Friday, December 2, 2022

Bensin Singkong dari Halaman Rumah

Rekomendasi

 

Wien Iskandar menjual bioetanol kepada pemilik angkot dalam 2 bentuk. Dari produksi 500 liter bioetanol per hari, 400 liter dijual langsung dengan harga Rp8.000-Rp10.000 per liter. Sopir-sopir angkot membeli beberapa liter dan mencampurkannya sendiri dengan premium di tangki mobil. Sedangkan 100 liter lainnya, ia oplos dengan premium dan dijajakan Rp5.000 per liter. Porsi bioetanol hanya 10% alias E10. Campuran itu juga disebut gasohol kependekan dari gasolin alkohol.

Saat ini tercatat 600 angkot di Sukabumi yang rutin ‘mengkonsumsi’ bioetanol bikinan Wien. ‘Tadinya banyak pemilik angkot curiga, saya mencampur dengan minyak tanah dan ukurannya tidak pas,’ kata pria 49 tahun itu mengenang. Untuk meyakinkan konsumen, pemilik PT Panca Jaya Raharja itu memberikan bioetanol gratis selama 2 hari. Karena merasa lebih enak, mereka akhirnya menjadi pelanggan bioetanol produksi Wien Iskandar.

‘Tarikan mesin jadi lebih ringan. Saya akan terus memakai bioetanol,’ kata H. Sapari, pemilik angkot. Dua bulan terakhir sejak November 2007, ia melanggani bioetanol untuk bahan bakar 3 angkotnya jurusan Cidahu-Cicurug, keduanya di Kabupaten Sukabumi. Setiap angkot menghabiskan 25 liter bahan bakar E10 per hari. Bioetanol yang digunakan oleh Sapari dan pemilik angkot lain itu berbahan baku singkong dan molase alias limbah tetes tebu.

Tak harus berkebun

Menurut Wien, untuk menghasilkan 1 liter bioetanol berkadar 99,6% diperlukan 6,5 kg singkong. Dengan biaya produksi Rp3.000, laba bersih Pemilik PT Panca Jaya Raharja itu minimal Rp2-juta per hari atau Rp60-juta sebulan. Yang juga memasarkan bioetanol sebagai bahan bakar adalah Johan Susilo. Produsen di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang mengolah nira itu rutin memasok 500 liter bioetanol 99,5% per bulan kepada 5 pelanggannya.

Alumnus Teknik Elektro Universitas Kristen Petra Surabaya itu menjualnya dengan harga Rp7.500 per liter sehingga pendapatannya mencapai Rp3,7- juta per bulan.

Bioetanol adalah etanol alias alkohol yang diproses dari bagian tertentu tumbuhan. Dr Arif Yudiarto, periset bioetanol di Balai Besar Teknologi Pati, mengatakan sumber bioetanol adalah tanaman mengandung pati seperti umbi singkong, gula (batang tebu), dan serat selulosa (rumput dan jerami).

Baik Wien Iskandar maupun Johan Susilo merupakan produsen skala rumahan yang menghasilkan kurang dari 10.000 liter per hari. Menurut Arif Yudiarto produksi bioetanol skala rumahan layak dikembangkan di Indonesia. Sebab, Indonesia terdiri atas pulau-pulau kecil yang tak terjangkau distribusi Pertamina. Dengan produksi bioetanol skala kecil, kebutuhan akan sumber energi dapat tercukupi.

‘Pengolahan limbah pada skala kecil juga lebih mudah dan lebih murah,’ ujar pria kelahiran Rembang 19 Agustus 1959 itu. Setahun terakhir, produsen skala rumahan seperti mereka marak di berbagai kota. Lahan yang tersita untuk menempatkan mesin penyuling dan fermentasi tak lebih dari 20 m2.

Untuk menjadi produsen bioetanol, tak harus mempunyai kebun sendiri. Banyak produsen yang tak mempunyai kebun, tetapi kontinuitas pasokan bahan baku tetap terjaga. Contoh Sabaryono yang 2 bulan terakhir rutin menjual 1.000 liter seharga Rp11.000 per liter. Produsen di Bekonang, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, itu memanfaatkan ‘limbah’ pabrik gula yang dibeli Rp650 per kg.

