Monday, August 8, 2022

Bekal Betik Buat Pensiun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Amir Hamzah, berkebun pepaya untuk bekal masa pensiunUntung saja Amir Hamzah bermental baja. Meski minim pengalaman, pria 55 tahun itu berani “membobok” uang tabungan selama 20 tahun bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu instansi pemerintah, untuk merintis usaha. Kini modal Rp35-juta itu menggelembung menjadi omzet ratusan juta rupiah per bulan.

Lonjakan fantastis dalam hitungan lima tahun itu berkat usahanya menjadi pemasok buah pepaya ke berbagai pasar tradisional dan modern di Jakarta serta hotel berbintang di Bali. Buah Carica papaya itu didapat dari 3 ha lahan sewa yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur, dengan populasi tanaman 1.700 per ha. Setiap bulan ia memanen 20 ton pepaya.

Pasokan buah juga didapat dari pekebun mitra yang bertebaran di Indramayu, Sukabumi, Bogor, Subang, Karawang (Jawa Barat), dan Kebumen (Jawa Tengah). Total luas lahan pekebun mitra mencapai 50 ha. Untuk mengendalikan pasokan dari pekebun mitra, kepala subdivisi Manajemen Risiko dan Kepatuhan di salah satu BUMN yang berkantor di Jakarta itu cukup mengangkat telepon. “Kecanggihan teknologi mempermudah saya mengelola bisnis pepaya,” tutur pria kelahiran Jakarta itu.

Bom Bali

Usahanya bermula dari keresahan Amir. Pada 2002, ia memasuki masa kerja 20 tahun. Dari kerja selama itu tabungannya terisi Rp35-juta. Namun, ayah 3 anak itu masih kerap dirundung waswas. Putra tertuanya masih duduk di bangku sekolah dasar. Artinya, Amir masih perlu menyiapkan dana lebih banyak untuk pendidikan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Padahal 8 tahun lagi ia pensiun. Pada masa purnatugas pria berkacamata itu hanya akan menerima uang pensiun yang jauh dari cukup untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga. Ia pun memutar otak untuk mencari tambahan penghasilan. Ketika itu Amir yang tengah bertugas di Bali melihat peluang untuk memasok buah dan sayuran ke hotel berbintang terbuka lebar. “Pascaserangan bom pada 2002, bisnis hotel di Bali ambruk sehingga kebutuhan pasokan buah dan sayuran kosong. Ketika industri pariwisata di Bali bangkit kembali, mereka kesulitan mendapatkan pasokan karena kerjasama dengan pemasok terputus,” tutur Amir.

Tabungan selama 20 tahun bekerja pun ia pakai untuk biaya operasional memasok buah dan sayuran. Jumlah pasokan yang diminta hotel untuk sekali permintaan cukup banyak. Namun, pembayaran dilakukan 2 bulan sesudahnya, sehingga dibutuhkan biaya operasional yang besar. Pasokan buah dan sayuran didapat dari pasar induk di Bali.

Naluri bisnisnya tepat. Hanya dalam hitungan bulan omzet meroket hingga Rp 100-juta per bulan. Usahanya cepat melaju karena Amir hampir tak punya pesaing. Ketika itu pemilik UD Prima Agro itu memasok 5 hotel berbintang di Pulau Dewata dan ke kapal-kapal pesiar.

Modal amblas

Sukses menjadi pemasok, Amir melirik peluang berkebun pepaya. Pilihan pada tanaman anggota famili Caricaceae itu karena ajakan mitra yang juga petani pepaya. Selama ini Amir mendapat pasokan pepaya dari pasar induk. “Jika mengebunkan sendiri keuntungan yang diperoleh pasti lebih tinggi,” katanya. Sebelum terjun di lapangan, pria yang kini tinggal di Kebonjeruk, Jakarta Barat, itu membaca berbagai literatur tentang budidaya pepaya. Ia juga menggali ilmu dari para periset di Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB. Amir memilih lokasi kebun di Banyuwangi.

Meski berbekal cukup ilmu, saat berkebun Amir tak berkutik. Pada musim tanam pertama ia gagal karena produksi pepaya bangkoknya rendah. Kondisi lahan berpasir tidak cocok untuk budidaya pepaya karena daya ikat airnya kurang. Kebun di Banyuwangi yang terletak di dataran tinggi juga kurang terkena paparan cahaya matahari.

Toh, modal amblas puluhan juta tidak mengendurkan niat Amir. “Justru dari kegagalan itu saya bisa mengambil pelajaran tentang penyebabnya,” tuturnya. Pada periode berikutnya pria jebolan SMA Labschool Jakarta itu sukses menuai hasil. Hasil panen ia jual ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. Dengan strategi menawarkan harga jual lebih murah Rp200-Rp500 per kg, ia mendapat jejaring ke pengepul pepaya di pasar induk sayuran dan buah terbesar di Indonesia itu.

Saat itu di Kramatjati, alumnus Universitas Krisnadwipayana itu dikenal sebagai pemasok pepaya berkualitas dengan harga terjangkau. Amir juga mulai menanam pepaya IPB 9 yang di pasaran dikenal dengan sebutan kalifornia. Pepaya berbobot kurang dari 1 kg itu bercitarasa manis dan habis sekali santap untuk keluarga kecil sehingga diminati konsumen.

Untung berlipat

Kalifornia ia tanam di lahan pekebun mitra. Pepaya bangkok masih ditanam untuk pasokan hotel. Pepaya bangkok banyak diminati hotel karena ukurannya lebih besar sehingga mudah untuk dipotong.

Hitung-hitungan Amir, mengebunkan pepaya memang menguntungkan. Biaya produksi pepaya hanya Rp1.900 per tanaman per bulan. Umur ekonomis pepaya 3 tahun. Produksi pada tahun pertama 35 kg per tanaman; tahun kedua 50 kg, dan tahun ketiga 15 kg. Omzet yang diperoleh mulai bulan ke 8-12 mencapai Rp100-juta dari sehektar lahan. Setelah dikurangi biaya prapanen sekitar Rp51-juta per ha dan pascapanen Rp15-juta, Amir masih bisa mengantongi keuntungan bersih Rp34-juta per ha.

Amir biasanya menyambangi kebun di akhir minggu. Maka lima hari dalam seminggu Amir adalah pegawai, tapi di akhir pekan ia jadi juragan pepaya. Itu semua demi bekal di masa pensiun nanti. (Desi Sayyidati Rahimah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img