Wednesday, August 10, 2022

Bebas Hepatitis C Berkat 4 Serangkai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Gejala hepatitis C sebenarnya dialami Yati bertahun-tahun sebelumnya. Perempuan kelahiran Jakarta 61 tahun silam itu kerap merasa capek bila terlalu sering naik-turun tangga di rumah. Napas pun terengah-engah. Belum lagi kalau ia sudah asyik mengerjakan pesanan kue kering menjelang Idul Fitri. Selesai memenuhi pesanan, tubuhnya langsung ambruk. Dugaan semula, sulung dari 7 bersaudara itu menderita gangguan jantung. Namun, hasil pemeriksaan ke dokter, gangguan itu nihil.

Indikasi lain, perut terasa kembung dan mual bila makan berlebihan. Jika berbaring terlalu lama dalam posisi miring tubuh ke kanan, perut terasa keras dan mengganjal. Lagi-lagi tak ada kecurigaan kalau itu tanda-tanda serangan hepatitis C. ‘Ah, mungkin ini gejala maag,’ batin Yati kala itu. Pegal-pegal di punggung dan pundak seperti masuk angin pun hanya diatasi dengan mengerik.

10 tahun

Namun, gangguan capek, mual, dan masuk angin yang menjadi pada 2000 membuat putra-putri Yati khawatir. Nenek 9 cucu itu pun diperiksa ke ahli penyakit dalam di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Bak terbentur palu godam, hasil pemeriksaan darah dan USG menunjukkan Yati positif mengidap hepatitis C. Sebut saja nilai Serum Glutamic Oxaloacetic Transminace (SGOT) yang mencapai 450, padahal pada manusia sehat 30. Nilai Serum Glutamic Pyruric Transminace (SGPT) pun di atas ambang batas.

Pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Pondok Indah menunjukkan hasil serupa. Perempuan yang akrab disapa Nyinyi (nenek, bahasa Sunda, red) itu nyaris hilang semangat ketika dokter yang menangani menyebutkan penyakit maut itu belum ada obatnya. Kematian seperti membayang di depan mata.

Menurut dr Handrawan Nadesul, herbalis di Jakarta, infeksi virus C memang menyebabkan maut pada pasien dengan kondisi lemah. Hepatitis C menahun-lebih 6 bulan, disebut kronis-bisa menjadi sirosis dan kanker hati. Hasil pemeriksaan dokter, penyakit yang diderita Yati sudah bersarang selama 10 tahun. Bintik-bintik berwarna biru seperti bekas gigitan nyamuk pada bagian tubuh yang dikerik ternyata efek metabolisme tubuh yang tidak sempurna karena rusaknya fungsi hati.

Satu-satunya jalan untuk memperingan penderitaan, Yati mesti istirahat total. Ia tidak diperbolehkan turun dari tempat tidur selama 2 bulan. Cara itu malah membuat perempuan yang aktif di organisasi Persatuan Istri Dokter Hewan itu tertekan. Yati terbiasa sibuk.

Mesti diulang

Ia merasa kian terkungkung lantaran sejumlah makanan kegemaran mesti dipantang. Misal sambal, durian, dan nangka. ‘Semua makanan ngga boleh digoreng atau mengandung lemak,’ tuturnya. Untuk memperbaiki fungsi hati dokter memberikan Cursil 70 mg dan Im-Reg yang lazim dikonsumsi penderita hepatitis.

Dokter sebetulnya menyarankan pemberian interferon dengan cara suntik. Namun, biaya sangat mahal. Untuk 1 paket dengan 60 kali suntikan-2 kali setiap minggu dan tanpa jeda-mencapai Rp25-juta. Bila proses terputus, pengobatan mesti diulang dari awal kembali. Padahal peluang kesembuhan hanya 40%.

Meski telah mengikuti aturan dokter, kesembuhan yang diharapkan tak kunjung datang. Malah bobot nenek 9 cucu itu merosot tajam dari 55 kg menjadi 48 kg lantaran tak bernafsu makan. Apalagi kondisi psikologis menurun akibat vonis hepatitis C tak dapat disembuhkan. Wajahnya memucat, pipi yang semula segar pun mengempis. Tak heran air mata kerap menitik di pipi para sahabat dan handai taulan yang menjenguk. ‘Habis Yayuk (panggilan sayang, berarti kakak, red) kan biasa gadag-gidig (sibuk, bahasa Sunda, red). Ini kok terbaring sakit,’ kenang Yati meniru sepupu-sepupunya.