Ia memfermentasi bahan berkadar gula hingga 70% itu dan kemudian menyulingnya. Dari 3 liter molase ia memperoleh seliter bioetanol. Orang-orang seperti Sabaryono, produsen tanpa kebun, jumlahnya ratusan. Menurut Arif Yudiarto, pola seperti Sabaryono sangat mungkin untuk diterapkan produsen berbahan baku lain seperti singkong, gaplek, dan sorgum.

Jika enggan membudidayakan, idealnya harga beli bahan baku Rp350 untuk singkong, Rp700 (gaplek), dan Rp1.000 (sorgum) per kg. Itu bila harga jual bioetanol minimal Rp5.500 per liter. Kalau harga jual bioetanol lebih tinggi-saat ini di pasaran harganya Rp7.500-Rp11.000 per liter-kenaikan harga bahan baku pada level tertentu dapat ditolerir.

Pada tingkat harga itu, pekebun pun memetik laba. Apalagi sekarang terdapat varietas unggul dengan produksi menjulang. Singkong, umpamanya, berproduksi hingga 130 ton per ha. Padahal, sebelumnya produktivitas rata-rata cuma belasan ton. Tersedianya bahan baku, teknologi sederhana, dan pasar yang terbentang merangsang produsen menggeluti bisnis bioetanol skala rumahan.

Menurut Dr Unggul Priyanto, peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, bila ingin mengembangkan bahan bakar nabati, sebaiknya bioetanol yang didorong lebih dahulu. ‘Kalau mau realistis yang kompetitif terhadap premium sekarang ini bioetanol,’ ujar Unggul. Sebab, bahan baku bioetanol beragam dan biaya produksinya tergolong murah.

Campur bioetanol

Program pemerintah untuk mengalihkan penggunaan premium beroktan 88 ke oktan 90 kian membuka peluang pasar bioetanol. ‘Angka oktan adalah sifat ketahanan bahan bakar untuk tidak terbakar sendiri karena tekanan atau suhu,’ kata Drs Mardono MM dari Lembaga Minyak dan Gas. Donny Winarno dari PT Molindo Raya, produsen bioetanol, mengatakan peralihan itu lantaran besarnya subsidi pemerintah untuk premium. Jika kebutuhan premium nasional 17-miliar liter, total subsidi Rp34- triliun per tahun.

Untuk meningkatkan nilai oktan dapat menambahkan methil tersier buthil ether (MTBE) beroktan 100 atau tetra ethil lead (TEL). Namun, penggunaan keduanya berdampak buruk sehingga dilarang pemerintah. TEL, misalnya, bersifat karsinogenik alias memicu kanker. Mardono mengatakan semakin tinggi nilai oktan, kian rendah emisi. Hasil uji emisi gas buang premium 88 mencapai 1,22% karbondioksida dan 175 ppm hidrokarbon. Bandingkan dengan emisi gas buang biopertamax hanya 0,44% karbondioksida dan 143 ppm hidrokarbon.

Untuk meningkatkan nilai oktan, salah satu cara termudah adalah memberi campuran bioetanol beroktan 117. Dengan menambahkan 10% bioetanol, angka oktan E10 mencapai 91 hampir setara pertamax. ‘Pemerintah tak perlu membangun kilang khusus untuk menghasilkan bahan bakar beroktan 90,’ ujar Arif.

Doktor Bioengineering alumnus Tokyo University of Agriculture and Technology itu mengatakan dengan E10 pemilik mobil dapat menghemat Rp1.000 per liter. Sebuah mobil berkapasitas 45 liter pertamax memerlukan Rp326.250. Bandingkan bila pemilik mengisi tangki mobil itu dengan bahan bakar E10, hanya memerlukan Rp281.250. Artinya, terdapat selisih Rp45.000. Dengan begitu, ‘Orang pasti akan cari bioetanol sehingga peluang pasar semakin besar,’ tutur Arif.

