Thursday, August 11, 2022

Menolak Timoho Punah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Timoho tanaman khas Daerah Istimewa Yogyakarta karena bernilai sejarah dan adanya pemanfaatan dalam bidang budaya.

Trubus — Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), Yogyakarta, Lukman Hakim, S.Hut., M.P., mengatakan bahwa pohon timoho bernilai filosofi dan keunikan. Pohon itu erat dengan sejarah dan budaya masyarakat Yogyakarta. Kayu timoho berwarna kuning pucat dengan urat hitam yang tidak merata berfaedah sebagai warangka atau sarung keris.

Sifat kayu tanaman anggota famili Malvaceae itu yang ringan dan lunak sehingga empu atau pembuat keris mudah mengolah menjadi warangka keris. Selain itu, serat kayu timoho bercorak unik (pelet) sehingga penampilan keris makin indah. Agus mengatakan, makin bagus corak timoho kian mahal harganya. Endah Endrawati dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan, warangka salah satu busana/kelengkapan keris karena berfungsi sebagai tempat menyimpan.

Agus Suryono membibitkan timoho dari anakan sejak 2004 agar tetap lestari.

Kayu bahan baku warangka pun mesti berkualitas khusus. Syaratnya antara lain kayu mengandung minyak sehingga tidak mudah menyebabkan keris berkarat. Kayu pun tidak mudah menyusut atau memuai akibat perubahan suhu serta mempunyai serat halus sehingga mudah dibentuk dan tidak mudah patah. Timoho tanaman yang memenuhi persyaratan itu selain cendana, jati, dan kemuning.

Masyarakat menggunakan warangka ketika menghadiri berbagai upacara resmi seperti menghadap raja untuk melengkapi busana adat. Dalam Senjata Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta, Dra. Sumintarsih dan rekan, menyatakan warangka dari kayu berpelet seperti timoho Kleinhovia hospita (namanya untuk menghargai C. Kleynhoff) dapat menambah kewibawaan dan keindahan keris serta berdaya sugesti tersendiri bagi pemiliknya.

Selain adanya pelet, mutu warangka juga dilihat dari jenis pelet. Pelet pada bagian muka warangka menjadi dasar penilaian. Ada beragam jenis pelet seperti sampir yang berarti terdapat pelet hitam di bagian kanan, trajumas (pelet di kanan dan kiri warangka), dan regem (pelet di tengah warangka). Menurut Sumintarsih dahulu seseorang mesti puasa atau semedi untuk memperoleh wahyu atau petunjuk gaib terkait pemilihan kayu yang berpelet.

Pembibitan timoho di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta.

Kini para pencari timoho mesti menebang tanaman kerabat kapas itu demi mengetahui ada tidaknya pelet. Sayangnya tidak semua timoho memiliki pelet. Artinya timoho yang tidak berpelet dan tertebang hanya menjadi kayu biasa. Dibiarkan saja tergeletak di tempatnya. Para pemburu timoho tidak mungkin membawa kayu tidak berpelet. Mereka hanya membawa timoho berpelet.

Harap mafhum lazimnya timoho tumbuh di tempat terpencil yang memerlukan tenaga ekstra untuk mencapainya. Tantangan yang mesti dihadapi demi mendapatkan kayu timoho berpelet salah satu alasan mahalnya harga kayu itu. Pasokan timoho saat ini berasal dari Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. “Teman-teman yang khusus mencari kayu timoho mengeluhkan susah mendapatkan kayu itu saat ini,” kata empu di Kotagede, Yogyakarta, Agus Suryono.

Ia rutin memelihara anakan timoho setiap musim hujan. Agus kerap memindahkan anakan timoho setinggi sekitar 15 cm yang tumbuh di bawah pohon rindang ke dalam polibag berisi tanah. Ia merawat pohon kecil itu dengan kesungguhan hati. Agus menyadari populasi tanaman kerabat waru itu di alam makin berkurang. Ia mengumpulkan anakan timoho agar tanaman itu tidak punah.

Lukman Hakim, S.Hut., M.P., peneliti konservasi sumber daya genetik di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta.

Yang paling istimewa Agus merasa upaya melestarikan timoho merupakan amanat mendiang sang ayah, Mugi Slamet. Sang ayah menanam sebatang timoho dari Wonosari di dekat rumah di Desa Banyusumurup, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, pada 1998—1999. Menurut Agus tanaman itu menjadi timoho pertama di desa yang sohor sebagai penghasil keris berkualitas itu.

Anakan dari tanaman itulah yang dipindahkan Agus ke polibag untuk dipelihara dan disebarluaskan ke berbagai daerah. “Lebih dari 300 bibit timoho saya tersebar ke berbagai daerah seperti Magelang, Surakarta, dan Purworejo,” kata anak keempat dari lima bersaudara itu. Ia memberikan bibit itu gratis kepada pengunjung “bengkel” keris milik Agus yang disebut Rumah Keris.

