Sunday, August 14, 2022

Berbuah Lebat Tak Kenal Tempat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Mangga berbuah lebat jika ditanam di dataran rendah. Kecuali manalagi yang masih bisa berbuah di ketinggian > 400 m dpl. Makanya, lebatnya mangga nam dok mai dalam pot di kebun H Endhy A Aziz Hardjowijoto di lereng Gunung Salak itu membuat takjub.

Asal medianya cocok, mangga bisa tumbuh dan berbuah di berbagai ketinggian tempat,’ ungkap Aziz. Selama ini sentra penanaman mangga terbatas di daerahdaerah panas dekat pantai seperti Cirebon, Indramayu, Surabaya, maupun Pasuruan.

Media tepat

Berbuah di berbagai ketinggian tempat tak hanya mangga. Buah-buahan lain juga bisa berbuah asal media dan perlakuan tepat. Aziz membuktikannya di lahan seluas 400 m2. Tabulampot jambu air, jambu bol, jeruk, jambu biji, rambutan, srikaya dan nangka berbuah sama lebat.

Saat Trubus berkunjung pada Februari 2008, putsa atau apel india berdiameter batang 8 cm tengah memamerkan buah. Demikian sawo, dan srikaya disyarati buah. Tak ketinggalan jambu bol, buah-buah ranum bergelayutan meskipun berukuran agak kecil.

Semua itu karena Aziz membedakan media untuk setiap jenis. Paling tidak komposisinya. ‘Sebelum menentukan komposisi media, perlu tahu dulu asal-usul tanaman yang akan ditanam,’ papar ayah 3 anak itu. Ia mencontohkan, mangga, buah naga, jambu air, dan belimbing berasal dari daerah beriklim kering, maka media yang dipilih berpasir dan kering.

Aziz pun membuat media yang didominasi oleh pasir sebanyak 3 bagian, sedangkan pupuk kandang atau bokashi dan tanah masing-masing hanya 1 bagian. Untuk menjaga porositasnya, Aziz mengalasi bagian bawah drum yang telah dilubangi di lima titik dengan pecahan batu bata dan ijuk.

Rambutan, manggis, gandaria, bisbul yang berasal dari daerah lembap dibuatkan media dengan komposisi 2 bagian tanah, 1 bagian pasir, dan 2 bagian pupuk kandang. Media normal diaplikasikan untuk jeruk, nangka, srikaya, sawo, ceremai, dan tanaman yang adaptif di daerah yang tidak terlalu kering maupun tidak terlalu lembap. Komposisi tanah, pasir dan pupuknya dibuat sebanding.

Pupuk rutin

Supaya tabulampot berbuah lebat harus diimbangi pemupukan yang tepat dan rutin. Magister Pertambangan Kul Leuven, Belgia itu menggunakan pupuk bokashi buatan sendiri. Selain lebih alami juga untuk memanfaatkan limbah kotoran dari 100 kambing perah miliknya. Dua bagian kotoran kambing yang telah disimpan 1-2 minggu dicampur dengan 1 bagian arang sekam dan 10% dedak halus. Bahan fermentasi dibuat dari campuran 10 l air, 2 sendok makan EM4, dan 2 sendok makan tetes tebu.

Larutan itu lalu disiramkan pada campuran media sampai terlihat basah dan bisa dikepal. Media kemudian dimasukkan ke ruang gelap dan dibuat gundukan setinggi 20-25 cm yang ditutup karung goni. Lima jam kemudian, suhu media itu meningkat dan dijaga konstan pada 40-50oC. ‘Jika suhu terlalu tinggi, gundukan dipendekkan sampai 15 cm. Sebaliknya jika terlalu rendah, gundukan ditinggikan sampai 30 cm,’ kata Ibad Sugandi, karyawan Agro Trisari.

Tiga hari kemudian, media diaduk dan kembali ditutup karung goni selama 2 hari. Setelah itu bokashi bisa diaplikasikan sebagai pupuk. Untuk tabulampot, Aziz mencampur bokashi dengan media tanam lalu memasukkannya ke dalam drum. Selanjutnya, bokashi diencerkan dan disiramkan pada tanaman sebulan sekali.

Stres air

Jika media dan pupuk cocok waktu berbuah pun bisa diatur. ‘Dengan tabulampot, memanipulasi media dan penyiraman lebih mudah sehingga bisa mengatur tanaman agar rajin berbuah. Makanya tak heran mangga pun bisa dijumpai berbuah lebat di pegunungan,’ kata Ir. Reza Tirtawinata, ahli buah-buahan di Bogor. Reza juga mencontohkan sukses para pekebun di Cipanas, Bogor, melebatkan mangga dalam pot meskipun harus beradaptasi dengan iklim sejuk di ketinggian 900 dpl.

Untuk tanaman iklim kering, penyiraman hanya dilakukan seminggu sekali. Saat musim hujan disungkup plastik. Pengeringan seperti itu bisa merangsang munculnya bunga. Caranya, tanaman disungkup tanpa disiram selama 5-7 hari atau sampai pucuk daun mulai layu. Setelah itu, lakukan penyiraman, lalu disungkup kembali tanpa disiram selama 7 hari. Perlakuan berulang terus sampai muncul tanda-tanda berbunga. ‘Biasanya setelah 7 kali perlakuan, bunga akan muncul,’ papar Reza yang juga menjadi instruktur di kebun Azis.

Setelah muncul calon bunga, penyiraman mulai dilakukan secara intensif dua hari sekali. Perlakuan pengeringan itu efektif untuk tanaman iklim kering dan basah. Untuk perangsangan buah pada tanaman adaptif iklim normal, bisa diterapkan pengikatan batang dengan kawat sampai ke kambium. Ikatan baru dilepas setelah muncul tanda-tanda berbunga.

Itulah rupanya yang membuat mantan direktur Administrasi dan Sumberdaya Manusia PLN itu jatuh cinta pada tabulampot. (Nesia Artdiyasa)

Previous articleEksplorasi Bangka
Next articleBahan Bakar dari Limbah
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img