Tuesday, April 21, 2026

Berburu Ikan di Sungai Musi

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Dari atas perahu, jaring itu dijaga semalam suntuk. Romli perlu memastikan tidak ada bidang jaring lepas sehingga kerja keras malam itu tidak mubazir. Beruntung dewi fortuna berpihak. Saat air surut, ratusan ikan minimal sepanjang kepalan tangan orang dewasa terjebak dalam jaring. Ikan juaro Pangasius polyuranodon, tilan Masteccembulus unicolor, dan lundu Mystus gulio, tampak menggelepar-gelepar untuk lolos. Namun, itu sia-sia karena dari kedua ujung jaring itu Romli dan kedua kawannya menyerok satu per satu ikan itu ke dalam tampah. Pagi itu Romli mendulang sebakul ikan setara 100 kg.

Cara nelayan menangkap ikan dengan sistem belad di Sungai Musi itu Trubus saksikan pada penghujung Juli 2008 atas ajakan Dr Ali Suman, kepala Balai Riset Perikanan Perairan Umum (BRPPU) di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. ‘Silakan lihat potensi ikan air tawar di Sungai Musi ini,’ ujar alumnus Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB itu.

Sungai Musi yang mengular sepanjang 700 km itu memang menyimpan kekayaan ikan air tawar yang besar. Menurut penelitian Drs Asyari, peneliti BRPPU, Sungai Musi punya sekitar 120 jenis ikan air tawar. Jumlah itu lebih besar daripada keragaman jenis di Sungai Barito, Kalimantan Selatan (101 jenis), tetapi lebih sedikit daripada keragaman di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, di atas 200 jenis. Namun, riset terbaru Dr Husnah Samhudi dan tim dari institusi serupa memperlihatkan keragaman jenis ikan Sungai Musi meningkat menjadi 215 jenis. ‘Hasil ini akan dipresentasikan pada International Conference on Inland Water yang kami adakan pada November 2008,’ ujar Ali Suman.

Wajar dengan potensi besar itu masyarakat sepanjang Sungai Musi tak bisa lepas dari konsumsi ikan. Contoh patin Pangasius sp. Nyaris sebagian besar penduduk asli Palembang menyantap sup patin sebagai lauk. ‘Tanpa sup patin seperti ada yang kurang rasanya,’ ujar Ahmad Bastori, warga Jalan Rajawali, Palembang. Yang lain? Siapa tak kenal penganan spesial pempek dan tekwan berbahan baku ikan belida.

Kecuali patin, hampir semua yang dikonsumsi ikan tangkapan. Belad salah satu cara nelayan setempat menangkap ikan. Cara lain: empang, tajur, dan rawai. Yang disebut terakhir memakai tali pancing bercabang 2. Dengan cara ini hanya beberapa jenis ikan terutama berukuran besar seperti baung Mystus numerus, toman Channa microleptes, dan gabus Chana striata yang terkail.

Dengan empang dan jaring peluang menangguk banyak jenis ikan lebih besar. Sayang cara itu hanya efektif saat tiba musim puncak penangkapan sekitar Juli-Agustus. Pada bulan-bulan itu tinggi air pasang mencapai titik terendah. Efeknya banyak ikan bermigrasi lateral dari rawa banjiran ke sungai. Nah, perairan tengah Sungai Musi itu berasosiasi dengan rawa banjiran. Sedangkan hilir dipengaruhi oleh pasang surut dan air payau.

Pantas pula selama menyusuri Sungai Musi sepanjang 30 km dari Kecamatan Mariana menuju Kecamatan Mekartijaya belasan belad tampak berjejer di tepi sungai yang bermuara di Selat Bangka itu. Namun, uniknya tak sembarangan nelayan bisa memasang belad. ‘Di sini pemasangan belad harus lewat lelang karena melewati banyak wilayah desa,’ ujar Kadirun, nelayan.

