Trubus.id—Permintaan cacing sutra hasil budidaya terus meningkat seiring berkembangnya usaha penangkaran beberapa komoditas perikanan seperti lele, patin, dan sidat. Menurut peternak cacing sutra, Mohamad Fathurohman kebutuhan cacing sutra yang tinggi dapat menjadi peluang usaha.
“Apalagi budidayanya relatif mudah dan menguntungkan,” ujar peternak di Desa Jatiragas Hilir, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, itu.
Untuk media berkembang biak Fathurohman memanfaatkan lumpur yang ia peroleh dari sungai kecil yang melintasi kediamannya. Lalu mencampur lumpur dengan pupuk kotoran sapi yang sudah terurai.
Selain itu ia juga menambahkan ampas tahu, dedak, dan pasir dengan komposisi 60% lumpur, 20% pupuk kandang, 5% ampas tahu, 5% dedak, 10% pasir, dan larutan probiotik secukupnya. Campur seluruh bahan hingga benar-benar merata.
Setelah itu masukkan media tumbuh ke dalam wadah kultur berupa kolam beralas terpal atau semen hingga ketinggian 10 cm. “Jika di perkotaan yang berlahan sempit bisa menggunakan wadah berupa nampan,” ujar Fathurohman.
Atur ketinggian media kultur agar air dapat mengalir dari satu kolam ke kolam lainnya. Ia lalu mengalirkan air hingga ketinggian 3 cm dari permukaan lumpur. Fathurohman menuturkan air yang digunakan untuk menggenangi kolam sebaiknya mengandung bahan organik.
“Air dari kolam ikan mengandung bahan organik dari kotoran ikan yang larut. Kotoran ikan itu bisa menjadi sumber nutrisi untuk cacing sutra,” tuturnya.
Fathurohman memompa air dari kolam ikan ke tandon air yang diletakkan setinggi 2 m dari permukaan tanah. Ia lalu mengalirkan air dari tandon ke kolam secara gravitasi.
“Air kolam harus mengalir dengan debit tertentu yang cukup untuk menjamin ketersedian oksigen pada media kultur,” jelasnya.
Fathurohman membiarkan media kultur selama 6—7 hari hingga fermentasi media kultur selesai. Cirinya media kultur tidak berbau. Setelah itu barulah ia memasukkan benih ke dalam lubanglubang kecil yang dibuat di media kultur dengan jarak antarlubang 10—15 cm.
Cacing sutra siap panen pada 8—10 hari pascatebar benih. Dari satu jalur kolam berukuran 90 cm x 1.000 cm Fathurohman memanen rata-rata 5 liter cacing sutra. Setiap kali selesai panen, berikan nutrisi tambahan berupa pupuk kandang sapi dan ampas tahu atau limbah pasar yang diblender untuk kembali memacu pertumbuhan cacing.
Untuk setiap jalur kolam berukuran 90 cm x 1.000 cm membutuhkan pupuk kandang dan ampas tahu masing-masing 10 kg. Dalam 4—5 hari kembali bermunculan benih-benih cacing dan siap panen seminggu kemudian.
