Monday, May 20, 2024

BRIN Teliti Suplemen Zinc dari Peptida Teripang

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Teripang salah satu sumber peptida. Peneliti di Pusat Riset Vaksin dan Obat Badan Riset dan Inovasi Nasional  (BRIN) Gita Syahputra meriset suplemen zink generasi ketiga dari peptida teripang.

Tujuannya untuk mengatasi defisiensi zink pada seribu hari pertama kehidupan (HPK) anak. Gita menggunakan metode komputasi dengan eksperimental di laboratorium.

Ia menuturkan pemanfaatan komputasi untuk menemukan protein target yang memengaruhi kekurangan zink dalam terapi tertarget dengan peptida terikat zink.

Penelitian dengan komputasi untuk melakukan simulasi kandidat suplemen agar sesuai kondisi tubuh. Sehingga dapat diprediksi mekanisme interaksi dengan protein target dan peptida pengikat zink yang sesuai dengan kondisi tubuh.

Lebih lanjut ia menuturkan penentuan protein target yang diperiksa untuk mengamati kekurangan zink pada manusia. Hal itu dipelajari menggunakan komputasi dengan teknik farmakologi jejaring—teknik komputasi untuk mengetahui hubungan antara gen target pada suatu penyakit dengan kandidat senyawa obat melalui pemanfaatan basis data.

Gen target yang diperoleh dilanjutkan dengn simulasi molekuler dengan pemanfaatan fasilitas High Performance Computing (HPC) BRIN. Perolehan dan pemurnian peptida dilakukan dengan pemanfaatan instrumen seperti ultrafiltrasi, RP-HPLC, dan LCMS/MS.

Karakterirstik peptida pengikat zink dilakukan dengan instrument SEM-EDS. Penelitian ini juga berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam pengujian potensi peptida pengikat zink sebagai suplemen zink dengan model hewan uji.

Berdasarkan hasil komputasi dengan farmakologi jejaring, diketahui bahwa gen SLC39A2/ZIP2 dan SLC39A4/ZIP4 merupakan protein transporter zink yang paling berperan dalam kekurangan zink, yang ditemukan pada membran usus.

Melanisr pada laman BRIN penelitian eksperimental di laboratorium itu menemukan enam buah peptida pengikat zink dari Holothuria scabra, yang telah berhasil dikarakterisasi dengan baik.

“Seluruh peptida tersebut telah berhasil dipatenkan dan sudah dievaluasi pada model hewan coba yang defisiensi zink, yakni pada anak tikus yang diperoleh dari induk dengan defisiensi zink. Sehingga, model yang dikembangkan sesuai untuk kondisi 1.000 HPK pada manusia,” ujar Gita.

Selanjutnya evaluasi dengan organ usus tikus (ex vivo). Hal itu sebagai landasan untuk melihat kemampuan daya serap zink. “Hasil temuan bahwa peptida pengikat zink memiliki absorpsi lebih tinggi di duodenum dibanding absorpsi suplemen zink generasi sebelumnya,” ujar Gita.

Dosis pemberian peptida pengikat zink pada anak tikus adalah 4 dan 40 mg/kg BB yang dibandingkan dengan ZnSO4. ZnSO4 merupakan sediaan yang saat ini berada di pasaran untuk mengatasi kekurangan zink.

“Hasilnya, peptida pengikat zink dari teripang ini berhasil meningkatkan kadar zink anak tikus yang kekurangan zink di usus dan di darah lebih baik daripada ZnSO4,” ujar Gita.

Ia menuturkan peptida pengikat zink dari teripang ini juga tidak mengganggu penyerapan zat penting lain seperti zat besi. Pemberian peptida pengikat zink cenderung mengembalikan berat badan anak tikus dengan kekurangan zink. Kondisi itu diikuti dengan kembali normalnya kadar beberapa protein transport zink di usus.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Harga Hingga Rp25 Juta, Kambing Hias Pigmi Incaran Pehobi

Trubus.id—Para pehobi menggemari kambing pigmi yang lucu sebagai kambing hias. Menurut pemilik Pet Icon Jogja di Kabupaten Sleman, Provinsi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img