Thursday, August 18, 2022

Berkah Guano untuk Pisang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Produksi pisang varietas hijau taiwan meningkat
setelah menggunakan pupuk guano. (Dok. I Nengah Sumerta)

Serangan layu fusarium berkurang dan hasil panen meningkat setelah pekebun menggunakan guano.

Trubus — Hampir 45% populasi pisang di kebun I Nengah Sumerta terserang layu fusarium pada tahun ketiga. Produktivitas buah di lahan petani di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, itu anjlok. Peneliti utama bidang hama dan penyakit tanaman (fitopatologi) di Pusat Pengembangan dan Penelitian Hortikultura, Kementerian Pertanian, Prof. Dr. Ir. I. Djatnika, M.S., mengatakan, penyebab layu fusarium yakni cendawan Fusarium oxysporum f. sp cubense.

Gejala serangan antara lain daun tidak sempurna lantas patah dan terkulai meski belum menguning. Selain itu batang tanaman terserang juga rusak, robek, dan menghitam di bagian dalamnya. Layu fusarium pun menyebabkan buah pisang kerdil lantaran fisiologis tanaman terganggu. Layu fusarium salah satu momok petani pisang di tanah air. “Pisang asli Bali yang tersisa mungkin kurang dari 15%,” kata Nengah.

Pupuk guano

I Nengah Sumerta menggunakan pupuk guano di kebun pisang sejak medio 2019. (Dok. I Nengah Sumerta)

Djatnika menuturkan, penularan layu fusarium melalui tiga cara yaitu aliran air, tanah, dan bibit yang berkualitas rendah. Pada medio 2019 layu fusarium hanya menjangkiti 5—7% populasi tanaman di salah satu kebun pisang Nengah yang memasuki tahun ketiga. Menurut Nengah itu terjadi setelah pemberian pupuk guano. Sebelumnya ia hanya mengandalkan dolomit dan kompos untuk kebun pisang.

Ia memakai 1,5 ton dolomit per hektare agar lahan sedikit basa. Sementara media tanam dalam lubang tanam berupa campuran tanah, kompos, dan pupuk guano dengan perbandingan 6:3:1. Berselang tiga bulan Nengah membenamkan 1 kg pupuk guano berjarak 30 cm dari batang. Pemupukan guano selanjutnya ketika tanaman menghasilkan jantung atau berumur sekitar 8 bulan.

Nengah memang mengebunkan pisang tanpa pemakaian bahan kimia. “Persentase serangan layu fusarium berkurang signifikan setelah menggunakan pupuk guano,” kata pekebun pisang sejak 2013 itu. Ia memperoleh pupuk itu dari produsen pupuk organik guano asal Singajara, Kabupaten Buleleng, Bali, A.A. Gede Agung Wedhatama P. M.Eng. Gung Wedha—sapaan akrab Gede Agung Wedhatama—mengatakan pupuk guano berasal dari kotoran burung liar dan kelelawar.

A.A. Gede Agung Wedhatama P. M.Eng., memproduksi pupuk organik dan hayati berbahan baku guano sejak 2014. (Dok. Trubus)

Menurut Wedha pupuk guano berhara paling tinggi dibandingkan dengan pupuk organik sejenis. Adapun pupuk guano yang paling sohor berhara paling tinggi yakni pupuk guano yang berasal dari kelelawar. Kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium dalam pupuk guano sangat ideal untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif, menyeimbangkan pH, serta mengaktifkan organisme baik.

Alasannya sumber makanan kelelawar meliputi biji-bijian dan buah. Kandungan mineral pupuk guano pun lengkap. Gung Wedha memperkaya pupuk guano itu dengan mikrob baik seperti Trichoderma sp., Rhizobium sp., dan Pseudomonas sp. sehingga bekerja lebih optimal. Bisa dibilang pupuk yang dipakai Nengah termasuk organik hayati. Nengah dan Gung Wedha meyakini mikrob baik seperti Trichoderma sp. bekerja dengan baik sehingga berperan mengatasi layu fusarium.

Menurut Djatnika kombinasi Trichoderma harzianum dan beragam teknik seperti solarisasi bisa menekan serangan penyakit layu fusarium hingga 30—40%. Ada beberapa cara trichoderma menekan layu fusarium yaitu memproduksi chitanase; beta 1,3 glukanase; dan mikoparasit; serta kompetisi penggunaan nitrogen dan karbon.

Kualitas pisang

Pupuk guano plus mikrob terbukti empiris melindungi pisang dari serangan layu fusarium. (Dok. A.A. Gede Agung Wedhatama P.)

Selain serangan layu fusarium berkurang, hasil panen di kebun pisang milik Nengah pun meningkat. Sebelum menggunakan guano ia hanya menuai maksimal 27 tandan per pekan. Kini Nengah memanen 30—50 tandan setiap pekan. Jumlah buah per tandan pun lebih banyak minimal 150 pisang dari 12 sisir. Bandingkan dengan budidaya pisang tanpa guano yang menghasilkan 80—97 pisang per tandan yang berisi 8 sisir. Kualitas buah pun lebih prima karena tidak ada pisang yang pecah sebelum diperam dan rontok ketika masak di tandan.

Dua hal itu lazim terjadi pada pisang yang ditanam memakai pupuk kimia. Padahal, konsumen sangat membenci kedua hal itu. Semua keunggulan itu bermuara pada pendapatan Nengah yang bertambah. Sejatinya ongkos produksi dengan penambahan pupuk guano lebih tinggi 25% daripada pemakaian pupuk kimia. “Penggunaan pupuk guano sangat ekonomis. Yang lebih asyik ketika kami memasarkan pisang karena produk itu tidak memakai kimia. Dengan begitu orang lebih percaya diri membeli pisang kami,” kata pria berumur 37 tahun itu. (Riefza Vebriansyah)

Previous articlePanen Buah Tepat Waktu
Next articleMenolak Timoho Punah
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img