Semula 700 kg, kini 1,4 ton di karamba 15 m x 15 m. Budidaya tunggal meningkatkan produksi hingga 5 ton.
Peternak di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Saepudin, senang bukan kepalang ketika panen 1,4 ton nila. Itu hasil pembesaran 200 kg bibit nila berbobot 10 gram per ekor. Lama budidaya 4 bulan di karamba jaring apung bertingkat. Ukuran karamba 15 m x 15 m. Padahal, bertahun-tahun membudidayakan Oreochromis niloticus, ia hanya bisa panen maksimal 700 kg. Produksi melesat dua kali lipat karena Saepudin membudidayakan jenis baru, yakni nila unggul #1 (baca: number one).
“Nila baru itu lebih memuaskan hasilnya,’’ tutur Saepudin yang memperoleh bibit dari UPR (Unit Pembenihan Rakyat) nila di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Pemulia nila baru itu, Dr Ir Estu Nugroho, periset di Balai Penelitian Ikan Air Tawar. Estu menyilang-nyilangkan nila pada 2008 hingga melahirkan nila unggul #1. Doktor Genetika Perikanan alumnus Universitas Kochi, Jepang, itu menjelaskan nila unggul #1 hasil seleksi enam varietas nila.
Salah satunya adalah nila BEST yang secara genetis mampu menelurkan bibit jantan lebih banyak dibanding betina. Harap maklum, “Peternak lebih suka bibit jantan lantaran pertumbuhannya relatif cepat,” kata peneliti nila dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar di Bogor, Jawa Barat, Otong Zaenal Arifin. Selain BEST, indukan lain adalah nirwana dan selfarm. Estu terus menyeleksi hasil silangan itu sejak 2008 sampai sekarang.
Dua pilihan
Estu Nugroho mengatakan, pertumbuhan nila unggul #1 bila dipelihara tunggal, mencapai 3-4 gram per hari. Namun, jika pembesaran model “tumpangsari” pertumbuhannya 1 gram per hari. Artinya peternak bakal panen nila konsumsi berbobot 300 g per ekor 3-3,5 bulan pascatebar. Saepudin sebetulnya berpeluang meningkatkan volume panen hingga 5 ton di karamba yang sama. Itu jika ia membesarkan secara tunggal.
Menurut Estu peternak dapat menuai 5,4 ton dari sekitar 200 kg bibit. “Syaratnya lingkungan budidaya tunggal itu terkontrol,” kata Estu. Saepudin membesarkan nila unggul #1 model “tumpangsari” dengan ikan mas. Ia menyebut model itu sistem kolor. Di karamba atas, terdiri atas 4 bagian masing-masing berukuran 7 m x 7 m. Semua karamba atas itu untuk budidaya ikan mas. Total jenderal Saepudin menebar 400 kg benih ikan mas.
Nah, di bawah karamba ikan mas, ia memasang karamba lagi berukuran 15 m x 15 m untuk pembesaran nila unggul. Di karamba bawah ia menebar 200 kg nila. Saepudin menuturkan sistem karamba bertingkat menekan biaya pakan. Sebab, ia hanya memberi pakan untuk ikan mas sebanyak 6 ton selama masa budidaya dalam empat bulan. Dari jumlah itu sekitar 20% jatuh ke karamba nila. Nila-nila di bagian bawah hanya mendapat jatah pakan 20% itu atau 1.200 kg. Saepudin tak pernah memberikan pakan tambahan untuk nila.
Ahli budidaya ikan dari Universitas Gadjah Mada, Ir Ignatius Hardaningsih MSi, menjelaskan dengan sistem kolor itu nilai rasio konversi pakan (FCR, feed convertion ratio) nila unggul #1 tetap dapat dihitung. Caranya membagi total pakan yang diberikan dengan jumlah daging hasil panen. Jumlah daging berupa hasil panen ikan mas dan nila dikurangi total bibit tebar. Dari sana diperoleh nilai FCR nila unggul #1 pada sistem kolor adalah 1,5. “Nilai itu masih tergolong baik karena memenuhi angka standar FCR budidaya ikan konsumsi,” tuturnya.
“Dengan sistem kolor, nila bisa tetap tumbuh maksimal asalkan selain sisa pakan ikan mas cukup dan pakan alami di waduk melimpah. Peternak cukup mengeluarkan ongkos beli pakan ikan mas dan bibit kedua ikan itu saja,” tutur Pepen Effendy, peternak ikan konsumsi di Cianjur, Jawa Barat. Di luar ikan mas yang memberinya omzet Rp30-juta, pendapatan Saepudin dari panen nila baru mencapai Rp12-juta.
Unggul
Menurut Otong Zenal Arifin nila Oreochromus niloticus disebut unggul bila memiliki nilai konversi pakan rendah sekitar 1-1,2. Artinya kemampuan nila untuk mengubah pakan menjadi daging itu tinggi. “Dengan nilai FCR 1,2; setiap pemberian 1,2 kg pakan menghasilkan pertambahan bobot 1 kg daging,” kata Otong. Selain itu, laju pertambahan bobot harian 5% dari bobot tubuh sehingga bisa cepat panen.
Sebagai gambaran bila bobot bibit saat penebaran 10 gram per ekor, bobot konsumsi sebesar 300 gram dicapai selama tiga bulan pemeliharaan. Itu bila asumsi pertambahan bobot 5%. Nila unggul #1 bisa menjadi alternatif karena memiliki kelebihan lain seperti adaptif dan tahan serangan bakteri Streptococcus sp. penyebab utama kematian nila.
Penyebaran nila unggul #1 masih terbatas karena belum mengantongi sertifikasi. “Untuk dilepas menjadi varietas unggul, hasil silangan antara lain sudah lolos uji multilokasi dan uji dari tim pelepas varietas yang diwakili oleh badan penelitian dan pengembangan serta perguruan tinggi,” tutur Priadi Setyawan SPi MSi, koordinator peneliti nila di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya, Balitbang Kelautan dan Perikanan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Meski belum dirilis menjadi varietas, menurut Estu Nugroho permintaan benih nila unggul di Waduk Jatiluhur mencapai 20-juta ekor setiap bulan. Sayangnya ketersediaan nila-nila unggul masih terbatas. Nila unggul #1 digadang-gadang sebagai jawaban atas tren nila yang terus meningkat.
Data Kelautan dan Perikanan pada 2009 yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan memperlihatkan total produksi nila pada pada 2009 mencapai 378.300 ton. Itu naik 29,98% daripada 2008 sebesar 291.037 ton. Peningkatan produksi itu juga didorong hadirnya nila-nila unggul cepat produksi seperti nirwana, gesit, larasati, dan jatimbulan. Sesaat lagi nila unggul unggul #1 turut meramaikan pasar. (Andari Titisari)



Keterangan Foto :
- Panen nila unggul #1 di Waduk Jatiluhur, pada Juli 2012 sebanyak 1,4 ton dari keramba 15 x 15 meter
- Dr Ir Estu Nugroho (tengah) bersama peternak nila di keramba jaring apung, Waduk Jatiluhur
- Nila #1, calon nila unggul baru
- Budidaya nila di KJA dengan sistem kolor bersama ikan mas di Waduk Jatiluhur
- Nila BEST, salah satu induk nila unggul #1
