah penuh pisang-pisangan, tanaman rambat, dan bunga-bungaan. Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, yang semula berseling areal rumput, kini sudah rimbun menghijau. Bagaimana membiayai perawatan tanaman di taman itu?  Bukankah semakin banyak tumbuhan, semakin besar biaya yang diperlukan untuk memupuk, menyiram, merapikan, bahkan mengasuransikan pohon-pohon tua? Untuk pohon-pohon yang terlalu tinggi diperlukan penangkal petir.  Sementara pohon yang sakit, lapuk, nyaris tumbang, perlu dibiayai supaya tidak mendatangkan bencana.

Jadi bagaimana caranya? Salah satu yang harus diperhatikan adalah jasa parkir dan produksi oksigen setiap pohon.  Karena takut mobilnya jadi penyok bila tertimpa pohon tumbang, banyak orang menghindari parkir di dekat pohon. Padahal bila setiap pohon sudah diasuransikan, dan dilengkapi dengan tanggungan risiko untuk pihak yang dirugikan, orang akan senang hati membayar parkir lebih mahal. Mengapa? Kalau tertimpa pohon, akan diganti dengan mobil baru.

Adopsi pohon

Penghasilan lain adalah adopsi pohon dengan tarif Rp108.000 per tahun untuk setiap pohon yang dipelihara atas nama kita.  Selebritas Olga Lydia telah mengangkat cukup banyak pohon di Taman Nasional Gede Pangrango. Ia berpikir, sebagai warga kota sebenarnya kita berutang oksigen dan air pada taman-taman. Setiap pohon itu diam-diam membuat masyarakat jadi sehat, jantung kita berdetak rata-rata 108.000 kali setiap 24 jam. Jadi sudah sepantasnya, kalau tidak bisa menanam pohon sendiri, lantaran terlalu sibuk, tak punya tempat dan lain-lain, kita serahkan urusannya kepada pengelola taman.

Mereka adalah orang yang dilatih, digaji, diawasi dan ditingkatkan profesionalitasnya dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Mereka bisa melihat akar-akar yang bekerja keras siang dan malam di dalam tanah. Mereka juga mendengar apakah pohon-pohon di seputar kita sedang menangis, atau justru gembira bernyanyi. Kalau kita melatih diri sendiri dan keluarga di rumah membuat pembibitan sendiri, berarti kita berdamai dengan lingkungan terdekat.

Nanti, semua kesibukan di bumi akan selesai.  Di pintu akhirat ada malaikat yang bertanya, “Sebutkan nama pohon yang telah Anda tanam di dunia?” Jangan sampai kita bingung dan tidak bisa menjawab, karena kita tidak pernah  memikirkannya. Minimal kita tahu berterima kasih. Sebab, Bapak Adam dan Ibu Hawa diciptakan di sebuah taman. ***

 

*) Budayawan, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Jababeka Botanic Gadens, Tim Pembina Sekolah Adiwiyata.

 

FOTO:

Bahkan budidaya padi pun memungkinkan di pot

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img