Bergantian

Titik terang diperoleh saat seorang kerabat mengirimkan artikel pengobatan tradisional di Majalah Trubus. Dari sana diperoleh informasi, mahkota dewa berkhasiat menyembuhkan penyakit kronis itu. ‘Waktu itu (pada 2000, red) mahkota dewa susah didapat di sini,’ tutur warga Jakarta Selatan itu. Yati memesan buah Phaleria macrocarpa pada kerabat di Yogyakarta. Di kota Pelajar itu mahkota dewa mudah ditemukan.

Buah segar berwarna merah yang didapat lantas dirajang tipis-tipis dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Lalu segenggam mahkota dewa kering, ditambah 1 sendok makan temulawak kering yang dipotong kecil-kecil, dan irisan 3 lembar daun dewa segar direbus dalam 3 gelas air hingga tinggal 1 gelas. Air seduhan itu diminum 2 kali pada pagi dan sore sebelum makan. Bila diminum setelah makan beri jeda selama 2 jam. Sambil meminum ramuan tradisonal, suplemen Im-Reg tetap dikonsumsi.

Dari media sama, terungkap kasus penderita gangguan hati yang sembuh karena meminum rebusan daun mimba. Maka segelas air rebusan 7 lembar Azadirachta indica dari semula 3 gelas diminum 2 kali sehari bergantian dengan ramuan pertama. Kalau minggu ini seduhan mahkota dewa, temulawak, dan daun dewa yang diminum, minggu depan giliran mimba.

Berhaji

Kini 4 tahun berselang sejak vonis maut hepatitis C, Yati tetap perempuan energik. Ruang terbuka di sekeliling rumah ia penuhi dengan berbagai tanaman obat yang tumbuh subur. Sesekali istri Hermansyah itu membuat kue kegemaran cucu-cucu yang kerap bertandang.

Keluhan pegal-pegal nyaris tak pernah lagi dialami. Nafsu makan pun membaik. Hasil tes darah dan USG setiap 6 bulan memperlihatkan nilai SGOT dan SGPT mendekati normal. Lantaran kondisi menyehat, Yati diperkenankan menunaikan ibadah haji pada 2002. Ibadah puasa setiap Ramadhan yang sempat terhenti kembali ditunaikan.

Di Padang Arafah saat tengah bertadabur dengan sang Pencipta, 7 helai mimba yang banyak jadi pohon peneduh jatuh di pangkuan perempuan berkacamata itu. Itu seperti mengingatkan Yati pada perjuangan untuk mencari kesembuhan dari sang El-Maut. (Evy Syariefa)

Awas Mimba Beracun!

Berita penderita hepatitis C meminum seduhan daun mimba mengejutkan R Broto Sudibyo, herbalis kawakan di Yogyakarta. ‘Wah, itu sangat berbahaya,’ tegasnya. Azadirachta indica mengandung koloid yang justru mengganggu fungsi hati. Ia memicu hepatitis menjadi sirosis hati. Oleh karena itu, mimba dihindari sebagai obat oral untuk semua penyakit yang berkaitan dengan hati.

Neem tree itu lebih disarankan untuk pengobatan luar, misal obat sakit kulit. Apalagi sejarah masuknya mimba ke Indonesia terkait dengan fungsinya sebagai pestisida nabati. Toh, berkat air rebusan 7 helai mimba, lever yang diderita FJ Sibagariang, warga Ciputat, membaik. Ia yang sempat koma, kini bisa beraktivitas kembali. (baca Trubus edisi Desember 1998).

Pelindung hati

Untuk mengatasi hepatitis, Broto menganjurkan pasien meminum air seduhan temulawak Curcuma xanthorriza. Di dalam dunia pengobatan tradisional anggota famili Zingiberaceae itu dikenal sebagai hepatoprotector alias pelindung hati. Untuk memperkuat kerja hati boleh ditambahkan meniran Phyllanthus niruri. Pemberian kunyit Curcuma longa sah-sah saja lantaran memiliki fungsi sebagai antibakteri.

Pemanfaatan temulawak dan kunyit pada pasien penderita hepatitis malah sudah diakui oleh dunia medis. Untuk memperingan penderitaan pasien, dokter biasanya memberikan Cursil. Obat gangguan lever hasil riset Prof Sidik dari Universitas Padjadjaran, Bandung, itu terdiri atas temulawak, kunyit, dan Silmymarine. Menurut Prof Sidik, kandungan xantosil pada temulawak menstabilkan nilai SGOT dan SGPT.

Fungsi serupa diduga terdapat pada mahkota dewa pada kasus Yati Hermansyah. Sementara daun dewa merupakan tanaman obat antikanker-hepatitis menahun berisiko menjadi kanker hati. Daun Gynura procumbens menghambat pertumbuhan sel mematikan itu karena kandungan asparaginase. Enzim itu mengubah asparagin-asam amino yang dibutuhkan sel kanker untuk berkembang-menjadi asam aspartat dan amonia. (Evy Syariefa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img