Lelang itu diadakan setahun sekali setiap November atau Desember. Untuk sebuah wilayah sejauh 10 km di Desa Perajin Kecamatan Mariana, misalnya, tahun lalu pemenang lelang merogoh kocek Rp4-juta. ‘Yang menang biasanya pengepul. Tugas kami hanya memanen dan menjual ikan-ikan besar pada mereka,’ tambah Kadirun. Soal harga? Tentu di bawah standar. Namun, untuk ukuran kecil seperti udang pepe, nelayan bebas menjual sesuai harga pasar sekitar Rp8.000/kg. Itu pula yang dialami Romli dan 2 kawannya.

Sejatinya tak mudah menyingkap daerah di tepi Sungai Musi yang punya peluang besar dihuni banyak ikan. Seringkali nelayan kecele karena jumlah tangkapan sangat sedikit. Apalagi kini nelayan mesti bersaing dengan penangkapan memakai racun ikan-potas-dan listrik. ‘Cara menangkap ini yang membuat ikan jadi sulit ditangkap,’ ujar Eko Priyanto MSi dari BRPPU yang menemani Trubus.

Jawaban itu tersibak saat perahu yang ditumpangi berbelok menyusuri Sungai Pangkal Buluh, anak Sungai Musi. Di sana berjarak 500 m dari sungai utama Trubus menjumpai Ruslan yang tengah asyik membereskan belad. Menurut nelayan asal Desa Upang Jaya itu banyak ikan bersembunyi di antara akar napas pohon jajawi Ficus sp, putat Barringtonia spicata, dan renghas Glutha renghas. ‘Dari pengalaman saya, asalkan ada pohon itu pasti banyak ikannya,’ ujar Ruslan.

Pengalaman Ruslan sejalan dengan penelitian Dr Ir H Mas Tri Joko Sunarno MS dari BRPPU. Menurut riset Joko, vegetasi tepi sungai-riparian vegetasi-merupakan rumah tinggal nyaman bagi banyak ikan. Mereka menjadikan vegetasi seperti pohon jajawi dan putat untuk tempat mencari pakan, memijah, meletakkan telur, bahkan membesarkan anaknya. Fungsi lain yang tak kalah penting adalah lokasi beristirahat sekaligus tempat bersembunyi dari predator.

Riset Steven V dalam Working Paper yang diterbitkan oleh British Columbia Canada, mengungkapkan sungai-sungai yang bermuara ke laut pada setiap hektar bagian tepinya mengandung 500- 700 ton LOD (large organic debris). LOD merupakan hasil dekomposisi reruntuhan daun, kulit pohon, lumut, dan kayu tumbang yang kemudian menjadi sumber pakan ikan.

Selain penangkapan di tepian sungai, Trubus juga menyaksikan penangkapan udang pepe dan teri di perairan tengah hilir sungai. Di sana kelompok nelayan mengikat 8-10 perahu dengan bilah papan menjadi satu kesatuan. Nah, udang dan teri yang tengah ‘jalan-jalan’ saat air pasang dijebak dengan memasang jaring mirip tabung di buritan. ‘Selama 5 hari bisa dapat 3 bakul,’ kata Kasturi, nelayan yang meraup penghasilan bersih Rp15.000/hari itu.

Menurut Ali Suman banyak spesies ikan air tawar Sungai Musi yang memiliki prospek untuk dibudidayakan. Apalagi ketersediaan di alam semakin menipis. ‘Jenis betutu sudah sulit didapat lagi di sini,’ katanya. Padahal Barbicthys laevis itu adalah santapan berkelas di restoran mewah. Nasib sama juga menimpa ikan belida. Jadi? Seyogyanya riset-riset budidaya ikan perairan tawar dipacu dan disosialisasikan pada peternak. Jangan sampai keragaman jenis ikan itu lenyap akibat ketidakpedulian. (Dian Adijaya S)


Artikel Terbaru

Pakan Ayam Probiotik dan Antikoksi Buatan IPB: Bebas Bau, Bobot Cepat Naik

Upaya hilirisasi riset di bidang pertanian dan peternakan terus mendapat dorongan kuat dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman....

More Articles Like This