Agus juga menanam tanaman kerabat kembang sepatu itu di lahan kosong dekat tempat pembuatan keris miliknya di Desa Banyusumurup. Penanaman bibit timoho itu menjadi aktivitas tahunan Agus sejak 2016. Meski begitu baru belasan tanaman kerabat okra itu yang ditanam. Musababnya ia mengandalkan sisa bibit timoho yang tidak diambil pengunjung.

Lukman menuturkan adanya pergeseran nilai sosial dan pembangunan di perkotaan dan pedesaan pun berkontribusi terhadap menyempitnya keberadaan beberapa jenis tanaman di Yogyakarta termasuk timoho. Menurut ahli dendrologi dari Fakultas Kehutanan, UGM, Atus Syahbudin, S.Hut., M. Agr., Ph. D., timoho tanaman yang berguna secara khusus. “Tanaman itu dijaga, tapi tidak dibudidayakan secara besar-besaran,” kata Atus.

Atus Syahbudin, S.Hut., M. Agr., Ph. D., ahli dendrologi dari Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada. (Dok. Atus Syahbudin)

Ia sangat mendukung Agus mengembangkan tanaman kerabat kenaf itu. “Kelemahan masyarakat ketika menanam adalah asal menanam. Konsep kami di Fakultas Kehutanan menanam itu bagus. Namun, lebih bagus lagi jika tanaman yang ditanam itu memiliki materi genetik tinggi,” kata Atus yang meraih gelar doktor bidang Bioresource Sciences, Ehime University, Jepang, itu.

Menurut Atus untuk mendapatkan tanaman timoho bermateri genetik tinggi mesti dilakukan eksplorasi ke berbagai daerah. Setelah itu kawin silangkan induk dari beragam daerah sehingga lahirlah timoho bermateri genetik tinggi. Atus menuturkan upaya itu mesti dilakukan pemerintah dan akademisi lantaran memerlukan dana besar dan pengetahuan. Masyarakat hanya menerima dan menanam.

Atus sangat mendukung upaya Lukman dan tim dalam rangka penyelamatan tanaman kerabat tembakau itu. Lebih bagus lagi jika timoho yang dikumpulkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sejatinya persebaran timoho relatif luas di Indonesia. Tidak hanya di Yogyakarta. Masyarakat Ambon menyebut timoho sebagai katimahar dan kinar. Mangar sebutan timoho dalam masyarakat Lampung. Sementara warga Sumba menyebut timoho sebagai nundang.

Lukman dan tim mengumpulkan dan memperbanyak timoho secara vegetatif dan generatif sejak 2018. Perbanyakan vegetatif dapat dilakukan dengan setek batang, grafting, cangkok, dan kultur jaringan. Lukman memilih pengadaan bibit dengan metode setek karena pelaksanaannya lebih efektif, efisien, mudah, dan murah dibandingkan dengan teknik lainnya. Ia menggunakan anakan yang tumbuh pada batang pohon sebagai bahan setek.

Kini sekitar 400 timoho tertanam di Hutan Raya Bunder. Hal itu berdasarkan Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Pemerintah DIY dengan B2P2BPTH tentang Pemanfaatan Taman Hutan Raya Bunder untuk Konservasi Ex-Situ Jenis Tanaman Langka. Upaya konservasi untuk penyelamatan dan budidaya itu diharapkan dapat melestarikan tanaman yang bisa tumbuh setinggi 5—20 m itu. Harapan lainnya agar masyarakat DIY dapat memanfaatkan timoho dari aspek sosial, ekonomi, dan budaya.

(Dok. Lukman Hakim, S.Hut., M.P., dan Ragil Pinasti)

Selain di Desa Banyusemurup dan Taman Hutan Raya Bunder, pohon timoho dapat dijumpai di Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Arboretum Kantor B2P2BPTH Yogyakarta, Kampus Fakultas Kehutanan UGM, serta Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY. “Ada satu pohon timoho berusia tua yang diperkirakan berumur lebih dari 100 tahun di tengah Jalan Raya Sanden, Kabupaten Bantul”, kata Lukman. Atus mengatakan nasib timoho lebih terkenal daripada pohon mentaok.

Ada nama Jalan Timoho di Kota Yogyakarta. Jadi namanya masih tersimpan di nama jalan. Menurut guru besar bidang Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc., sebaiknya jalan atau tempat yang ditandai dengan nama jenis tanaman mesti disertai adanya tanaman itu. “Supaya masyarakat mengetahui wujud tanaman itu. Tidak hanya nama tanaman secara tertulis,” kata Prof. Timbul Haryono. Dengan begitu timoho pun bisa lestari di Yogyakarta. (Riefza Vebriansyah)

Previous articleBerkah Guano untuk Pisang
Next articleSadar Transgedik
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img