Filter drum berputar membuat air kolam bening selama 15 tahun.
Dua puluh koi betina berukuran 65 cm itu tampak anggun berenang di kolam beratap langit berukuran 10 m x 4 m. Saat Cyprinus carpio itu menyelam lebih dalam mendekati dasar kolam berkedalaman 1,8 m, mata Daniel Susanto masih bisa mengikuti. Itu bisa terjadi karena air kolam sangat bening sehingga Daniel pun bisa berkaca di sana.
Air bening di kolam yang dibangun pada 2009 itu karena Daniel menggunakan filter drum berputar (rotary drum filter, RDF). Saat kondisi air kotor, filter bekerja dengan memutar drum berdiameter 40-65 cm. Daniel mengandalkan 8 chamber atau ruang filter berukuran masing-masing 1 m x 0,6 m x 1,8 m untuk menjaga kualitas air.
Ruang ke-1 tempat penampungan air sementara yang terpasang 2 buah lampu ultraviolet berdaya 55 watt. Lampu berperan membunuh bakteri patogen yang membahayakan ikan. ”Air yang keluar masih belum benar-benar bening karena masih ada serpihan-serpihan sisa pakan dan kotoran,” kata pria berumur 33 tahun itu yang sesekali turun langsung membersihkan filter.
Biaya kolam murah
Prinsip kerja sistem filter di kolam Daniel sederhana. Air kolam yang tersedot melalui sistem vortex di dasar kolam akan masuk ke dua pipa RDF berdiameter 15 cm setelah melewati tempat penampungan sementara. Air itu pertama-tama mengalir ke ruang pengumpulan berbentuk tabung yang dilapisi microscreen berukuran 150 mikron. Di sana tabung berputar-sehingga disebut rotary-itu menyerap setiap sisa pakan dan kotoran. Saking rapatnya microscreen, kotoran seukuran debu pun tak bakal lolos.
Setelah melewati RDF, barulah air bersih masuk ke sistem filter biologi yang dilengkapi gelembung udara dari aerator berdaya 150 watt (lihat ilustrasi). Daniel tidak menggunakan filter mate yang umumnya digunakan sebagai filter biologi. Ia lebih suka menggunakan matala. “Klaim produsen menyebutkan bahan matala lebih tahan lama ketimbang filter sejenis,” kata Daniel.
Matala memiliki keunggulan bertingkat sesuai warnanya. Warna hitam yang paling renggang, abu-abu memiliki kerapatan lebih tinggi. Di antara kedua warna itu terdapat hijau dan biru. Daniel menggunakan warna hijau, biru, dan abu-abu sebagai filter biologi. “Itu agar proses filterisasi berlangsung lebih baik,” kata pria yang berkediaman di Jakarta Barat itu. Filter biologi mengurangi kadar amonia, nitrit, dan mikroorganisme patogen.
“Sistem RDF mampu membersihkan dirinya sendiri,” kata Daniel. Apa sebab? Itu karena RDF dilengkapi sederet pipa penyemprot air yang otomatis akan membersihkan microscreen ketika berubah warna menjadi kecokelatan karena penumpukan sisa pakan dan kotoran. “Kotoran dari microscreen otomatis keluar melalui lubang pembuangan lain,” tambah Daniel.
Menurut Daniel perangkat RDF seharga Rp16-juta-Rp32-juta itu bisa terus-menerus bekerja tanpa perlu penggantian suku cadang selama kapasitas kolam memadai. “Jadi selama 15 tahun air kolamnya akan tetap bening,” ujarnya. Kehadiran RDF itu juga mengurangi beban kerja chamber. Oleh karena itu Daniel kini memakai 8 chamber, sebelumnya ia menggunakan 10 chamber.
Sven Keller pencipta RDF yang dijumpai Trubus di Jakarta menuturkan dengan aplikasi RDF hobiis tak perlu membangun banyak chamber. “Cukup memakai 3 chamber untuk sistem filter kolam koi. Chamber pertama RDF, kedua filter biologi, dan ketiga pompa,” tuturnya. Hal itu jelas akan menurunkan biaya pembuatan kolam.
Kapasitas kolam
Kehadiran filter drum berputar memang membuat hobiis memiliki banyak pilihan. Sebab, sistem filterisasi mekanik itu bisa diaplikasi di kolam besar maupun kecil. Takeo Kuroki dalam Manual to Nishikigoi menyebutkan penggunaan filter yang baik bisa menyempurnakan warna koi. Meski demikian menurut Winarso Tanuwidjaya, praktikus koi di Kemanggisan, Jakarta Barat, kualitas air tidak semata-mata bergantung kepada sistem filterisasi.
“Kondisi lingkungan seperti letak kolam dalam ruangan atau luar ruangan juga berpengaruh,” kata Winarso. Kolam beratap langit, misalnya, membuat alga tumbuh subur. Sejatinya kehadiran alga tidak merugikan. Ganggang bersel satu yang menempel itu ibarat karpet yang menjaga koi agar tak terluka saat bergesekan dengan dinding. Selain itu bisa menjadi pakan alami koi, kolam penuh alga juga bisa tetap bening. “Kehadiran alga pada kolam luar ruangan bukti kondisi air bagus. Yang lebih penting lagi alga bagian dari ekosistem kolam,” tutur Winarso.
Sistem RDF mampu bekerja pada kondisi kolam dalam ruangan maupun luar ruangan. Penggunaan filter di berbagai kondisi kolam, “Tidak masalah karena yang diperlakukan adalah air,” ujar Sven Keller. Yang perlu diwaspadai hanya saat listrik padam. Harap mafhum RDF berada di barisan terdepan sistem filterisasi sehingga bisa membuat aliran air menuju sistem filter biologi terhenti. Sebab itu untuk mengantisipasi setrum PLN padam Daniel menyiapkan genset berkapasitas daya 33 KVA.
Sistem RDF sejauh ini sudah membuat Daniel nyaman. “Aktivitas membersihkan filter sudah berkurang. Sekarang lebih sering duduk lama di tepi kolam sambil menikmati koi-koi itu berenang di kolam yang jernih ini,” katanya. Itulah yang akan dilakukan Daniel sampai 15 tahun ke depan. (Riefza Vebriansyah)



Keterangan Foto :
- Sistem filter yang baik berpengaruh pada kualitas koi
- Perpaduan RDF dan filter biologi menjaga kualitas air
- Daniel Sutanto, percaya penuh pada kemampuan RDF
- Sven Keller mengadopsi teknologi Jerman untuk membuat RDF
