Friday, December 9, 2022

Batuk? Makanlah Cokelat!

Rekomendasi

Cokelat tinggi lemak, itu benar. Namun, lemak cokelat adalah lemak nabati yang sama sekali tidak mengandung kolesterol. Salah besar jika citra cokelat di masyarakat dikaitkan dengan kegemukan. Hasil penelitian Kris – Etherton dan Mustad (1994), konsumsi cokelat susu sampai 280 g/hari ternyata tidak meningkatkan konsentrasi kolesterol ‘jahat’ low density lipoprotein dan total kolesterol plasma. Bahkan, kadar flavonoidnya yang tinggi dapat menjaga kesehatan jantung.

Efek lain yang lebih menyenangkan: terbebas dari batuk. Itu pengalaman seorang penderita radang paru-paru bernama, sebut saja Yanti. Mulanya Yanti cuma menderita batuk menahun, tapi lama-kelamaan seluruh tubuhnya terasa sakit saat terbatuk. Bobotnya sampai turun 3 kg. Diagnosis menyatakan ada flek di paru-paru kirinya sehingga Yanti mesti intensif berobat.

Selang sebulan—berawal dari pemberian kakaknya—Yanti mulai mengkonsumsi sepotong cokelat setiap hari. Dalam sebulan, rasa sakit yang mengiringi batuknya perlahan reda. Sebulan berselang, bobot tubuhnya pun kembali normal dan batuknya tidak lagi kambuh. Riset Prof Maria Belvisi, peneliti di Imperial College London, Inggris, zat teobromin dalam cokelat menghentikan batuk. Caranya dengan menghambat aktivitas saraf vagus yang memicu refleks batuk. Riset itu menunjukkan teobromin lebih kuat ketimbang kodein, zat aktif dalam kebanyakan obat batuk.***

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img