Serangan lalat buah kendala mengebunkan avokad. Para petani menerapkan beragam cara mengatasinya.
Ukuran tubuh lalat Tephritid amat mungil, sekitar 8 mm. Namun, ulah serangga anggota famili Tephritidae itu bikin repot petani avokad. Lihat saja kebun avokad Eflin Sirait di Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada 2020 sebanyak 10% dari total panen buah avokad terserang lalat buah. Harga avokad di tingkat petani pada musim panen November 2020 mencapai Rp55.000 per kg. Meski enggan menyebutkan total permintaan, Eflin menggambarkan tiap konsumen minimal memesan 5,5 kg—30 kg.

di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Serangan itu melonjak signifikan dibandingkan dengan serangan pada 2019 yang hanya 5% dari total panen buah. Eflin menduga musim hujan yang lebih panjang menjadi pemicu. Penyemprotan insektisida kerap tak efektif karena terguyur hujan. Ahli lalat buah dari Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Universitas Gadjah Mada, Dr. Suputa, menuturkan sejatinya avokad bukanlah inang lalat buah. Bahkan, avokad merupakan inang lemah (poor host) dari lalat buah.
Tanaman refugia
Menurut Suputa inang utama lalat buah antara lain jambu biji, jambu air, belimbing, mangga, dan pepaya. Doktor Ilmu Pertanian alumnus Universitas Gadjah Mada dan University of Missouri itu mengatakan, jika lalat buah tidak menemukan buah yang lebih disenanginya (inang utama), buah apa pun digunakannya, termasuk avokad bagi keberlangsungan hidupnya. Petani cenderung beralih ke varietas-varietas avokad berkulit keras dan tebal seperti hass untuk menghindari serangan lalat buah.
Peneliti lalat buah hama avokad di Afrika Selatan, Anthony B. Ware dan rekan, menjelaskan faktor penghalau fisik bagi alat peletak telur pada lalat buah adalah ketebalan dan kekerasan kulit buah. Mereka menemukan bahwa jumlah telur lalat buah pada varietas berkulit hitam, tebal, dan keras hass lebih sedikit daripada avokad berkulit hijau seperti fuerte dan dan pinkerton. Sedikit bukan berarti bebas, lalat buah tetap teramati selama penelitian.
Suputa menjelaskan alat peletak telur lalat buah atau ovipositor sangat runcing sehingga mampu menembus kulit buah setebal apa pun. Suputa menyarankan penanaman pohon buah perangkap berupa pohon buah inang utama lalat buah atau buah avokad yang memiliki kulit lebih tipis sehingga lebih disukai lalat buah. Eflin mengatasi serangan lalat buah itu dengan menanam tanaman refugia dan pengusir lalat buah.

Petani avokad sejak 2012 itu menanam serai untuk mengurangi serangan lalat buah. Dalam satu piringan area tanam, Eflin menanam 3—6 rumpun lebat serai Cymbopogon citratus yang disusun mengelilingi piringan atau di bawah kanopi pohon. Ia memilih serai karena manjur menghalau serangga, termasuk lalat buah. Tanaman anggota famili Poaceae itu mengandung senyawa aktif citronella. Aromanya mampu mengusir lalat buah.

Selain itu ia juga menanam campuran kenikir Tagetes erecta, jengger ayam Celosia cristata, dan bunga matahari Helianthus annuus itu di jalur di antara pohon. Pria asal Dumai, Riau itu menanam tagetes karena memperhatikan bunganya yang kerap didatangi lalat buah. Begitu juga dengan bunga matahari dan jengger ayam menarik serangga dewasa lalat buah. Akibatnya serangga lebih banyak berkumpul di area itu. Eflin menyemprotkan insektisida di area refugia ketika banyak serangga dewasa berkumpul.
Menurut Eflin penanaman refugia ampuh untuk menahan serangan lalat buah pada avokad. Ia mengatakan, pohon avokad dengan serai di sekelilingnya relatif lebih sedikit serangan lalat buah. Sebaliknya pohon tanpa serai justru makin banyak serangan lalat buah. Sayangnya, Eflin belum meneliti secara kuantitatif perbandingan jumlah buah yang terserang lalat buah antara pohon dengan banyak serai dan tanpa serai. Meskipun konsisten merawat, tetap saja tidak menjamin avokad bebas lalat buah.
Suputa menuturkan, tanaman refugia berbeda fungsi dengan tanaman perangkap. Tanaman bunga bukan inang alternatif bagi lalat buah, tetapi sebagai pemasok pakan atau tempat hinggap bagi musuh alami lalat buah. “Tanaman berbunga merupakan tanaman pendukung keberadaan musuh alami lalat buah,” ujar Suputa. Tanaman bunga tidak perlu dilakukan pengendalian, sedangkan pada tanaman perangkap, seperti jambu biji dan belimbing, harus dilakukan pengendalian lalat buah secara berkala.
Menurut Suputa cara lain pengontrolan hama secara biologis dengan menggunakan agen hayati musuh alami lalat. Lalat buah memiliki parasitoid seperti Fopius arisanus dan Diachasmimorpha longicaudata yang menyerang dan hidup dalam tubuh larva lalat buah. Parasitoid dapat menyebabkan kematian lalat buah, sehingga dengan memperbanyak populasi parasitoid di kebun avokad dapat menurunkan jumlah serangan lalat buah hama.

Suputa mengembangkan perangkat bernama tabung pendama. Tabung itu berfungsi memerangkap lalat buah sekaligus melepaskan parasitoid lalat buah. “Buah-buah yang telah dipetik dimasukkan ke dalam tabung pendama sampai 40 hari, kemudian tunggu hingga lalat buah keluar dari buah dan terjebak ke dalam tabung itu,” kata anggota Perhimpunan Entomologi Indonesia itu. Tabung dapat dibuat dari wadah bekas cat atau ember, dengan kapasitas bobot menyesuaikan besar wadah.
Penyemprotan insektisida tidak ada yang efektif, menurut Suputa. Hingga saat ini yang paling baik kinerjanya adalah menggunakan protein hidrolisat yang dicampur dengan insektisida dan disemprotkan pada pagi hari. Penyemprotan dilakukan sejak tanaman berbuah sebesar kelereng yang dilakukan tiap pekan selama masa buah. (Tamara Yunike)