Soal melonjaknya nilai oktan? Itu justru berdampak positif meski digunakan oleh kendaraan bermesin yang mestinya didesain untuk memanfaatkan bahan bakar beroktan 88. Itulah sebabnya Chris Andri Tjahyono merancang alat konversi pengganti karburator. ‘Alat itu nantinya dapat digunakan oleh motor merek apa pun sehingga bisa diisi bioetanol 100%,’ kata alumnus Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu.

Dengan alat konversi itu, pemilik tetap dapat mengisi tangki dengan premium 100%. Motor yang dilengkapi alat konversi itu dapat diisi bioetanol bisa, berbahan bakar premium pun tak masalah. Chris yang 7 tahun terakhir bekerja di perusahaan otomotif menargetkan alat konversi itu siap dipasarkan pada Februari 2008. Jika alat itu tersedia, pemilik motor tentu dapat menghemat belanja premium.

Soekaeni, produsen bioetanol di Sukabumi, Jawa Barat, pada 16 Desember 2007 membuktikannya. Ia mengisi 1 liter masing-masing E10 di sebuah motor dan premium di motor yang lain. Motor E10 mampu menempuh jarak 47 km; motor premium, 40 km.

Pasar industri

Dr Unggul Priyanto mengatakan kelebihan bioetanol dapat digunakan untuk bahan bakar sekaligus industri. ‘Potensi produsen bioetanol untuk rugi lebih kecil, karena serapan pasarnya luas,’ ujar doktor alumnus Kyushu University, Jepang. Edmond Ch Mononutu, produsen di Maumbi, Kabupaten Minahasa Utara, memasok 240-300 liter bioetanol ke apotek dan puskesmas per bulan. ‘Itu hanya untuk batu loncatan,’ ujarnya. Pasokan itu akan ditinggalkan akhir Januari 2008.

Maklum, penghujung Januari 2008 ia berkonsentrasi pada permintaan 9 perusahaan kosmetik dan farmasi di Makassar, Kendari, serta Palu yang minta total pasokan rutin 100 ton bioetanol per bulan. Edmond sudah meneken nota kesepahaman dengan ke-9 perusahaan itu. Setelah berkali-kali berselancar di jagat maya, sulung 8 bersaudara itu yakin prospek bisnis bioetanol sangat bagus.

‘Sekarang sudah terjadi globalisasi. Bioetanol digunakan di dunia, pasti akan terjadi juga di sini. Kita hanya tunggu waktu,’ kata Edmond. Ia merintis pasar dengan mendatangi, melobi langsung, dan akhirnya mengirim sampel bioetanol berkadar 90% sejak Maret 2007.

Selain itu Edmond juga meneken kontrak dengan pemerintah daerah Kabupaten Minahasa Selatan. Jika tak ada aral, Maret 2008 semua mobil operasional kabupaten yang beribukota di Amurang itu bakal menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar. Untuk melayani tingginya permintaan, pria 42 tahun itu mendirikan koperasi di Pinilih, Minahasa Utara, dan Kotamenara, Minahasa Selatan. Sejak ratusan tahun silam, warga kedua desa itu memproduksi bioetanol 30% yang sohor sebagai cap tikus untuk minuman.

Edmond membeli semua produksi bioetanol mereka dan memurnikan hingga mencapai kadar etanol 90%. Gebrakan itu disambut baik oleh warga setempat dan bupati Minahasa Selatan, Ramoy Markus Luntungan. Harap mafhum, produsen skala rumahan di sana bakal memperoleh harga lebih tinggi dan stabil. Saat ini harga disepakati Rp3.000 per liter berkadar 70%. Setiap kenaikan 1 strip atau setara 5%, harga beli meningkat Rp76. Bandingkan jika mereka menjual cap tikus kepada tengkulak, harga berkisar Rp1.000-Rp1.500 per liter. Dengan memasarkan bioetanol untuk industri dan bahan bakar, diharapkan kebiasaan minum cap tikus berkurang.

