Sunday, January 25, 2026

Berkelit dari Masa Sulit

Rekomendasi
- Advertisement -

Harry Wijaya meningkatkan omzet penjualan sarana penunjang walet dengan produk baru yang premium.

Trubus — Produsen sarana budidaya walet di Jakarta, Harry Wijaya, S,T., segera menghubungi kolega di Tiongkok ketika wabah korona atau Corona virus disease-19 merebak kali pertama di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada Januari 2020. Kolega asal negeri Tirai Bambu itu menginformasikan bahwa imbas pandemi tidak sekadar membahayakan kesehatan, tetapi pada jangka panjang berdampak pada ekonomi global.

Mesin suara premium kreasi Harry dinamai “lockdown”, menyasar konsumen dengan daya beli tinggi. (Dok. Harry Wijaya)

Saat itu pemerintah Indonesia belum mengumumkan darurat korona. Namun, pernyataan kolega Harry itu selalu terngiang. Oleh karena itu, Harry memutar otak. Saat itu ia berpikir pemilik gedung walet yang hasil panen sarangnya sedikit akan mengurangi pembelian sarana penunjang budidaya walet. Prediksi Harry tepat, pada 2020 imbas pandemi korona permintaan sarana penunjang gedung walet turun hingga 60%.

Produk baru

Harry mencontohkan permintaan pakan walet, misalnya, turun signifikan. Pada 2019 ia mampu menjual rata-rata 2 ton per bulan. Permintaan pada 2020 rata-rata 800 kg saban bulan. Harga per kilogram pakan walet kreasi Harry Rp 900.000 per kilogram. Begitu pula produk sarana penunjang gedung walet lainnya, antara lain parfum, antijamur, dan sarana penunjang suara (perekam, tweeter, dan penyaring suara,) pada Oktober 2020 rata-rata turun 60%.

Harry menduga penurunan permintaan karena banyak pemilik gedung yang enggan berpergian. “Banyak pemilik gedung walet justru tinggal di kota besar, mereka enggan berpergian atau sekadar menengok gedung walet saat pandemi,” kata alumnus jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan itu.

Olahan sarang walet untuk kosmetik kreasi Harry untuk 2021. (Dok. Harry Wijaya)

Meski demikian omzet Harry dari bisnis sarana penunjang walet masih sama dengan 2019. Itu berkat siasat Harry mengeluarkan produk premium yang menyasar konsumen prioritas atau konsumen kelas atas. Artinya harga jual produk relatif mahal dan daya beli mereka relatif tinggi. Itu karena konsumen lebih melihat mutu atau faedah dari produk dibandingkan dengan harga.

Salah satu produk premium kreasi Harry yang diluncurkan pada 2020 dinamai “lock down”, yakni serangkaian alat penarik burung menggunakan suara. Produk itu terdiri atas paket tweeter suara tarik dan mesin sensor suara. Peranti itu mengeluarkan suara penarik ke-4 arah mata angin. Kelebihannya bisa merekam suara alami walet dan memutarkannya sesuai dengan frekuensi yang dikehendaki walet.

Harry melengkapi alat itu dengan sensor khusus sehingga suara yang dikeluarkan tidak monoton. Harga jual produk mencapai Rp40 juta per unit. Pria kelahiran Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, itu mampu menjual 5 unit lock down per bulan. Selain itu saat pandemi Harry juga membuat produk lainnya berupa perekam suara bernama corona.

Tiga lapis

Fungsi peranti corona sebagai pengganti suara inap. Tujuannya membuat anakan makin betah menginap, karena suara yang dihasilkan persis seperti sahutan suara indukan. Harga jual perekam suara itu Rp 2 juta per unit. Menurut Harry permintaan perekam corona mencapai 50 unit per bulan. Perniagaan dua produk premium itu saja mampu menutupi permintaan produk lainnya yang menurun.

Pakan walet dengan kandungan nutrisi memadai. (Dok. Trubus)

Siasat lain Harry bekerja sama dengan beragam agen pengiriman barang. Harap mafhum, kadang-kadang ongkos kirim barang lebih mahal dibandingkan dengan harganya, terutama barang berukuran besar dan letak gedung waket di pelosok.

Solusinya Harry selalu menjaga hubungan baik dengan agen di daerah. “Kami kerja sama dengan semua agen pengiriman, sehingga bisa memilah agen mana yang lebih efisien untuk pengiriman jenis barang tertentu dan tujuan pengiriman,” kata Harry. Faedahnya bisa memangkas biaya kirim hingga 50%.

Siasat lainnya, Harry menerapkan manajemen tiga lapis. Ia membuat perputaran omzet menjadi tiga lapis dengan dana tersedia tiga kali lipat omzet. Jika omzet Rp100 juta, idealnya tersedia dana Rp300 juta. Lapis pertama untuk perputaran bisnis, lapis kedua dana cadangan untuk sosial, dan lapis ketiga pertahanan terakhir jika bisnis turun. “Penerapan manajemen cadangan itu wajib, sebab bisnis secara umum selalu mengalami kendala selang 5-7 tahun,” katanya.

Ia mencontohkan pada 2010—2011 harga sarang turun imbas kasus nitrit dan pada 2020 pandemi korona. Harry memprediksi bisnis sarana penunjang walet bakal bangkit kembali pada 2021. Pasalnya permintaan sarang walet makin meningkat saat pandemi. Harga sarang mencapai mutu premium mencapai Rp16 juta per kilogram di tingkat pemilik gedung. Melihat peluang itu, Harry pun mulai berkerasi membidik pasar hilir, yakni membuat kosmetik berbahan dasar sarang walet. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img