Wednesday, January 28, 2026

Berhenti Bankir dan Memilih Jadi Sultan Aren, Bisa Ekspor ke Turki

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Ilham Saputra, S.E., rutin memasok gula aren berbentuk gula semut ke Turki sejak 2022. Eksportir di Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara, itu rutin memasok 8—10 ton gula semut untuk pasar negeri dua benua itu setiap 4 bulan.

Harga jual gula semut US$14 per kg setara Rp210.000 per kg (kurs US$1=Rp15.000) sehingga omzet perniagaan gula aren milik Ilham mencapai miliaran rupiah. “Sejatinya pasar Turki saja meminta hingga 30 ton per sekali pengiriman,” ujar Ilham.

Artinya ia belum mampu memenuhi permintaan Turki. Ada ceruk pasar besar untuk memasok pasar di negara beribukota Ankara itu. Pasar ekspor menghendaki kadar air gula semut maksimal 2% dan organik.

Sejatinya kesuksesan Ilham berniaga gula aren tidak terjadi secara instan. Ia merintis bisnis aren dari kebun sendiri pada 2012. Kala itu Ilham masih bekerja sebagai pegawai bank. Ia tertarik menanam aren genjah atas informasi dari kolega.

“Semula hanya sebagai pembatas untuk kebun durian,” kata pria berumur 34 tahun itu.

Disebut genjah karena aren bisa dipanen atau disadap perdana saat umur 5 tahun setelah tanam. Lazimnnya pemanenan aren konvensional baru mulai saat tanaman berumur 10 tahun pascatanam.

Aren genjah itu varietas kutim akronim dari daerah asalnya yakni Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Ilham mendatangkan bibit aren genjah itu langsung dari Pulau Borneo.

Ia menanam 300 aren di lahan seluas 1 hektare (ha). Ternyata aren genjah itu bukan isapan jempol. Tanaman anggota famili Arecaceae itu mulai berbunga pada 2017—2018 meski tingginya baru 2—3 m.

“Tinggi aren konvensional bisa mencapai 12—20 meter,” kata alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara, itu. Sosok aren yang pendek menjadi keuntungan tersendiri karena memanen nira kian mudah.

Ilham pun mulai menuai panen dari aren genjah itu. Satu tanaman menghasilkan 6—8 liter nira setiap hari. Jika mengolah menjadi gula cetak, rendemen sekitar 16,6%. Adapun rendemen mengolah gula cetak aren menjadi gula semut mencapai 80%.

“Dari 300 tanaman produktif saja bisa menghasilkan 30 kg gula cetak per hari,” kata Ilham.

Harga jual gula semut di Kota Medan untuk eceran Rp20.000—Rp25.000 per kg. “Ongkos produksi paling banter 50%,” kata Ilham.

Barulah pada 2019 ia memperlebar bisnis dengan mendirikan PT Sultan Aren Indonesia yang bermitra dengan para pekebun aren di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Ilham populasi aren total bersama mitra sekitar 250.000 tanaman yang ditanam sejak 2019.  Penanaman tersebar di berbagai daerah seperti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kepulauan Bangka Belitung, Riau, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.

Dari kemitraan itulah pasokan bisa memenuhi ceruk pasar lokal dan ekspor. Sejatinya ceruk pasar gula aren itu masih besar dan kapasitas produksi belum memenuhi permintaan. Pasalnya Ilham pun menolak permintaan dari negara- negara lain seperti Prancis, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

Itu karena pasokan bahan baku terbatas. Oleh sebab itu, Ilham juga berfokus pada sektor pembibitan agar pasokan aren kian bertambah. Ia pun berinovasi membuat jamu atau herba berbahan akar aren.

“Secara empiris akar aren dipercaya sebagai afrodisiak,” kata Ilham. Kini ia tengah meriset produk akar aren itu dalam kemasan kekinian sehingga mudah dikonsumsi.

“Terpenting khasiatnya terjaga, kemasan menarik, dan cita rasa nyaman di lidah,” kata pria kelahiran Kota Medan itu. Harapannya agar bisnis emas hijau di tanah air kian langgeng dan terus bertumbuh.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img