Nomor cukai

Meski pasar terbuka lebar, bukan berarti tanpa kendala. Menurut Himawan Adiyoso, produsen skala rumahan di Cilegon, Provinsi Banten, banyak peraturan menghambat pemasaran. Himawan menunjuk peraturan Bea Cukai berupa kewajiban produsen untuk membuat pagar tinggi dan mempunyai tangki penyimpanan 2.000 liter. Untuk pengawasan, Bea Cukai menempatkan pegawainya di lokasi produksi.

‘Itu tak mungkin untuk industri skala kecil. Undang-undang tentang cukai hanya cocok diterapkan untuk industri besar,’ tutur alumnus Teknik Kimia Universitas Diponegoro itu. Boleh jadi lantaran belum memperoleh nomor cukai, seorang produsen-sebut saja Antoni-hanya memasarkan bioetanol ke pabrikan tertentu yang tak mensyaratkan nomor cukai. Ia memasarkan 2.000 liter per hari ke pabrik parfum dan kosmetik. Harga jual Rp7.000-Rp10.000 per liter berkadar 90-95%.

Padahal, jika mengantongi nomor cukai, harga jual membubung hingga Rp17.000-Rp20.000 per liter. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan No 89/2006 menetapkan besarnya cukai etanol Rp10.000 per liter. Cukai itu hanya ditetapkan untuk bioetanol industri dengan produksi lebih dari 1.000 liter per bulan. Sedangkan bioetanol untuk bahan bakar, hingga saat ini bebas cukai.

Sulitkah mengurus nomor cukai? Nomor itu dapat diurus di Kantor Pelayanan Bea Cukai Daerah. Calon produsen hanya mengisi formulir, tanpa dikenakan biaya sepeser pun. Antoni sudah mengisi formulir itu 2 tahun lalu, tapi hingga kini nomor belum keluar. Petugas Bea Cukai juga sudah menginspeksi lokasi produksi. Saat itu ia baru berproduksi 500 liter per hari. Menurut Antoni petugas itu bingung untuk mengeluarkan nomor cukai lantaran kecilnya skala usaha Antoni. Selama ini nomor cukai memang hanya diberikan untuk produsen besar.

Akibat belum mempunyai nomor cukai, Antoni tak dapat memasok 100 ton per hari permintaan sebuah pabrik di Jakarta Utara. ‘Banyak permintaan belum terlayani,’ katanya. Beragam industri seperti rokok, makanan, farmasi, kosmetik, dan parfum membutuhkan bioetanol. Menurut Novi Wahyuning Wuri SSi Apt, Riset dan Pengembangan PT Romos Inti Cosmetics Industries, etanol digunakan sebagai pelarut bibit wangi pada parfum dan pelarut triklosan pada cairan kumur. Perusahaan itu menghabiskan 1.500 liter bioetanol berkadar 96% per bulan.

Beragam produk minuman juga memanfaatkan bioetanol sebagai bahan campuran, walau kadarnya beragam. PT Dima yang memproduksi minuman bermerek Guinness, umpamanya, membutuhkan 10-juta liter minuman per bulan. Perusahaan itu memproduksi 20-miliar liter per bulan untuk memasok pasar domestik dan mancanegara. Berapa kebutuhan bioetanol untuk industri di pasar domestik? Hingga saat ini belum ada data memadai.

Begitu besarnya peluang bisnis bioetanol sehingga PG Kebon Agung, Malang, Jawa Timur, berencana memproduksinya. Ir Didid Taurisianto, direktur perusahaan itu mengatakan selama ini perusahaan gula yang berdiri pada 1905 itu menjual 60.000 molase per tahun. Padahal, jika diolah menjadi bioetanol Didid menuai minimal 20.000 liter. Tak hanya produsen besar, produsen skala rumahan yang kini menjamur mampu memetik laba dari perniagaan bioetanol. Mereka membangun kilang-kilang hijau di halaman rumah. (Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina, Imam Wiguna, Lani Marliani, & Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img