Tuesday, April 21, 2026

Bedah Dulu Supaya Aman

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Bukan kali itu saja Hamdani meraih berkah dari melambungnya harga minyak nilam. Pada 2000, harga minyak yang semula Rp100.000/kg melonjak menjadi Rp300.000. Empat kuintal hasil sulingannya pun dihargai Rp120-juta. Hamdani meraup untung 3 kali lipat. Namun, tak selamanya fluktuasi harga menjadi berkah bagi pengusaha nilam. ‘Pada 1996 saya sempat beralih menanam cabai karena rugi menyuling nilam,’ kata ayah 3 anak itu. Ketika itu harga minyak terjun bebas hingga Rp14.000/kg. Baru pada 1998, ia kembali menyuling nilam karena tergiur harga tinggi yang mencapai Rp1-juta/kg.

Rugi

Sayangnya pada saat yang bersamaan banyak bermunculan pengusaha nilam baru. Akibatnya dalam waktu singkat pasokan minyak dan bahan baku membanjiri pasar. Pada saat itulah berlaku hukum pasar. Pasokan berlimpah, harga merosot menjadi Rp100.000/kg. Alih-alih meraup untung malah rugi yang didapat. Maklum, Hamdani mengolah minyak di saat harga bahan baku melambung. ‘Saya rugi Rp55-juta,’ ujarnya.

Menurut Radiant Lucky, manajer operasional PT Takasago Indonesia, eksportir nilam di Purwokerto, fluktuasi harga minyak nilam seiring dengan fluktuasi pasokan bahan baku. Terhambatnya pasokan dengan cepat mendongkrak harga nilam dunia. Maklum, Indonesia penentu harga pasar dunia karena pemasok terbesar. ‘Dari total pasokan nilam, 90% di antaranya berasal dari Indonesia,’ ujarnya. Hal sebaliknya terjadi bila di tanahair banjir pasokan.

Itulah sebabnya Ir Agus Yana MM memilih berkebun ketimbang membangun sarana penyulingan. Ia membudidayakan nilam di lahan 12 ha di Cianjur, Jawa Barat. ‘Untuk penyulingan saya menyewa alat Rp600.000/sekali proses,’ ujarnya. Dengan begitu Agus mampu menyiasati pasar. Di saat harga anjlok, ia menyuling dan menyetok minyak hingga harga membaik. Ia juga menyimpan bahan baku untuk cadangan produksi di saat harga naik.

Bagi pengusaha yang berpengalaman, strategi semacam itu lazim dilakukan. Mereka membeli bahan baku saat harga murah dan menjual minyak saat harga naik. Strategi seperti itu membuat harga nilam pada kurun 2003-2006 relatif stabil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga minyak nilam pada 2003-2006 berada pada kisaran US$13,08-US$17,01/kg atau Rp130.000-Rp170.000/kg. Akibatnya para produsen minyak menekan harga beli bahan baku dari para pekebun. ‘Pada 2005-2006, harga beli nilam kering di tingkat pekebun hanya Rp1.300/kg,’ kata Lucky. Kondisi itu membuat mereka tak tergiur lagi mengebunkan nilam.

Imbasnya pada akhir 2007 para penyuling kelimpungan mencari bahan baku. Pasokan minyak pun berkurang, sedangkan permintaan tetap. ‘Permintaan minyak nilam dunia 1.500 ton/tahun,’ kata Lucky. Harga akhirnya meroket hingga menembus Rp1-juta/kg. Harga bahan baku di tingkat pekebun mencapai Rp12.000/kg.

Lagi-lagi sikap latah pekebun yang tergiur harga tinggi, kembali beramai-ramai membudidayakan nilam. Hanya dalam waktu 8 bulan, harga kembali merosot Rp600.000/kg. Bagi para pengusaha nilam kawakan, ayun-ambing harga nilam semacam itu bukanlah sebuah kejutan. Bahkan fluktuasi harga sudah dapat diprediksi karena merupakan sebuah siklus. ‘Ini siklus 10 tahunan,’ kata Lucky.

Stabil

Meski demikian, bagi sebagian pengusaha minyak asiri, yang paling aman adalah memilih komoditas yang fluktuasi harganya tidak terlalu tajam. Salah satunya minyak pala. Berdasarkan data BPS, harga rata-rata minyak pala pada kurun 2003-2007 berada pada kisaran US$11,69-US$17,01/kg atau Rp108.000-Rp157.000/kg.

Harga rata-rata mulai naik pada awal 2008 menjadi US$28,18 atau Rp260.000/kg. ‘Pada Juni 2008 menembus Rp350.000-Rp400.000/kg,’ ujar Kurniawan, produsen minyak pala di Ciawi, Bogor. Tingginya harga karena pasokan bahan baku langka akibat curah hujan tinggi sejak akhir 2007. Hujan lebat menyebabkan bunga rontok sehingga pala gagal berbuah.

Karena itulah PT Scent Indonesia, produsen dan eksportir minyak asiri di Jakarta membidik minyak asiri yang tak banyak dilirik produsen lain, seperti minyak jahe, temulawak, dan kencur. Permintaan ketiga minyak itu menganga lebar. ‘Stok berapa pun laku di pasaran,’ ujar Mulyono, general manager PT Scent Indonesia. Pasokan minyak yang masih minim membuat posisi tawar produsen di pasaran cukup kuat. (Imam Wiguna/Peliput: Ari Chaidir & Faiz Yajri)


Artikel Terbaru

Pakan Ayam Probiotik dan Antikoksi Buatan IPB: Bebas Bau, Bobot Cepat Naik

Upaya hilirisasi riset di bidang pertanian dan peternakan terus mendapat dorongan kuat dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman....

More Articles Like This